China tak lagi menjadi penyandang dana utama bagi negara-negara Afrika. Dalam satu dekade terakhir, perannya berbalik menjadi penagih utang, dengan perubahan arus dana mencapai sekitar USD 52 miliar.
Berdasarkan laporan “The Great Reversal” yang disusun ONE Data untuk Development Finance Observatory, inisiatif yang dibentuk oleh Google.org, ONE Data, dan The Rockefeller Foundation, China tercatat menyalurkan arus pendanaan bersih sebesar USD 30,4 miliar dalam lima tahun hingga 2014. Namun dalam lima tahun terakhir, arus tersebut berbalik arah dengan China justru menarik pembayaran utang bersih sebesar USD 22,1 miliar.
Dikutip dari Bloomberg, Rabu (28/1), perubahan ini mencerminkan pergeseran strategi pemerintah China, dari pemberi pinjaman jumbo bernilai miliaran dolar AS kepada pemerintah Afrika menjadi pemberi pinjaman proyek-proyek yang lebih kecil, sekaligus lebih fokus pada penagihan kewajiban utang. Pergeseran ini berdampak luas terhadap perekonomian di berbagai negara di benua tersebut.
Tren tersebut terlihat jelas dalam data historis yang dikutip dari Reuters. Pada periode 2010-2014, Afrika masih mencatat arus dana bersih masuk sekitar USD 30 miliar dari China. Arus pendanaan bahkan mencapai puncaknya pada 2015-2019, dengan net inflow sekitar USD 34 miliar.
Namun pada 2020-2024, situasinya berbalik tajam yaitu dana masuk dari China turun menjadi USD 23,4 miliar, sementara arus keluar melonjak ke USD 45,4 miliar, menghasilkan arus dana bersih keluar sekitar USD 22 miliar.
Penurunan pembiayaan China juga tercermin dalam laporan Boston University’s Global Development Policy Center, yang mencatat pinjaman China ke Afrika anjlok dari USD 28,8 miliar pada 2016 menjadi hanya USD 2,1 miliar pada 2024.
Sebaliknya, lembaga pembiayaan multilateral justru semakin dominan. ONE Data mencatat, pemberi pinjaman seperti World Bank meningkatkan pembiayaan bersih ke negara-negara berkembang sebesar 124 persen dalam satu dekade terakhir. Pada periode 2020-2024, total pendanaan multilateral mencapai USD 378,7 miliar, setara 56 persen dari total arus dana bersih global atau dua kali lipat pangsa mereka dibandingkan sepuluh tahun lalu.
Namun, data tersebut belum mencerminkan dampak pemangkasan bantuan yang mulai berlaku pada 2025. Penutupan U.S. Agency for International Development (USAID) tahun lalu, serta penurunan alokasi bantuan dari negara maju lainnya mulai menekan negara-negara berkembang, khususnya di Afrika. McNair memperkirakan, ketika data 2025 tersedia, akan terlihat penurunan tajam dalam arus Official Development Assistance (ODA).
Ia menilai tren ini merupakan dampak negatif bersih bagi negara-negara Afrika karena mempersempit ruang fiskal untuk membiayai layanan publik dan investasi. Di sisi lain, berkurangnya ketergantungan pada pembiayaan eksternal juga berpotensi mendorong akuntabilitas domestik, seiring pemerintah dipaksa mengandalkan sumber pendanaan dalam negeri.




