Nilai Tukar Rupiah Rentan Terkoreksi Jelang FOMC Meeting The Fed (28/1)

bisnis.com
1 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah dinilai masih rentan mengalami depresiasi meski masih memiliki ruang penguatan dalam jangka pendek sejalan dengan proyeksi pelemahan dolar AS jelang FOMC Meeting dan aliran arus modal asing ke pasar keuangan Indonesia. 

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengatakan pergerakan rupiah masih dibayangi oleh risiko penekan. Menurutnya, pasar terus mencermati isu fiskal, termasuk wacana pelonggaran batas defisit 3%, serta ketidakpastian geopolitik global yang berpotensi kembali mendorong permintaan aset aman dan menekan mata uang negara berkembang. 

Selain itu, kemampuan Indonesia menarik arus modal masuk masih dibatasi oleh selisih suku bunga yang relatif ketat, meningkatnya persepsi risiko domestik, serta tekanan musiman. 

Pasalnya, kebutuhan impor menjelang hari besar keagamaan dan fase repatriasi dividen beberapa bulan setelahnya berpotensi meningkatkan permintaan valas. 

"Dengan kondisi tersebut, arah rupiah dinilai cenderung stabil hingga menguat tipis, namun dengan potensi pergerakan bolak-balik yang cepat apabila sentimen global atau isu fiskal memanas," ujarnya, Selasa (27/1/2026).

Baca Juga : Rupiah Ditutup Menguat Hari Ini (27/1), Dibanderol Rp16.768 per Dolar AS

Ke depan, lanjutnya, pasar menyoroti setidaknya tiga faktor utama. Pertama, arah dolar AS dan suku bunga global, mengingat perubahan nada kebijakan bank sentral AS kerap menjadi pemicu pembalikan arus modal.

Sebagai informasi, The Fed menggelar Federal Open Market Commitee (FOMC) Meeting pada 27-28 Januari 2026. The Fed diperkirakan menahan suku bunga Fed Rate pada awal tahun ini.

Kedua, konsistensi narasi fiskal dan pembiayaan, karena sinyal pelebaran defisit tanpa kejelasan sumber pendanaan mudah diterjemahkan sebagai peningkatan risiko, yang dapat mendorong kenaikan imbal hasil SBN dan menekan saham, terutama sektor yang sensitif terhadap biaya dana. 

Ketiga, faktor domestik yang lebih teknis tetapi menentukan pergerakan harian, seperti kebutuhan valas korporasi dan Badan Usaha Milik Negara atau BUMN, dinamika impor, serta seberapa besar cadangan devisa perlu digunakan BI untuk meredam gejolak.

Selain itu, dia menyebut pesan kunci bagi pasar relatif sederhana selama cadangan devisa efektif menahan volatilitas dan terpilihnya Deputi Gubernur Bank Indonesia yang baru terpilih memperkuat keyakinan terhadap arah kebijakan, rupiah dan pasar saham berpeluang melanjutkan perbaikan. 

Namun, jika risiko fiskal dan sentimen global memburuk, ruang penguatan akan cepat tertahan dan volatilitas berpotensi kembali meningkat.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat 0,08% ke posisi Rp16.768 per dolar AS pada Selasa (27/1/2026). Begitu juga dengan indeks yang mengukur kinerja dolar AS, turut menguat 0,17% ke posisi 97,20.

U.S. DOLLAR / INDONESIAN RUPIAH - TradingView

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Sebelum Ajukan Pinjaman, Cek Dulu Tabel KUR Mandiri 2026 di Sini!
• 1 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Penerbangan Dialihkan, Radar Menyala, Armada Berkumpul: Dunia Bersiap Menyambut Perang Timur Tengah
• 7 jam laluerabaru.net
thumb
Klasemen Sementara Super League pekan ke-18: Sengit di Atas, Tengah dan Zona Merah
• 21 jam lalumedcom.id
thumb
Sawit Ilegal Ditemukan di Hutan Lindung Bangka Barat
• 18 jam lalutvrinews.com
thumb
Ahok Jawab soal Pengawasan Saat Jadi Komut: Saya Paling Cerewet
• 4 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.