Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meyakini nilai tukar rupiah bisa terkendali dengan sederet upaya yang dilakukan Bank Indonesia (BI) dalam menstabilkan nilai tukar rupiah.
Purbaya juga memastikan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) akan terus berkoordinasi dengan BI perihal stabilitas nilai tukar rupiah ini.
“Jadi bank sentral akan menjaga nilai tukar rupiah dan kita berkoordinasi terus dengan bank sentral. Saya pikir mereka cukup ahli dan saya akan serahkan ini ke bank sentral. Mereka cukup jago mengendalikan nilai tukar,” kata Purbaya di Kantor Kemenkeu, Selasa (27/1).
Mengutip Bloomberg, kurs USD/IDR tercatat di level 16.768 hari ini, menguat 0,08 persen.
Purbaya juga meyakini nilai tukar rupiah akan terus menguat sesuai dengan pernyataan Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
“Saya yakin, kan, Pak Gubernur tadi bilang menguat terus, dia bilang. Saya ikut dia aja,” tuturnya.
Dalam konferensi pers KSSK, Perry optimistis nilai tukar rupiah akan terus menguat meskipun pada Senin (26/1) rupiah sudah menyentuh angka Rp 16.770 per dolar AS.
“Ke depan, nilai tukar diperkirakan akan stabil dengan kecenderungan menguat didukung oleh imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, dan tetap baiknya prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia,” katanya.
Perry menjelaskan BI meningkatkan intensitas langkah-langkah untuk stabilisasi nilai tukar rupiah melalui intervensi Non-Delivery Forward di pasar luar negeri, maupun intervensi di pasar dalam negeri melalui transaksi spot dan Non-Delivery Forward, serta pembelian SBN di pasar sekunder.
Kemudian stabilisasi nilai tukar rupiah jika dilakukan melalui pengelolaan struktur suku bunga instrumen moneter dan swap valas untuk menjaga daya tarik aliran masuk portofolio asing ke aset keuangan domestik.
“Selain itu, Bank Indonesia juga memperluas instrumen operasi moneter valuta asing dengan instrumen spot dan swap dalam valuta Dolar AS, Chinese Yuan, dan Japanese Yen terhadap Rupiah yang terintegrasi dengan pengembangan pasar uang dan pasar valas untuk mendukung penguatan Local Currency Transaction,” jelasnya.
BI Lihat Masih Ada Kemungkinan Penurunan Suku Bunga AcuanDalam kesempatan yang sama, Perry juga menyebutkan BI melihat masih ada ruang penurunan suku bunga acuan atau BI Rate.
“Kami juga masih melihat ke depan ada ruang penurunan suku bunga lebih lanjut. Jadi kebijakan suku bunga kami adalah bagaimana karena inflasi inti kita rendah dan perlu mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi," kata Perry.
Menurut dia, arah kebijakan suku bunga ditetapkan dengan mempertimbangkan rendahnya inflasi inti serta kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
“Itulah stance dari kebijakan moneter, penurunan suku bunga, ekspansi likuiditas, dan tadi juga saya sampaikan termasuk juga pembelian SBN dari pasar sekunder dan pendalaman pasar uang,” jelasnya.
Lebih lanjut, Perry menjelaskan dalam merumuskan kebijakan moneter, BI akan melihat inflasi, nilai tukar, dan pertumbuhan ekonomi. Soal inflasi misalnya, Perry menyebutkan inflasi inti pada Desember 2025 terbilang rendah, yaitu 2,38 persen. Menurut dia, inflasi inti di bawah titik tengah sasaran.
Dia menyebutkan kondisi ini menunjukkan kapasitas ekonomi Indonesia masih jauh lebih besar dari realisasi pertumbuhan.
“Bank Indonesia memperkirakan bahwa kapasitas produksi nasional kita itu untuk dua tahun ke depan antara 5,8 sampai 6,2 persen. Nah, dengan pertumbuhan yang masih di bawah 5,8 sampai 6,2 persen itu menunjukkan kenapa inflasi inti kita rendah,” tuturnya.
Kondisi rendahnya inflasi ini juga yang membuat BI bisa menurunkan BI Rate selama lima kali pada 2025.
“Bahkan sejak September 2024, kami menurunkan suku bunga BI Rate menjadi 4,75 persen,” tutupnya.

/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F01%2F27%2Fb5921805521ae6cc4f91aa2ee65d79ab-WhatsApp_Image_2026_01_27_at_19.56.25.jpeg)


