MRT Serpong dan Balaraja Masuk Tahap Pengkajian, Mayoritas Dibiayai Swasta

kompas.com
23 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - PT MRT Jakarta (Perseroda) memastikan rencana perpanjangan jalur MRT ke Serpong, Tangerang Selatan, hingga Balaraja, Kabupaten Tangerang, telah memasuki tahap pengkajian melalui kerja sama dengan pengembang swasta.

Direktur Pengembangan Bisnis MRT Jakarta, Farchad Mahfud, mengatakan kajian kelayakan (feasibility study) untuk rute dari Stasiun Lebak Bulus ke Serpong dilakukan bersama Sinarmas Land dan ditargetkan rampung pada akhir 2026.

“Kita akan fokus pada joint study yang kita lakukan dengan mitra, Sinarmas Land untuk memfinalkan studinya di akhir tahun,” ujar Farchad dalam Forum Jurnalis di Transport Hub, Dukuh Atas, Jakarta Pusat, Selasa (27/1/2026).

Farchad menjelaskan, rute Lebak Bulus–Serpong diperkirakan memiliki panjang sekitar 22 kilometer dengan 10 stasiun dan satu depo.

Waktu tempuh dari Jakarta hingga Tangerang Selatan diproyeksikan hanya sekitar 36 menit.

Baca juga: Jalur MRT Timur–Barat Tomang–Medan Satria Segera Dibangun, Ini Rutenya

Meski demikian, ia menegaskan bahwa lokasi stasiun maupun jalur MRT masih bersifat sementara dan belum dapat dianggap final.

“Stasiunnya ini masih belum ditentukan, jalurnya pun masih belum ditentukan ya. Jadi tolong jangan di-quote ini sebagai jalurnya final. Di seluruh studi ini ingin memastikan jalurnya yang tepat itu seperti apa, demikian sehingga bisa layak dibiayai secara fully private fund,” lanjut dia.

Sementara itu, untuk rencana perpanjangan jalur MRT hingga Kabupaten Tangerang, tepatnya dari Kembangan ke Balaraja, MRT Jakarta akan segera menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan tujuh pengembang swasta guna melakukan pengkajian lanjutan.

“Kemudian persiapan signing MOU MRT East-West Line fase 2 yang di sisi Banten. Di mana kita ingin mendorong pengembangan menggunakan developer contribution. Tunggu saja tanggal mainnya nanti dari Pak Dirut saya kira akan ada pengumuman dalam waktu dekat,” ungkap Farchad.

Baca juga: Stasiun MRT Harmoni Bakal Jadi Kawasan TOD Strategis dan Paling Ramai, Ini Alasannya

Rute MRT Kembangan–Balaraja nantinya diperkirakan memiliki panjang sekitar 29,9 kilometer dengan 14 stasiun dan satu depo, yang seluruhnya dibangun menggunakan jalur layang.

“Mudah-mudahan ini bisa kita luncurkan pengembangan ini. Sehingga proses pembangunan timur-barat ini bisa dipercepat,” kata Farchad.

Direktur Utama MRT Jakarta, Tuhiyat, menambahkan bahwa rencana perpanjangan jalur MRT tersebut telah mendapat persetujuan dari Kementerian Perhubungan serta dikomunikasikan dengan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Gubernur Banten Andra Sony, dan para kepala daerah terkait.

Menurut Tuhiyat, kajian yang dilakukan mencakup berbagai aspek, mulai dari teknis pembangunan, skema pembiayaan, desain stasiun, hingga penentuan jalur.

Baca juga: MRT Bakal Bangun Jembatan Cincin Donat di Sudirman, Groundbreaking Mei 2026

Penandatanganan MoU dengan tujuh pengembang swasta untuk perpanjangan jalur MRT ke Balaraja ditargetkan berlangsung pada tahun ini.

“Kurang lebih dalam bulan-bulan inilah. Tunggu saja ya. Dari pemerintah situ, mohon doanya, mudah-mudahan bisa kita lakukan,” kata dia.

Terkait skema pembangunan, Tuhiyat menjelaskan bahwa MRT Jakarta mendorong efisiensi fiskal negara melalui kerja sama dengan pengembang swasta, khususnya dalam pembangunan stasiun.

Skema tersebut dapat dilakukan melalui Kerja Sama Pemerintah dengan Pihak Swasta untuk Utilitas/Stasiun (KPWU), di mana negara hanya membangun jalur kereta, sementara sebagian besar biaya pembangunan stasiun ditanggung pengembang.

Baca juga: Rano Karno Resmikan Tahilalats Station di Stasiun MRT Dukuh Atas BNI

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Tuhiyat merinci, sekitar 60 persen biaya pembangunan stasiun akan ditanggung oleh pihak swasta, sedangkan negara menanggung pembangunan jalur sekitar 40 persen dari total biaya.

“Ini signifikan untuk stasiun. Kalau kita bisa bangun titik-titik ini ya, itu 60 persen kos dan total kos. Sehingga negara tinggal jalurnya membangun 40 persen. Ini adalah skema yang coba kami dorong dalam langkah semangatnya untuk membangun infrastruktur massal, modern, tetapi dari sisi fiskal kita efisien,” ungkap Tuhiyat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Komisi V DPR Cecar Menteri PU soal Anggaran Penanganan Bencana Sumatera
• 22 jam laludetik.com
thumb
BMKG: Jakarta Hujan Seharian, Cek Titik Basah Pagi hingga Malam di 6 Wilayah Ini
• 10 jam lalukompas.tv
thumb
Sempat Dikabarkan Mangkir, Reza Arap Ternyata Sudah Jalani Pemeriksaan Terkait Meninggalnya Lula Lahfah, Polisi Beri 30 Pertanyaan
• 7 jam lalugrid.id
thumb
Luncurkan My Prime Hospital Network, MSIG Life Gandeng 260 Rumah Sakit
• 7 jam lalujpnn.com
thumb
Foto: Kawasan Padat Menteng Tenggulun Akan Dirancang Ulang Jadi Kampung Tematik
• 38 menit lalukumparan.com
Berhasil disimpan.