Komisi X DPR menggelar rapat kerja dengan BRIN pada Selasa (27/1) di gedung DPR RI. Rapat dipimpin langsung Ketua Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian. Kepala BRIN Arif Satria juga hadir.
Berbagai hal dibahas dalam rapat tersebut. Mulai dari permintaan penanganan bencana hingga mengatasi darurat sampah.
Berikut rangkuman isi rapat tersebut:
Bicara Sumbatan Inovasi di DaerahKomisi X menyoroti masih banyaknya hambatan dalam pengembangan inovasi di daerah. Menurutnya, berbagai inovasi yang lahir di daerah kerap tidak berkelanjutan meski memiliki potensi besar untuk dikembangkan.
"Satu hal yang saya ingin titipkan adalah satu temuan yang perlu didalami dari buku saya itu saya menemukan ada beberapa hal yang sifatnya itu mungkin mendorong adanya inovasi di daerah, salah satunya tentu political will atau kemauan dari kepala daerah," ujar Hetifah.
Ia menilai, komitmen pimpinan daerah menjadi faktor penting dalam memastikan inovasi dapat berjalan dan berkembang. Namun, Hetifah mengungkapkan persoalan utama justru muncul pada tahap keberlanjutan.
"Problem yang dihadapi Prof, justru banyak sekali ternyata inovasi-inovasi yang bagus tidak berkelanjutan, jadi banyak sumbatan-sumbatan dari inovasi itu, salah satunya terkait dengan regulasi," katanya.
Ia menilai regulasi kerap menjadi penghambat alih-alih pendorong inovasi. Hetifah menekankan, persoalan inovasi bukan semata-mata soal kapasitas sumber daya manusia.
"Jadi banyak sumbatan-sumbatan dari inovasi itu, salah satunya terkait dengan regulasi. Jadi yang penting itu bukan soal SDM punya ide atau tidak tetapi bagaimana insentif, aturan-aturan yang ada keberanian itu bisa muncul supaya suatu inovasi ini bisa dilaksanakan dan terus dipertahankan," terang dia.
Minta Petugas BRIN Dikembalikan ke DaerahAnggota Komisi X DPR RI Fraksi PAN Muslimin Bando meminta agar petugas Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali ditempatkan di daerah. Ia menekankan, riset dan inovasi tidak boleh berhenti sebatas kajian akademik.
"Cuma saja hasil riset dan inovasi yang kita hasilkan ini, Ini kan bukan sekadar untuk kepentingan penelitian, tetapi untuk dimanfaatkan, dilaksanakan oleh masyarakat misalnya dalam bidang-bidang perkebunan bidang-bidang pertanian, perikanan, perkebunan obat-obatan, bibit dan sebagainya," ujarnya.
Ia mengaku selama ini masyarakat dan daerah kesulitan berkomunikasi dengan BRIN.
"Yang terasa bagi kami selama ini ialah kami berjauhan dengan petugas BRIN begitu, Jadi di mana kita harus mengadu? Di mana kita harus bertanya?" kata Muslimin.
Muslimin menyinggung kebijakan beberapa tahun terakhir yang menarik seluruh petugas BRIN ke pusat. Ia mempertanyakan dasar kebijakan tersebut dan mendorong agar petugas kembali disebar.
"Karena kebijakan tahun-tahun kemarin ditarik semua ke Jakarta sini itu petugas BRIN tapi mohon maaf ini kalau sudah dikembalikan semua, ini saya mau tanya kepada Prof di [gedung] Habibie kemarin itu kami sudah pertanyakan, bagaimana kalau dikembalikan ke daerah petugas-petugas itu sehingga kalau kami mau bertanya dekat-dekat kami bertanya," ucap dia.
BRIN Diminta Bantu Cari Korban Longsor CisaruaWakil Ketua Komisi X DPR RI My Esti Wijayati meminta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) segera memanfaatkan teknologi yang dimiliki mereka untuk membantu pencarian korban bencana di wilayah Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.
"Pak Arif Satria kemarin menyampaikan kepada kami terkait dengan ground penetrated radar (GPR) yang untuk bisa mencari mayat di kedalaman puluhan meter," kata My Esti.
Menurut Esti, teknologi tersebut sangat dibutuhkan mengingat banyaknya korban dalam satu lokasi bencana. Ia menambahkan, musibah besar yang terjadi di Cisarua menuntut adanya respons cepat dari seluruh pihak.
"Saat ini sedang terjadi musibah besar yang langsung di satu lokasi itu begitu banyak korban yaitu di Cisarua, kami berharap BRIN mengambil langkah cepat untuk ini," ujarnya.
BRIN Diminta Gencarkan Riset Berkelanjutan di Daerah Rawan BencanaAnggota Komisi X DPR RI Fraksi Partai NasDem Nilam Sari Lawira meminta agar riset kebencanaan dilakukan secara berkelanjutan, khususnya di daerah-daerah rawan bencana. Ia menilai, sebaran pusat kolaborasi riset saat ini belum sepenuhnya mencerminkan prinsip keadilan.
"Saya sedikit menyoroti masalah sebaran dan kebermanfaatan pusat kolaborasi riset, ini selintas sepertinya belum mencerminkan prinsip keadilan khususnya afirmasi daerah tertinggal termasuk kawasan Indonesia Timur," ujar Nilam.
Sebagai wakil rakyat dari dapil Sulawesi Tengah, Nilam berharap wilayah tersebut mendapat prioritas ke depan. Sebab daerah tersebut memiliki nilai strategis yang besar, baik dari sisi pangan, kelautan, maupun keanekaragaman hayati. Selain itu, daerah tersebut juga dikenal sangat rawan bencana.
"Maka kami berharap ada riset riset berkelanjutan bagi daerah-daerah yang rawan bencana. Karena kita tahu Indonesia ini dikelilingi oleh ring fire ya yang hampir di semua daerah punya potensi untuk terjadi bencana baik likuifaksi longsor banjir dan lain sebagainya gempa bumi terutama," pungkasnya.
BRIN Beberkan Langkah Buat Atasi Darurat SampahAnggota Komisi X DPR RI Fraksi Partai Gerindra Ali Zamroni menyoroti kondisi darurat sampah yang terjadi di sejumlah daerah, khususnya di Provinsi Banten.
"Beberapa daerah termasuk di wilayah saya itu secara keseluruhan wilayah provinsi Banten itu darurat sampah Prof, beberapa pemerintah daerah itu kebingungan bagaimana mengelola sampah terutama di daerah Tangerang Raya," kata Ali.
Menurutnya, keterbatasan tempat pembuangan dan mahalnya teknologi pengolahan sampah menjadi kendala utama yang dihadapi daerah.
Karena itu, Ali mendorong BRIN untuk aktif bekerja sama dengan pemerintah daerah dalam mencari jalan keluar atas persoalan tersebut.
Menanggapi hal tersebut, Kepala BRIN Arif Satria menjelaskan pihaknya telah mengembangkan sejumlah riset yang berdampak langsung terhadap pengelolaan sampah seperti pirolisis.
"Pirolisis yang sama kita sekaligus menjawab pertanyaan sampah di Banten sampah pirolisis itu kan limbah plastik bisa menjadi BBM, bisa menjadi solar sekarang sudah diterapkan di hampir mohon maaf kalau saya salah sekitar 60 titik kalau nggak salah," lanjut Arif.
Selain pirolisis, BRIN juga mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).
"Nah kemudian yang berikutnya lagi adalah PLTSa, pembangkit listrik tenaga sampah, nah Kami punya prototipe yang ada di Bantar Gebang, nah ini sekarang tinggal kita kembangkan lagi moga-moga itu bisa menjadi solusi," tandasnya.



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5485500/original/031353400_1769508874-ee9869d7-32c0-48f4-b373-1ce6e9a34d88.jpg)
