Ogah Patok Pajak Marketplace, Purbaya: Entar Kalau Ekonomi Sudah Tumbuh 6%!

metrotvnews.com
8 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa belum berencana menerapkan pemungutan pajak penghasilan (PPh) 22 oleh lokapasar (marketplace) terhadap pedagang daring dalam waktu dekat.

Saat dikonfirmasi, Purbaya masih mempertahankan pendiriannya untuk menerapkan pajak baru ketika perekonomian nasional telah mencetak pertumbuhan enam persen.

"Kita lihat seperti apa pertumbuhan ekonomi kita. Kalau triwulan II (pertumbuhan) sudah enam persen atau lebih, ya kami kenakan (PPh atas penghasilan pedagang daring). Kalau belum, ya tidak dikenakan," ungkap Purbaya di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Rabu, 28 Januari 2026.

Dia menjelaskan pertimbangan utamanya saat ini adalah kesiapan masyarakat dan pelaku usaha dalam membayar pajak. Bila wajib pajak belum memiliki kemampuan membayar pajak yang memadai, penambahan tarif pajak dikhawatirkan dapat mengancam daya beli masyarakat, yang berujung berdampak pada kinerja perekonomian nasional.

"Yang penting adalah masyarakat sudah siap atau belum, kuat atau tidak, menerima kenaikan pajak itu. Kalau gara-gara kebijakan itu tiba-tiba daya beli jeblok, karena ekonomi belum cukup cepat, mereka nggak punya uang juga, buat apa kita kenakan (pajak)," tambah dia.
  Baca juga: Purbaya Sebut Potensi PPN Transaksi Luar Negeri Capai Rp84 Triliun/Tahun   Upaya untuk tingkatkan penerimaan pajak
Dalam kesempatan terpisah, Direktur Jenderal Pajak Bimo Wijayanto mengungkapkan pemungutan pajak di platform digital menjadi salah satu langkah konkret untuk meningkatkan penerimaan.

Bimo, dalam Indonesia Fiscal Forum (IFF) 2026 di Jakarta, menjelaskan pergeseran struktur ekonomi dari konvensional ke digital membutuhkan adaptasi proses bisnis perpajakan yang lebih responsif, mengingat cara berbisnis secara umum juga telah bergeser.

"Kami berharap mudah-mudahan di 2026, platform digital dalam negeri juga akan kami wajibkan untuk memungut pajak sesuai dengan kondisi merchant-merchant yang ada di platform digital," tutur Bimo.


(Ilustrasi. Foto: dok Metrotvnews.com)
  Aturan kebijakan pajak marketplace
Adapun aturan mengenai kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 37 Tahun 2025. DJP berwenang menunjuk lokapasar sebagai Penyelenggara Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PPMSE) untuk memungut pajak dari pedagang.

Besaran PPh 22 yang dipungut, yaitu sebesar 0,5 persen dari omzet bruto yang diterima pedagang dalam setahun. Pungutan itu di luar pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM).

Pedagang yang menjadi sasaran kebijakan ini adalah yang memiliki omzet di atas Rp500 juta, dibuktikan dengan surat pernyataan baru yang disampaikan ke lokapasar tertunjuk.

Sedangkan pedagang yang memiliki omzet di bawah Rp500 juta terbebas dari pungutan ini. Pengecualian juga berlaku untuk sejumlah transaksi lain, seperti layanan ekspedisi dan transportasi daring (ojek online atau ojol), penjual pulsa, hingga perdagangan emas.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Purbaya Gandeng Aparat TNI-Polri Lawan Beking Pengemplang Pajak
• 12 jam laluviva.co.id
thumb
Berapa Gaji Maarten Paes? Kiper Timnas Indonesia yang Kabarnya Sepakat Gabung Ajax Amsterdam
• 8 jam lalutvonenews.com
thumb
Populer, Rp1,8 triliun bansos Sumatera hingga belajar di tenda darurat
• 12 jam laluantaranews.com
thumb
Aceh Tamiang Butuh Pembangunan Kembali 20.000 Unit Rumah
• 17 jam lalubisnis.com
thumb
Terima Kunjungan KPID Jatim, Gubernur Khofifah Dorong Sinergi Penyiaran Sambut Kick Off Piala Dunia 2026
• 2 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.