Rupiah menguat seiring kepastian arah suku bunga Fed akan longgar

antaranews.com
4 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Rabu, bergerak menguat 36 poin atau 0,21 persen menjadi Rp16.732 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.768 per dolar AS

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan penguatan rupiah dipengaruhi kepastian arah kebijakan Federal Reserve (The Fed) akan longgar.

“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat di kisaran Rp16.710- Rp16.770 dipengaruhi oleh global melemahnya index dollar menjelang rapat The Fed besok waktu AS. Walaupun diperkirakan The Fed tidak mengubah bunga acuan, namun arah kebijakan The Fed ke depan dipastikan akan longgar,” ungkapnya kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.

Mengutip Anadolu, Federal Reserve diprediksi akan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5-3,75 persen para pertemuan pertama di tahun 2026.

Sebelumnya, FOMC telah memangkas suku bunga Fed sebesar total 75 basis points (bps) pada bulan September, Oktober, dan Desember 2025. Keputusan tersebut diambil di tengah meningkatnya tekanan politik dan perselisihan hukum yang sedang berlangsung dengan melibatkan bank sentral.

Presiden AS Donald Trump berulang kali meminta The Fed untuk memangkas suku bunga. Karena itu, pemerintahan AS tengah menyelidiki dugaan tindakan kriminal terhadap Ketua The Fed Jerome Powell yang merupakan bagian dari upaya Trump untuk menekan kepala bank sentral tersebut agar menurunkan suku bunga.

Sentimen lain terhadap rupiah ialah ketidakjelasan kebijakan tarif dari Trump terhadap sejumlah negara. Mulai dari rencana penerapan tarif 100 persen terhadap ekspor Kanada oleh AS hingga ancaman kenaikan tarif resiprokal dan bea masuk otomotif terhadap Korea Selatan menjadi 25 persen dari sebelumnya 15 persen.

“Ketidakpastian menimbulkan aksi lepas dolar oleh pelaku pasar,” ujar Rully.

Melihat faktor domestik, dukungan kuat BI terhadap stabilitas rupiah memberikan ruang pelonggaran moneter melalui penurunan bunga acuan menjadi akan sangat terbatas.

Gubernur BI Perry Warjiyo optimistis bahwa nilai tukar rupiah akan menguat secara fundamental didukung oleh inflasi yang rendah, pertumbuhan ekonomi yang membaik, imbal hasil investasi yang menarik, serta komitmen BI untuk menstabilkan rupiah.

Menurutnya, faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tukar rupiah saat ini adalah faktor jangka pendek, salah satunya inflasi ekonomi yang terjadi karena kenaikan harga pangan atau volatile food. Hal tersebut terjadi karena adanya cuaca ekstrem serta bencana alam yang berdampak terhadap distribusi komoditas pangan.

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, tingkat inflasi, serta pertumbuhan ekonomi nasional, Bank Indonesia telah menurunkan BI-Rate sebanyak 5 kali sejak September 2024 menjadi 4,75 persen, sekaligus tetap membuka peluang adanya penurunan suku bunga lebih lanjut.

Perry mengatakan, pihaknya juga terus melakukan intervensi di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) luar negeri, termasuk di Asia, Eropa, dan Amerika. Selain itu, BI pun melakukan intervensi di pasar tunai, spot, dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dalam negeri.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Peringatan Dini BMKG 28-29 Januari 2026: Hujan Lebat Mengintai, Sejumlah Wilayah Siaga
• 21 jam lalukompas.tv
thumb
BPH Migas dan Pertamina Pastikan Pasokan BBM Subsidi Aman di Manokwari
• 16 jam lalumedcom.id
thumb
Justin Timberlake dan Jessica Biel Tak Jadi Pisah, Tanda Pernikahan Bisa Diselamatkan
• 14 jam lalugenpi.co
thumb
Paripurna DPR Finalkan Komposisi Ombudsman RI Periode 2026–2031
• 23 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Kisah Ade Kalsum, Tukang Servis KTP Tolak Permintaan Ubah Data dan Gender
• 1 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.