JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah padatnya lalu lintas Jakarta, sepeda masih sering dipandang sebatas alat olahraga atau hobi akhir pekan.
Namun bagi Bike to Work (B2W) Indonesia, sepeda seharusnya tidak berhenti pada citra sebagai alat olahraga atau hobi.
Lebih dari itu, sepeda seharusnya dipandang sebagai moda transportasi harian yang setara dengan kendaraan lain di jalan raya.
Ketua B2W Indonesia, Hendro Subroto, menegaskan bahwa gerakan ini sejak awal memang mendorong perubahan cara pandang masyarakat terhadap sepeda.
“B2W Indonesia itu lebih kepada gerakan, apapun jenis sepedanya, tapi melihat sepedanya itu sebagai alat transportasi. Gak cuma Sabtu dan Minggu, tapi kita melihat sepedanya sebagai alat transportasi, bukan untuk olahraga, bukan untuk senang-senang, tapi sebagai alat transportasi," ujar Hendro saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (24/1/2026).
Baca juga: Jalur Sepeda di Jakarta Kian Tergusur Motor
Menurut Hendro, pergeseran perspektif ini menjadi kunci jika sepeda ingin benar-benar diterima sebagai bagian dari sistem transportasi perkotaan, khususnya di Jakarta.
Menurut Hendro, B2W Indonesia terus mendorong anggotanya untuk menggunakan sepeda setiap hari, bukan hanya saat ada acara atau akhir pekan.
“Kita harus buktiin bahwa teman-teman sebagai penerima manfaat dari pembangunan pemerintah terhadap jalur sepeda dan segala macem, ya bukan cuma Sabtu dan Minggu," kata dia.
Upaya pun terus dilakukan, salah satunya dengan membangun kebiasaan bersepeda di hari kerja dan menunjukkan bahwa jalur sepeda memang dimanfaatkan secara konsisten oleh pesepeda, bukan hanya ramai saat akhir pekan.
"Makanya ada tuh yang sering ngumpul depan Panin dekat Bundaran Senayan, Rabu malam, itu orang pulang kerja, ngumpul di sana, mereka sepeda," kata dia. “Kalau misalnya jauh, ayo naik mix commuting lah ya, jadi digabung naik sepeda dengan transportasi publik," lanjutnya.
Tak Masalah Berbagi JalurBike to Work Indonesia menegaskan bahwa pesepeda pada dasarnya tidak menutup diri untuk berbagi ruang jalan dengan pengguna lain.
Namun, ada batasan yang dinilai krusial demi keselamatan bersama, terutama terkait pelanggaran arah di jalur sepeda.
Bagi pesepeda, kepatuhan terhadap aturan lalu lintas justru menjadi bentuk tanggung jawab moral agar jalur sepeda bisa diterima sebagai bagian dari sistem transportasi harian.
“Teman-teman pesepeda pun sebenarnya, mohon maaf ya, mungkin ada yang sepakat ada yang nggak sepakat, itu nggak masalah untuk berbagi jalan, tapi lebih keberatan dengan yang lawan arus tuh di jalur sepeda," kata Hendro.
Baca juga: Jalan DI Panjaitan Banjir dan Macet, Sepeda Motor Boleh Lawan Arus
Menurut dia, upaya mematuhi aturan lalu lintas kerap menuntut pesepeda melakukan hal yang tidak praktis.
Namun, langkah tersebut tetap dijalani sebagai bentuk kesadaran agar keberadaan pesepeda di ruang publik tidak menimbulkan masalah baru.
“Kami tuh, teman-teman tuh harus nyebrang naik JPO hanya untuk putar balik misalnya gitu kan, berusaha untuk taat aturan aja, itu memang harus dengan kesadaran,” kata dia.
Infrastruktur Memadai, Perawatan KurangSelain itu, ia menilai, jalur sepeda di Jakarta dinilai sudah matang dan menyeluruh.
Namun, masalah muncul ketika implementasi tidak dibarengi perawatan dan pengawasan yang konsisten, sehingga jalur yang sudah terbangun justru perlahan kehilangan fungsi dan rasa aman bagi pesepeda.
“Kalau rancangannya artinya masuk ke perencanaan itu semuanya menurut saya oke ya. Dari 614 km, ya rencana pembangunan jalur sepeda seluruh Jakarta gitu, itu kan udah terbangun 314 km," katanya.
Meski begitu, menurut dia, hingga kini belum ada penambahan panjang jalur sepeda baru.



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5484508/original/089372800_1769436147-Wamenhaj_Dahnil_Anzar_Simanjuntak_di_Asrama_Haji_Pondok_Gede__Jakarta__26_Januari_2026.__dok_Media_Center_Haji_2026__2.jpg)