Potret Ekonomi Jawa Tengah: Pertumbuhan Tetap Terjaga, Pariwisata Kembali Bergeliat

kompas.id
9 jam lalu
Cover Berita

Perekonomian Jawa Tengah tetap menunjukkan kinerja yang solid di tengah berbagai tantangan, termasuk penyesuaian kebijakan fiskal nasional yang berdampak pada transfer ke daerah. Pariwisata menjadi salah satu sektor yang turut menunjang perekonomian masyarakat di Jateng.

Angin segar berembus dari Jateng sepanjang tahun 2025. Di tengah dinamika perekonomian nasional dan global, Jateng terus maju menjadi provinsi yang kompetitif dan inklusif dalam turut menggerakkan motor pertumbuhan ekonomi nasional.

Di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin, berbagai indikator makro sosial ekonomi tetap terjaga dan menunjukkan perbaikan, mulai dari pertumbuhan ekonomi, investasi, pariwisata, hingga penurunan angka kemiskinan dan pengangguran.

Pertumbuhan ekonomi Jateng berada di kisaran 3,59 persen hingga 5,8 persen selama 20 tahun terakhir. Meskipun ada kebijakan pemerintah pusat yang memangkas anggaran transfer ke daerah (TKD), pertumbuhan ekonomi di Jateng pada 2025 diperkirakan masih terjaga di angka 5,21 persen atau naik dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 4,95 persen. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi nasional pada 2025 diperkirakan dalam kisaran 4,7-5,5 persen.

Berdasarkan data BPS, dari 35 kota/kabupaten di Jawa Tengah, ada tiga wilayah yang berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi provinsi. Ketiga wilayah itu adalah Kota Semarang dengan  kontribusi sebesar 14,73 persen, Kabupaten Cilacap menyumbang 7,49 persen, dan Kabupaten Kudus sebesar 7,08 persen. Adapun 32 kota/kabupaten lainnya rata-rata berkontribusi di bawah 5 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Jateng.

Baca JugaMenanti Pariwisata Kembali Bersemi di Borobudur

Kontribusi utama ekonomi Jawa Tengah didominasi oleh empat lapangan usaha. Terdiri dari industri pengolahan yang menyumbang 33,43 persen; perdagangan besar-eceran dan reparasi mobil-sepeda motor 13,44 persen; pertanian, kehutanan, dan perikanan 12,88 persen; serta sektor konstruksi 11,82 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga mendominasi perekonomian Jateng dengan sumbangan mencapai 60,64 persen.

Jumlah tenaga kerja sektor industri dan perdagangan di Jateng juga cenderung meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Saat ini, jumlah tenaga kerja sektor industri dan perdagangan menyerap tenaga kerja sebesar 40,99 persen. Sementara itu, penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian sebesar 26,24 persen.

Secara umum, tingkat pendapatan masyarakat Jateng terus kian membaik. Indikasinya terlihat dari produk domestik regional bruto (PDRB) per kapita selama 2024 yang sebesar Rp 47,97 juta atau naik dibandingkan tahun 2023 yang sebesar Rp 45,16 juta.

Investasi

Melesatnya pertumbuhan ekonomi Jateng berpengaruh pula terhadap geliat investasi di provinsi ini. Pasalnya, Jateng memiliki daya tarik yang tinggi sebagai salah satu destinasi investasi unggulan di Indonesia. Stabilitas ekonomi daerah, kemudahan perizinan, dan infrastruktur yang memadai menjadi fondasi kuat dalam menjaga kepercayaan investor dari dalam ataupun luar negeri.

Hal itu tampak dari tren positif investasi di Jateng yang terus berlanjut sepanjang tahun 2025. Berdasarkan rilis Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi di Jateng mencapai Rp 88,50 triliun atau melampaui target yang ditetapkan sebesar Rp 78,33  triliun. Nilai ini merupakan yang tertinggi dalam satu dasawarsa terakhir. Apabila dibandingkan dengan tahun 2024, realisasi investasi Jateng meningkat Rp 19,83 triliun (28,88 persen).

Dari jumlah itu, penanaman modal asing (PMA) tercatat sebesar Rp 50,86 triliun dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp 37,64 triliun. Dari sisi aktivitas usaha, total yang terealisasi mencapai 105.078 proyek dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 418.138 orang.

Baca JugaMengapa Ratu Belanda Berkunjung ke Pabrik Garmen dan Kampung Batik di Jateng?

Kota Semarang, Kabupaten Kendal, Demak, dan Batang tercatat menjadi daerah dengan kontribusi investasi terbesar dengan dominasi arus investasi pada sektor industri pengolahan

Hasil capaian tersebut sebagai buah dari konsistensi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam menciptakan iklim investasi yang aman, mudah, dan kompetitif. Lonjakan ini juga tidak lepas dari percepatan perizinan, penguatan kawasan industri, serta stabilitas daerah. Pertumbuhan investasi tersebut menunjukkan kepercayaan investor terus menguat.

”Kami berkomitmen menjadi manager marketing investasi yang menjamin kepastian hukum, keamanan, dan kemudahan berusaha. Investor harus merasa nyaman menanamkan modalnya di Jawa Tengah,” kata Ahmad Luthfi seperti dikutip siaran pers, Selasa (20/1/2026).

Kemiskinan dan pengangguran

Dampak positif pertumbuhan ekonomi dan investasi juga tecermin pada penurunan angka kemiskinan dan pengangguran. Data BPS Jawa Tengah menunjukkan, persentase penduduk miskin turun dari 9,58 persen pada September 2024 menjadi 9,48 persen pada Maret 2025.

Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Jawa Tengah pada Agustus 2025 tercatat sebesar 4,66 persen atau turun 0,12 persen poin dibandingkan pada Agustus 2024. Jumlah angkatan kerja mencapai 22,34 juta orang, dengan jumlah pengangguran sebanyak 950.000 orang pada Februari 2025 (4,33 persen) dan berfluktuasi hingga Agustus 2025.

Adapun upaya Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam membangun fondasi ekonomi dari tingkat desa mulai menunjukkan hasil nyata. Hal ini terbukti dari lonjakan status kemandirian desa di seluruh wilayah provinsi tersebut.

Baca JugaMengapa Wisata Olahraga Sekarang Diminati?

Berdasarkan data terbaru Indeks Desa (ID) 2025, jumlah desa mandiri di Jateng tercatat melonjak drastis menjadi 2.208 desa. Angka ini meningkat tajam jika dibandingkan dengan data pada 2024 yang hanya mencatatkan 1.530 desa mandiri.

Dalam Indeks Desa terbaru, kemajuan sebuah desa diukur melalui enam dimensi penilaian utama. Keenam dimensi tersebut meliputi layanan dasar, sosial, ekonomi, lingkungan, aksesibilitas, serta tata kelola pemerintahan desa.

Berdasarkan ID 2025, Jawa Tengah memiliki 2.208 desa mandiri, 3.921 desa maju, 1.666 desa berkembang, dan 15 desa tertinggal. Desa dengan status sangat tertinggal sudah tidak ada. Lonjakan desa mandiri ini menunjukkan pembangunan desa di Jateng berjalan ke arah yang tepat dan semakin merata.

Pariwisata

Sektor pariwisata juga menjadi salah satu lokomotif pertumbuhan ekonomi di Jateng. Melalui pendekatan pengembangan kawasan berbasis aglomerasi serta penguatan desa wisata, Jateng berhasil mencatatkan kinerja pariwisata tertinggi di tingkat nasional.

Capaian positif tersebut tecermin dari data kinerja pariwisata sepanjang 2024. CNBC Indonesia Research mencatat, kontribusi sektor pariwisata Jateng mencapai Rp 2,77 triliun dan menempatkannya di posisi teratas secara nasional.

Pada 2025, sektor pariwisata di Jawa Tengah juga menunjukkan geliat positif. Tingkat kunjungan wisatawan, baik mancanegara maupun Nusantara, tercatat tetap tinggi. Data BPS menunjukkan jumlah kunjungan wisatawan Nusantara ke Jateng mencapai 68,88 juta orang atau meningkat 22 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, kunjungan wisatawan mancanegara mengalami kenaikan signifikan sebesar 28 persen menjadi 593.168 orang.

Baca JugaWisata Olahraga, Wajah Baru Pariwisata Indonesia

Peningkatan di sektor wisata tersebut tampaknya tidak terlepas dari keunggulan strategisnya di tengah Pulau Jawa. Selain itu, daerah ini juga memiliki kekayaan destinasi yang memungkinkan pengembangan kawasan aglomerasi pariwisata. Beberapa wilayah unggulan, seperti Kopeng, Borobudur, dan Rawapening, dikembangkan sebagai pusat-pusat wisata yang saling terhubung sehingga mampu memperpanjang lama tinggal wisatawan dan meningkatkan belanja sektor pariwisata.

Selain kawasan aglomerasi, pengembangan desa wisata menjadi fokus utama dalam mendorong pemerataan ekonomi. Saat ini, Jateng memiliki sekitar 1.000 desa wisata yang telah masuk dalam ekosistem pembangunan pariwisata daerah.

Pengembangan desa wisata tersebut dilakukan secara bertahap melalui pembinaan berjenjang. Pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota telah menetapkan desa wisata melalui surat keputusan kepala daerah sebagai dasar pendampingan, promosi, dan peningkatan kualitas layanan.

Pengembangan desa wisata tersebut dapat membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta memperkuat identitas lokal. Wisatawan tidak hanya berkunjung, tetapi juga berinteraksi langsung dengan masyarakat setempat.

Terlebih lagi, pariwisata di Jateng memiliki peran strategis dalam mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD) sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat hingga ke tingkat desa. Oleh karena itu, Pemprov Jateng fokus memperluas destinasi wisata yang berakar pada potensi lokal dan kearifan daerah.

Baca JugaKontribusi Bank Jateng Borobudur Marathon bagi Ekonomi Rakyat

Di sisi lain, Pemprov Jateng juga mengembangkan variasi produk wisata untuk menjangkau segmen pasar yang lebih luas. Tidak hanya mengandalkan wisata alam dan sejarah, Jateng kini memperkuat wisata kuliner, budaya, hingga wisata ramah Muslim sebagai bagian dari strategi peningkatan daya saing.

Sepanjang tahun 2026 ini, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyiapkan 365 event yang akan berlangsung di 35 kabupaten kota provinsi tersebut. Agenda lengkap ini telah masuk ke dalam Jawa Tengah Calendar of 2026 yang memuat rangkaian kegiatan mulai dari seni budaya hingga pariwisata olahraga.

Sementara itu, pembangunan jalan Tol Trans-Jawa, pengembangan bandara, dan modernisasi stasiun kereta api juga akan meningkatkan konektivitas antardaerah wisata. Investasi di bidang akomodasi, transportasi wisata, atraksi buatan, dan ekonomi kreatif tampaknya memiliki prospek cerah. (LITBANG KOMPAS)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Thailand Masters 2026: Rian/Rahmat Kerja Keras Tembus Babak Kedua
• 9 jam lalumedcom.id
thumb
Menteri PU prioritaskan akses air bersih daerah bencana jelang puasa
• 6 jam laluantaranews.com
thumb
Karhutla Terjadi di Kabupaten Kotim Diduga Akibat Puntung Rokok
• 23 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Komnas PA Catat Lonjakan Laporan Kekerasan dan Pelecehan Anak Sepanjang 2025
• 21 jam lalukompas.com
thumb
Google Akui Dekati Kemendikbud Sejak Sebelum Era Nadiem untuk Pengadaan
• 14 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.