REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Dalam kehidupan, setiap insan tak lepas dari kesalahan dan dosa. Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa taubat bukan sekadar ritual lidah, tetapi suatu perjalanan spiritual yang harus dilalui dengan segera, tulus, dan penuh kesungguhan.
Karena, karena semakin cepat kita memulainya, semakin cepat pula kita keluar dari jerat dosa dan kembali kepada Allah yang Maha Pengampun.
Menukil Sufiyajournal, al-Ghazali berpandangan bahwa taubat merupakan proses spiritual yang terdiri dari tiga unsur utama, yakni kesadaran akan dosa, taubat yang mendalam, dan tekad yang kuat untuk tidak mengulangi kesalahan.
Bagi al-Ghazali, taubat tidak hanya berfungsi sebagai pembersih dosa, tetapi juga sebagai sarana untuk menyucikan jiwa dan membentuk kepribadian yang saleh.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Berikut empat langkah menuju taubat sejati ala Imam al-Ghazali:
1. Mengakui Kesalahan sebagai Titik Awal Langkah pertama menuju taubat adalah menyadari secara jujur bahwa kita telah berbuat dosa. Al-Ghazali menekankan pentingnya kesadaran batin yang mendalam, bukan hanya rasa bersalah sekilas. Tetapi, pengakuan yang tulus bahwa perbuatan itu salah dan melukai hubungan kita dengan Allah. 2. Rasa Sesal yang Mendalam Taubat menurut Imam Al-Ghazali melibatkan rasa penyesalan yang nyata di dalam hati. Ini bukan sekadar merasa malu atau takut akibat konsekuensi, tetapi rasa sakit batin karena menyimpang dari cinta kepada Allah dan cahaya iman. Tanpa penyesalan yang kuat, taubat hanya menjadi formalitas. 3. Berhenti dari Dosa dan Menjauhinya Taubat yang benar menuntut putus hubungan dengan dosa itu sendiri. Kita tidak boleh terus melakukannya sambil berharap diampuni. Hentikan perbuatan dosa itu segera, karena hanya dengan berhenti melakukan kesalahan yang sama kita bisa memaksimalkan pengampunan-Nya. 4. Tekad Kuat untuk Tidak Mengulanginya Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa niat dan tekad untuk tidak kembali kepada kesalahan itu adalah bagian tak terpisahkan dari taubat. Ini bukan sekadar kata-kata kosong, tetapi keputusan hati yang mengatur ulang prioritas hidup seseorang menuju ketaatan dan kebaikan. 5. Perubahan Sikap dan Amalan Taubat sejati bukan hanya berhenti dari dosa, tetapi juga mengubah perilaku dan memperbanyak ketaatan. Al-Ghazali menekankan bahwa taubat harus diikuti dengan amalan baik yang mengokohkan kembali hubungan dengan Allah SWT. Itulah lima langkah menuju taubat menurut Imam al-Ghazali. Jadi, menurut al-Ghazali, taubat bukan sekadar menghapus dosa, tetapi membersihkan hati, memperteguh iman, dan menghidupkan kembali semangat spiritual seseorang dalam menjalani kehidupan sesuai dengan kehendak Allah. n/Muhyiddin
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5484559/original/056959900_1769451710-Edit_Jordy_Wehrmann_Bola_Break_22.jpg)


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5485621/original/068828500_1769516121-Foto_2.png)