Grid.ID - Perayaan Imlek dan Cap Go Meh memang sering disalahartikan. Padahal kedua hal itu sangat berbeda dan memiliki sejarah serta peringatannya sendiri di Indonesia.
Seperti diketahui, masyarakat Tionghoa akan segera merayakan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang jatuh pada Selasa, 17 Februari 2026. Warga keturunan Tionghoa biasanya merayakan Imlek selama 15 hari, kemudian ditutup dengan Cap Go Meh.
Imlek dan Cap Go Meh adalah hari penting bagi warga keturunan Tionghoa. Pasalnya, hari itu selalu dirayakan setiap tahunnya.
Meski begitu, perayaan Imlek dan Cap Go Meh memiliki perbedaan khusus. Lantas apa perbedaan Imlek dan Cap Go Meh? Simak penjelasannya berikut ini seperti dilansir dari Kompas.com.
1. Waktu
Salah satu perbedaan Imlek dan Cap Go Meh adalah dari waktunya. Menurut Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Ikatan Pemuda Tionghoa Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Glenn Wijaya, Imlek merupakan rangkaian perayaan tahun baru China.
Sedangkan, Cap Go Meh merupakan akhir dari rangkaian perayaan Imlek, yakni pada hari ke-15 bulan pertama kalender Lunar. Melansir dari China Highlights, Cap Go Meh selalu berada pada rentang tanggal 4 Februari hingga 6 Maret kalender masehi. Tahun ini, Cap Go Meh akan dirayakan pada Selasa, 3 Maret 2026.
“Imlek adalah rangkaian perayaan tahun baru, tetapi Cap Go Meh merupakan bagian dari Imlek itu sendiri. Sebab, Cap Go Meh menandakan akhir dari rangkaian perayaan, yakni hari ke-15,” terangnya kepada Kompas.com, Sabtu (21/1/2023).
2. Makna
Secara harfiah, Imlek dan Cap Go Meh memiliki makna yang berbeda. Kata Imlek berasal dari kata im yang berarti bulan dan lek bermakna penanggalan. Jadi, Imlek merujuk pada penanggalan bulan atau kalender lunar.
Sementara itu, Cap Go Meh berasal dari kata cap artinya sepuluh, go berarti lima, dan meh maknanya malam. Jadi, Cap Go Meh berarti malam ke-15 setelah Tahun Baru Imlek.
“Makna Imlek secara harfiah adalah kalender bulan atau kalender lunar. Kalau Cap Go Meh, makna harfiahnya adalah malam ke-15,” terangnya.
3. Sejarah
Menurut sejarah, perayaan Imlek sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu, seperti dikutip dari Kompas.com (6/1/2022). Perayaan ini bermula ketika warga keturunan Tionghoa kuno berkumpul untuk merayakan masa akhir panen.
Walau awal mulanya Imlek hanya dirayakan oleh warga keturunan Tionghoa di China, namun lambat laun tradisi ini dirayakan di berbagai negara. Menurut cerita rakyat kuno, ada binatang mengerikan yang selalu menakuti penduduk desa ketika Imlek, bernama nian.
Binatang ini dipercaya memiliki kepala seperti singa dengan tanduk tajam yang digunakan untuk menyerang mangsa. Makhluk mitologi ini keluar pada hari terakhir kalender lunar, pada tengah malam untuk memangsa penduduk desa, terutama anak-anak.
Pada suatu hari, seorang lelaki tua dengan rambut perak datang dan berjanji akan mengusir nian selamanya. Saat malam tiba, ia mengenakan pakaian merah, menyalakan lilin, dan petasan untuk menakuti nian.
Kemudian, warga keturunan Tionghoa mengikuti cara lelaki tua itu mengusir nian setiap malam Imlek. Mengutip Kompas.com (26/2/2021), tradisi Cap Go Meh diyakini berasal dari warga keturunan Tionghoa di daratan China Selatan.
Mereka meyakini pada hari ke-15 bulan pertama kalender lunar, para dewa keluar dari surga untuk membagikan keselamatan, kesejahteraan, dan nasib baik. Oleh sebab itu, warga keturunan Tionghoa tersebut merayakannya dengan menyalakan lampion, menggelar pertunjukkan barongsai dan liong, serta menyajikan makanan-makanan khas seperti lontong Cap Go Meh.
4. Tradisi perayaan
Cap Go Meh merupakan puncak perayaan rangkaian Tahun Baru Imlek. Melansir dari China Highlights, puncak perayaan Tahun Baru Imlek tersebut, ditandai dengan festival lampion, atau dikenal dengan nama Yuan Xiao Jie.
Lampion melambangkan bahwa warga Tionghoa telah melepaskan tahun lalu dan menyambut tahun baru dengan keberuntungan. Dihubungi terpisah, Sekretariat Badan Pengurus Perkumpulan Boen Tek Bio, Tedy Santibalo menjelaskan, lampion adalah simbol dari harapan warga Tionghoa pada tahun baru. Baik dari sisi kesehatan, rezeki, kesuksesan, dan aspek kehidupan lainnya yang lebih baik dari tahun sebelumnya.
“Tahun baru, harapan baru. Mengharapkan kemakmuran, rezeki , kesuksesan, kesehatan yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Harapan tersebut disimbolkan dengan penerangan kehidupan kita, dengan lampion sebagai penerangan kehidupan,” jelasnya kepada Kompas.com, Kamis (19/1/2023).
“Masyarakat Tionghoa percaya bahwa lampion memberi jalan dan menerangi rezeki bagi penggunanya,” imbuhnya.
Festival lampion itu turut dimeriahkan dengan penampilan barongsai dan liong. Warga keturunan Tionghoa juga menyajikan aneka hidangan khas Imlek seperti kue keranjang, jeruk mandarin, pangsit, dan lainnya.
Demikianlah 4 perbedaan Imlek dan Cap Go Meh yang sering disalahartikan. (*)
Artikel Asli




