Tertekan Sentimen MSCI, Saham Emiten Grup Bakrie BUMI, BRMS, DEWA Terjun Bebas

bisnis.com
7 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Deretan saham emiten yang terafiliasi dengan Grup Bakrie kompak terjerembab ke zona merah pada perdagangan pagi ini, Rabu (28/1/2026), sejalan dengan IHSG yang jeblok. 

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG dibuka turun 6,69% atau 600,82 poin ke level 8.379,41 pada hari ini. IHSG anjlok setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) telah mengumumkan hasil konsultasi terkait ketentuan free float saham Indonesia.

Di tengah sentimen itu, saham emiten-emiten Grup Bakrie terpantau merosot ke zona merah. Hingga pukul 10.00 WIB, saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) anjlok 14,53% ke level Rp294 per saham. 

Senada, saham PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) ambles 11,97% ke posisi Rp1.140, saham PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) juga tercatat turun signifikan 14,97% ke level Rp1.420, dan saham PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) anjlok 13,43% ke posisi Rp580 per saham. 

Nasib serupa juga dialami oleh saham PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) merosot 9,42% ke level Rp125, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk. (VKTR) jeblok 14,67% ke level Rp1.105, PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk. (JGLE) melorot 9,62% ke level Rp47, PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk. (UNSP) turun 9,71% ke level Rp316, dan saham PT Intermedia Capital Tbk. (MDIA) turun 9,09% ke posisi Rp70 per saham. 

Baca Juga : Saham Emiten Prajogo Pangestu BREN, PTRO Cs Rontok Usai Pengumuman MSCI

Sebelumnya, Samuel Sekuritas memperkirakan saham PT Bumi Resources Tbk. (BUM) berpotensi masuk indeks MSCI dalam periode rebalancing Februari 2026. Prediksi Samuel Sekuritas itu didukung oleh kapitalisasi pasar, free float, dan likuiditas saham BUMI. 

Melansir hasil riset yang tayang 9 Januari 2026, Samuel Sekuritas mencatat bahwa BUMI saat ini memiliki kapitalisasi pasar sekitar US$10,3 miliar dengan tingkat free float sebesar 28,3%. Likuiditas saham BUMI juga tergolong solid, tercermin dari rata-rata nilai transaksi harian satu tahun terakhir yang mencapai US$36,7 juta.

Bumi Resources Tbk. - TradingView

Namun, ramalan itu pupus setelah MSCI memutuskan akan menerapkan perlakuan sementara untuk pasar Indonesia dengan membekukan sejumlah perubahan terkait indeks review (termasuk indeks review Februari 2026). 

Tim riset Phintraco Sekuritas menilai kebijakan interim MSCI dapat menciptakan tekanan sentimen jangka pendek bagi saham big caps Indonesia, terutama saham yang sangat bergantung pada aliran dana global.

MSCI pada 27 Januari 2026 mengumumkan pembekuan kepada beberapa indeks saham Indonesia sebagai langkah sementara dan berlaku segera, yang mencakup tidak menaikkan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan jumlah saham (Number of Shares/NOS) dalam indeks, tidak menambahkan saham Indonesia ke dalam MSCI Investable Market Index (IMI), serta tidak menaikkan klasifikasi saham dari Small Cap ke Standard atau segmen ukuran yang lebih tinggi.

Baca Juga : IHSG Anjlok Usai Pengumuman MSCI, Begini Tanggapan BEI

Dalam pengumuman tersebut, MSCI juga menilai tingkat transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia masih belum memadai, terutama apabila penilaian hanya mengacu pada data kategorisasi pemegang saham dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). 

"Walaupun Bursa Efek Indonesia (BEI) telah melakukan sejumlah perbaikan pada data free float, investor global masih menyoroti masalah mendasar terkait investability, termasuk tingginya konsentrasi kepemilikan serta indikasi potensi perdagangan terkoordinasi yang dapat mengganggu proses pembentukan harga yang efisien dan wajar," tulis sekuritas.

Adapun, kebijakan sementara ini bertujuan mengurangi risiko turnover indeks dan masalah investability. MSCI memberi waktu bagi otoritas pasar untuk melakukan perbaikan transparansi kepemilikan saham yang signifikan.

Jika hingga Mei 2026 tidak ada kemajuan signifikan, MSCI akan meninjau ulang status aksesibilitas pasar Indonesia, yang berpotensi berujung pada penurunan bobot saham Indonesia di MSCI Emerging Markets Index, atau reklasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Imbauan OJK untuk Nasabah BPR Prima Master Bank
• 17 jam lalubisnis.com
thumb
UBM Resmikan Ekosistem Pembelajaran Modern, Integrasikan Literasi, Kreativitas, & Teknologi
• 23 jam lalujpnn.com
thumb
Penguatan Rupiah Berlanjut, Purbaya Apresiasi Upaya BI Jaga Stabilitas Nilai Tukar
• 15 jam laluidxchannel.com
thumb
Pimpinan Semen Tonasa Apresiasi Tim Reaksi Cepat yang ikut Operasi SAR ATR 42-500
• 3 jam laluterkini.id
thumb
IHSG Hari Ini (28/1) Dibuka Turun 6,69% Pasca Putusan Free Float MSCI Dirilis
• 8 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.