Alarm Keras dari Cisarua, Awas Longsor Serupa

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

NGAMPRAH, KOMPAS — Longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, harus menjadi alarm keras atas semakin tingginya kerentanan bencana di Kawasan Bandung Utara. Bila terus terlena, bencana serupa, bahkan yang lebih besar, sangat rawan terjadi.

Pakar hidrologi Universitas Padjadjaran Chay Asdak, Selasa (27/1/2026), menyampaikan pendapat itu menanggapi kejadian longsor dan banjir di Cisarua. Longsor di kaki Gunung Burangrang tersebut menimbun dua kampung di Pasirlangu.

Secara alamiah, kata Chay, kawasan itu memang berpotensi mengalami bencana. Selain faktor struktur geologi, kemiringan lahan juga turut berpengaruh.

“Hujan juga menjadi salah satu pemicu, meski saat kejadian curah hujan di lokasi baru mencapai sekitar 150 milimeter per hari,” kata dia.

Sebelumnya, Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi Lana Saria menyebut kondisi geologi di lokasi kejadian berupa batuan gunung api tua yang telah mengalami pelapukan. Selain itu, lokasi kejadian berada di lereng curam dengan kemiringan 8–40 derajat.

Pada beberapa bagian lereng, terutama di sekitar lembah dan punggungan bukit, dijumpai lereng sangat curam dengan kemiringan lebih dari 40 derajat. Keberadaan struktur geologi berupa rekahan dan sesar di kawasan itu juga membuat wilayah tersebut rawan longsor.

Baca JugaTrauma Longsor Cisarua Tak Usai Jua, Tua Muda Pun Kena

Namun demikian, Chay menekankan bahwa aktivitas manusia ikut memperbesar risiko bencana. Masuk dalam Kawasan Bandung Utara (KBU), wilayah longsor telah mengalami perubahan drastis. Permukiman hingga lahan pertanian berkembang pesat di kawasan tersebut.

“Dengan kondisi seperti itu, longsor ibarat tinggal menunggu waktu,” kata dia.

Ditanya mengenai mahkota longsor yang berada di kawasan hutan, Chay mengatakan, bencana tetap bisa terjadi. Menurut dia, hal itu dipengaruhi oleh kemiringan lahan dan struktur tanah.

“Namun, jangan dipahami jika longsor terjadi di hutan lalu solusinya mengganti kawasan itu dengan hortikultura. Cara berpikir seperti itu justru akan meningkatkan kerawanan bencana,” kata dia.

Berkaca dari berbagai faktor tersebut, ke depan, Chay mengatakan perlu ada langkah konkret untuk mengatasi ancaman bencana di KBU, baik melalui pendekatan sipil teknis maupun pengelolaan vegetasi.

Baca JugaDuka Keluarga Praka Kori, Anggota TNI AL Lampung Korban Longsor Cisarua

Pemerintah pusat sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pengelolaan KBU, menurut dia, harus berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menata masa depan kawasan tersebut agar lebih aman dan berkelanjutan.

“Harapannya, tidak ada lagi kekagetan-kekagetan saat longsor kembali terjadi di KBU,” kata Chay.

Sementara itu, hingga Selasa sore, Badan SAR Nasional (Basarnas) melaporkan sebanyak 47 kantong berisi jenazah telah diangkut dari lokasi longsor, sebanyak 27 di antaranya teridentifikasi. Dengan demikian, masih ada 33 jiwa yang dinyatakan hilang dan dalam pencarian.

Koordinator Misi Pencarian Basarnas di Longsor Cisarua Ade Dian Permana mengatakan, pencarian dilakukan di titik A1 dan A2 di sekitar bekas Kampung Pasir Kuning dan Pasir Kuda.

“Meski masih bergantung pada cuaca, kami akan terus mencari korban yang masih tertimbun. Diperkirakan masih ada 33 orang,” ujar dia.

Baca JugaMereka Selamat di Cisarua Berkat Buah Hati yang Terjaga hingga Sikap Siaga


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Waspadai Kenaikan Harga Pangan Jelang Ramadhan dan Lebaran 2026
• 2 jam lalukompas.id
thumb
Toyota Indonesia Respons Situasi Geopolitik Dunia, Incar Negara Global South
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
DPR Tegaskan Polri Tetap di Bawah Presiden, Tidak Berbentuk Kementerian
• 22 jam laluidxchannel.com
thumb
Viral Kakek Penjual Es Kue Jadul Dituduh Pakai Bahan Spons, Ternyata Tidak Terbukti dan Layak Konsumsi
• 4 jam lalubeautynesia.id
thumb
Purbaya Respon Soal Dirinya ‘di-Noel-kan’: Gaji Gue Gede Di Sini
• 18 jam lalueranasional.com
Berhasil disimpan.