Pukul lima pagi, saat kota masih setengah terjaga, trotoar sudah lebih dulu bekerja. Bukan oleh derap sepatu pejalan kaki, melainkan oleh tangan-tangan yang terbiasa akrab dengan fajar.
Seorang lelaki paruh baya mendorong gerobak kopinya perlahan. Rodanya berdecit pelan, membelah sunyi yang masih pekat. Ia berhenti di sudut yang sama—titik kecil tempat ia memarkir nasib setiap hari.
Ruang itu tidak luas; hanya cukup untuk satu gerobak, satu kompor kecil, dan dua bangku plastik. Namun, di ruang sesempit itu, hidupnya dirajut ulang setiap pagi.
“Yang penting dapat, buat makan hari ini,” gumamnya singkat, sembari menuangkan air panas ke dalam gelas yang mengepul. Seketika, aroma pahit kopi tubruk menguar, melawan bau tanah basah dan aspal dingin sisa hujan semalam.
Benteng Pertahanan TerakhirTrotoar, bagi banyak orang, hanyalah garis pembatas—tempat kaki melangkah, bukan tempat hidup menetap. Namun bagi sebagian pedagang kecil, trotoar adalah benteng pertahanan kehidupan terakhir.
Di sanalah mereka menjajakan sarapan murah, gorengan hangat, hingga jasa tambal ban di lapak seadanya. Tidak ada papan nama megah, apalagi algoritma promosi digital; yang ada hanyalah doa dan kepercayaan pada lalu-lalang manusia.
Menjelang jam tujuh, nadi kota mulai berdenyut kencang. Udara pagi berganti dengan aroma minyak goreng panas dan asap knalpot; bau khas perjuangan yang menyesakkan sekaligus menghidupi. Transaksi-transaksi kecil berulang: uang dua ribu hingga sepuluh ribu rupiah, dikumpulkan menjadi napas untuk hari esok.
Konflik dan Penggusuran
Ironisnya, di ruang yang sama, konflik kerap lahir. Trotoar dianggap mengganggu, semrawut, dan perusak estetika. Penertiban datang, lapak diangkut, dan harapan dibongkar paksa.
Tak banyak yang bertanya: setelah semuanya digulung habis, mereka harus ke mana? Bagi pedagang, berpindah bukan sekadar jarak, tapi kehilangan arus manusia dan pelanggan setia.
Mencari Jalan Tengah: Solusi Tata KotaPejalan kaki berhak atas kenyamanan, namun pedagang butuh kehidupan. Beberapa kota mulai mencari jalan tengah dengan pendekatan desain yang inklusif:
Zonasi Trotoar (Streetscape Zoning):
Trotoar dirancang lebih lebar dan dibagi menjadi tiga zona fungsi yang jelas:
Lajur Bangunan (Frontage Zone): Area dekat dinding toko/rumah untuk etalase, pintu akses, atau antrian singkat.
2. Lajur Jalan Kaki (Clear Walking Zone): Jalur inti yang wajib kosong dan bersih untuk berjalan kaki. Ini adalah area sakral bagi pedestrian.
3. Lajur Penyangga (Furnishing/Buffer Zone): Area dekat tepi jalan (curb) untuk pohon, lampu jalan, bangku, tempat sampah, parkir sepeda, dan bollard.
Pengaturan Waktu Operasional:
Waktu berjualan diatur secara manusiawi (misalnya sistem shift atau jam tertentu) agar tidak menghambat jam sibuk pejalan kaki.
Zona Ekonomi Mikro Terstandarisasi:
Menyiapkan kantong PKL (Pedagang Kaki Lima) di area Frontage Zone atau Buffer Zone, bukan mengambil alih jalur bersih (Clear Walking Zone), dengan standar kebersihan dan estetika yang ketat.
Prioritas Jalur Bersih:
Menegaskan bahwa Clear Walking Zone adalah area inti pejalan kaki yang 100% bebas dari PKL maupun parkir liar.
Refleksi: Ekonomi yang SunyiMemang belum sempurna, namun ada upaya untuk melihat trotoar sebagai ruang hidup, bukan sekadar jalur lalu lintas yang mati.
Pertumbuhan ekonomi tidak selalu lahir dari mal mewah atau proyek raksasa. Ia juga tumbuh secara sunyi di trotoar—di balik gerobak sederhana penjual yang tak pernah masuk laporan statistik, namun menjaga roda kota tetap berputar.
Trotoar bukan sekadar beton; ia adalah entitas kehidupan dan detak jantung yang terus berdenyut pelan serta menolak berhenti di tengah kerasnya kota.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5484754/original/097823900_1769483718-IMG_7126.jpg)


