Liputan6.com, Jakarta - Pagi di Bojonggede masih enggan membuka mata. Udara dingin menyusup lewat celah pintu, seperti alarm alam yang memaksa Sudrajat beranjak dari pembaringan. Usianya tak lagi muda. Langkah kakinya pun tak secepat dulu. Namun waktu tak pernah memberi pilihan pada orang-orang seperti dia: rezeki harus dijemput, sebelum matahari benar-benar naik.
Sudrajat baru-baru ini ramai diperbincangkan di berbagai lini massa. Bukan cerita soal dagangan yang laris atau kisah hidupnya, tetapi karena Sudrajat dituduh warga dan aparat menjual es kue jadul berbahan spons. Sudrajat diamankan aparat, diduga dianiaya hingga kejadian lain yang menyisakan trauma setelahnya.
Advertisement
Jaket putih yang mulai kusam ia kenakan, tas pinggang kulit hitam diselempangkan. Sebuah topi menutup kepala, bersiap menghadapi terik yang nanti akan menyusul. Dari rumah sederhananya di kawasan padat Bogor, Sudrajat pamit pada istri dan kelima anaknya. Seperti hari-hari sebelumnya, ia berangkat membawa harapan yang sama: pulang dengan uang belanja, meski tubuh letih.
Langkah pertamanya selalu menuju Depok, ke tempat pembuatan es kue jadul. Di sana, ratusan potong es dimasukkan ke dalam boks sterofoam, dibungkus tas cokelat besar. Boks itu bukan sekadar wadah dagangan. Di pundaknya, es-es itu menandakan simbol tanggung jawab seorang ayah yang menafkahi keluarga.
Sudrajat sadar, hampir setengah abad usianya tak menghapus satu kenyataan: dia masih penopang utama rumah tangga. Nasib istri dan anak-anaknya bertumpu pada bahu yang kian ringkih.
Setiap hari, Sudrajat berjalan kaki puluhan kilometer. Dari Depok, dia menelusuri sejumlah lokasi di Jakarta seperti Kemayoran, Sentiong, hingga Kota Tua. Kakinya menjadi saksi jalan panjang yang tak selalu ramah.
“Kalau pagi saya ambil di Depok, jualannya ke Jakarta. Kalau di Kabupaten Bogor jarang pada jajan, lakunya di Jakarta,” tutur Sudrajat, Rabu (28/1/2026).
Sebanyak 150 potong es kue jadul dia bawa setiap hari. Satu potong dijual Rp 2.500. Di balik angka kecil itu, ada keringat yang harus ditebus mahal.
“Untungnya Rp1.500 per potong. Kalau laku semua, bisa sampai Rp 200 ribu,” katanya pelan.




