Komnas PA Catat Lonjakan Laporan Kekerasan dan Pelecehan Anak Sepanjang 2025

kompas.com
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com – Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mencatat lonjakan signifikan pengaduan pelanggaran hak anak sepanjang 2025.

Peningkatan ini terjadi seiring dibukanya akses pelaporan berbasis kecerdasan buatan melalui layanan AI Sahabat Anak (ASA) yang diluncurkan pada November 2025.

Ketua Komnas PA Agustinus Sirait mengungkapkan, sepanjang Januari hingga 31 Desember 2025, pihaknya menerima total 5.266 laporan pengaduan terkait hak anak. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Baca juga: Komnas PA Dorong Kebiri Kimia bagi Guru Pelaku Pelecehan di Tangsel

"Untuk kasus yang kami tangani dari Januari 2025 sampai 31 Desember 2025, terdapat sebanyak 5.266 laporan pengaduan hak anak. Angka ini meningkat dari tahun sebelumnya (2024) yang hanya 4.388 laporan pengaduan pelanggaran hak anak," ungkap Agustinus Sirait di kantor Komnas PA Jakarta Timur, Selasa (27/1/2026).

Agustinus menjelaskan, kekerasan terhadap anak masih mendominasi jenis pengaduan yang diterima Komnas PA sepanjang 2025. Dari total laporan, pengaduan terkait kekerasan fisik dan psikis mencapai 1.264 kasus, sementara kekerasan seksual tercatat sebanyak 2.948 aduan.

"Kasus pelanggaran hak anak sepanjang tahun 2025 masih banyak terjadi di lingkungan terdekat kita. Pelaku sebagian besar merupakan orang yang dikenal korban," jelas Agustinus.

Menurut dia, tingginya kasus kekerasan terhadap anak tidak terlepas dari persoalan relasi keluarga yang semakin kompleks.

"Ini mencerminkan semakin kompleksnya persoalan relasi keluarga, perceraian, serta konflik pengasuhan yang berdampak langsung terhadap pemenuhan hak anak dan kepentingan terbaik anak," ungkapnya.

Baca juga: Komnas PA Awasi Kasus Guru SD Negeri di Tangsel yang Diduga Lecehkan Murid

Berdasarkan data Komnas PA, lokasi terjadinya kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak paling banyak berada di lingkungan keluarga, yakni sebesar 59 persen.

Sementara itu, kejadian di lingkungan sekolah tercatat sekitar 5 persen, dan melalui media sosial mencapai 27 persen.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Dari sisi usia, korban terbanyak berasal dari kelompok usia 0–5 tahun sebesar 32 persen. Selanjutnya, kelompok usia 6–12 tahun dan 13–18 tahun masing-masing menyumbang 30 persen kasus.

"Berdasarkan jenis kelamin, anak perempuan masih menjadi kelompok yang paling rentan menjadi korban dengan persentase sebesar 53 persen, sedangkan anak laki-laki sebesar 47 persen," jelasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Bupati Boalemo Letakkan Batu Pertama Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih
• 6 jam lalutvrinews.com
thumb
Hadirkan akses aman, Polda Riau bangun jembatan di 26 titik
• 1 jam laluantaranews.com
thumb
Integritas Dipertanyakan, DPR Klaim Adies Kadir Mampu Jaga Kredibilitas Hakim Konstitusi
• 12 jam lalusuara.com
thumb
Terungkap! Tetangga RI Pakai "Kapal Hantu" Pasok BBM di Perang Saudara
• 4 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Inilah 5 Lokasi SIM Keliling di Jakarta Hari Ini, Lengkapi Seluruh Persyaratan
• 18 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.