Indonesia Hadapi Krisis Iklim, UHN Bentuk Pusat Riset Sustainabilitas

republika.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Universitas Harkat Negeri (UHN) membentuk pusat kajian keberlanjutan bernama Sustainabilitas untuk merespons meningkatnya dampak perubahan iklim, mulai dari banjir, kekeringan ekstrem, kebakaran hutan, hingga kenaikan muka air laut yang kian dirasakan di berbagai wilayah Indonesia.

Rektor Universitas Harkat Negeri Sudirman Said mengatakan, pembentukan Sustainabilitas bertujuan memperkuat peran riset dalam mendukung perumusan dan pelaksanaan kebijakan keberlanjutan. Lembaga ini diposisikan sebagai penghubung antara kajian akademik, praktik lapangan, dan kebutuhan pengambilan keputusan publik.

Baca Juga
  • Pelaku Usaha Optimis Pemerintah akan Terus Menjaga Iklim Investasi Tambang yang Berkelanjutan
  • Indonesia–Inggris Perkuat Kerja Sama Iklim Usai COP30
  • Dari Sumatera hingga Eropa, Dampak Perubahan Iklim Kian Nyata dan Mematikan

“Sustainabilitas dibentuk untuk menjawab isu keberlanjutan secara lebih operasional, dengan mendorong kolaborasi lintas sektor dan pemanfaatan riset dalam kebijakan,” kata Sudirman dalam peluncuran Sustainabilitas di Jakarta, Selasa (27/1/2026).

Ia menyampaikan, agenda keberlanjutan nasional, termasuk target net zero emission Indonesia, memerlukan dukungan sumber daya manusia, tata kelola, dan kebijakan yang konsisten. Dalam konteks itu, Sustainabilitas diharapkan berkontribusi melalui riset, pengembangan kapasitas, serta pendampingan kebijakan.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Sudirman menilai diskursus keberlanjutan kerap berhenti pada tataran konseptual dan belum sepenuhnya terhubung dengan implementasi di lapangan. Karena itu, lembaga ini dirancang untuk melibatkan peneliti, praktisi, dan profesional dari berbagai latar belakang dalam program yang berbasis kebutuhan nyata.

Direktur Sustainabilitas William Sabandar menyebut Indonesia menghadapi tantangan yang ia gambarkan sebagai “paradoks keberlanjutan”. Di satu sisi, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam dan potensi ekonomi hijau yang besar, namun di sisi lain masih menghadapi keterbatasan kapasitas sumber daya manusia di bidang tersebut.

Menurut William, Sustainabilitas akan bekerja dengan tiga fokus utama, yakni penguatan kepemimpinan, dukungan kebijakan, dan pelaksanaan aksi nyata. Pada aspek kepemimpinan, lembaga ini menekankan pentingnya integritas, kemampuan analisis, dan kapasitas eksekusi dalam mengelola program keberlanjutan.

“Keberlanjutan tidak hanya ditentukan oleh desain kebijakan, tetapi juga oleh kualitas kepemimpinan yang menjalankannya,” ujar William.

Pada aspek kebijakan, Sustainabilitas mendorong integrasi prinsip keberlanjutan ke dalam regulasi, termasuk melalui standar, insentif, serta mekanisme pelaporan dan kepatuhan yang terukur. Sementara itu, pada pilar aksi, lembaga ini berupaya menjembatani inisiatif lingkungan dengan pembiayaan dan investasi agar program keberlanjutan dapat berjalan berkelanjutan.

Sustainabilitas bernaung di bawah Universitas Harkat Negeri yang berbasis di Tegal. Lokasi tersebut dipilih untuk mendukung pengembangan program berbasis wilayah, dengan pendekatan laboratorium hidup yang memungkinkan pengujian kebijakan dan intervensi secara langsung di tingkat lokal. Model yang berhasil diharapkan dapat direplikasi di daerah lain.

Selain itu, universitas menyebut kerja sama dengan institusi pendidikan dan riset internasional akan dikembangkan untuk menjaga kualitas metodologi dan relevansi riset yang dihasilkan.

.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
Advertisement

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Defisit APBN 2025 Melebar Hampir Sentuh Batas Maksimal, Pemerintah Pilih Strategi Anti-Krisis
• 20 jam lalupantau.com
thumb
Kumpulan Fakta Setelah Timnas Futsal Indonesia Pesta Gol ke Gawang Korea Selatan di Piala Asia Futsal 2026
• 17 jam lalubola.com
thumb
RI Cuma Punya 44 Radar Cuaca, Kepala BMKG Buka-bukaan Ungkap Dampaknya
• 19 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Pedestrian Deck “Cincin Donut” Dukuh Atas Dibangun 2026, Ini Fungsinya
• 20 jam lalukompas.com
thumb
Ngeri Ribut dengan China, Jepang Minta Nelayan Hindari Pulau
• 21 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.