JAKARTA, KOMPAS.com - Mantan Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menjadi saksi sidang kasus dugaan korups tata kelola minyak di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Selasa (27/1/2026).
Dalam kesaksiannya di muka sidang, Ahok blak-blakan soal pengalamannya selama menjadi pengawas perusahaan minyak pelat merah tersebut.
Ahok bercerita soal kondisi Pertamina yang berdarah-darah, alasannya mundur dari Pertamina, hingga permintaannya agar presiden diperiksa dalam kasus ini.
Baca juga: Jadi Saksi Sidang Kasus Minyak Mentah, Ahok: Kita Sampaikan Apa Adanya
Minta Presiden dan BUMN diperiksa
Mulanya jaksa mempertanyakan keterangan Ahok di dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang menyebut dua nama, yakni Djoko Priyono dan Mas’ud Khamid, keduanya merupakan mantan direksi di anak perusahaan Pertamina.
Djoko Priyono pernah menjabat Direktur Utama (Dirut) PT Kilang Pertamina Internasional tahun 2021-2022, sementara Mas’ud Khamid pernah menjabat sebagai Dirut PT Pertamina Patra Niaga (PPN) tahun 2020-2021.
Jaksa kemudian menanyakan apakah terdapat persoalan tertentu yang menyebabkan keduanya dicopot dari jabatannya.
Menjawab hal ini, Ahok menyebut keduanya adalah dirut hebat yang dimiliki Pertamina karena mau bekerja untuk memperbaiki produksi kilang.
Baca juga: Ahok Minta Presiden dan BUMN Diperiksa Usai Djoko Priyono Dicopot
Dalam konteks ini, Ahok bahkan menyebut Djoko adalah “orang kilang”.
Sebab, pengalamannya sebagai Komut Pertamina, Djoko kerap kali memberitahunya tentang kelemahan kilang.
Oleh karena itu, Ahok mengaku menangis usai mendengarkan informasi pencopotan terhadap Djoko.
“Saya telepon dia. Dia bilang gini, 'Pak, sudahlah Pak, saya di Yogya saja, kerja last saja' dia bilang. Saya pikir BUMN ini keterlaluan gitu lo, mencopot orang yang bukan meritokrasi. Kenapa orang yang mau melakukan yang saya lakukan dicopot?” ujar Ahok.
“Ini orang terbaik Pak Djoko itu, makanya saya tulis dicopot. Makanya saya selalu bilang sama Pak Jaksa, kenapa saya mau laporin ke Jaksa? Periksa tuh sekalian BUMN, periksa tuh Presiden bila perlu, kenapa orang terbaik dicopot?” imbuh dia.
Pertamina berdarah-darahAhok juga menyatakan bahwa kondisi Pertamina justru berdarah-darah di bawah kepemimpinannya.
Meski Pertamina menguasai pasar migas, pergerakan uang alias cash flow di perusahaan justru tidak terus mendapatkan untung.
Ahok mengatakan, kondisi kerugian yang dialami Pertamina disebabkan pemerintah meminta agar barang subsidi tidak boleh dinaikkan.
Oleh sebab itu, Pertamina kerap meminjam dana untuk menutupi kerugian perusahaan.
Baca juga: Saat Jadi Komut, Ahok: Kondisi Kami Itu Berdarah-darah!
"Di situlah kami terpaksa minjam uang dengan pendek, Direksi pinjam, kami setuju," kata dia.
Ahok mengaku sempat melaporkan persoalan tersebut kepada Presiden.




