Menyusuri Puing dan Sunyi Gunung Bulusaraung: Kisah Evakuasi Pesawat Jatuh dan Pencarian Bukti Kunci

harianfajar
1 jam lalu
Cover Berita

SAKINAH FITRIANTI/ TOMPOBULU

PANGKEP, FAJAR- Batu karst itu pecah tak wajar di antara puncak kedua dan puncak ketiga tak jauh dari puncak Gunung Bulusaraung, ada batu yang pecah, menyisakan bekas hantaman yang menjadi petunjuk awal tragedi.

Dari jejak batu yang retak itulah, tim gabungan Basarnas, TNI, dan Tim Reaksi Cepat (TRC) PT Semen Tonasa menyusuri medan ekstrem pegunungan, menapaki lembah dan punggungan terjal, tim demi tim diturunkan sesaat titik serpihan itu berhasil ditemukan, hingga akhirnya satu persatu korban pun berhasil ditemukan.

Setelah hari itu, Agus kembali diturunkan, ia turun dalam tim pencarian ekor pesawat, disana Agus kembali berhasil, ia menemukan kotak hitam pesawat rekaman terakhir yang menyimpan jawaban tentang apa yang terjadi sebelum pesawat menabrak gunung.

Agussalim, yang akrab disapa Agus, menjadi satu dari dua personel Tim Reaksi Cepat (TRC) PT Semen Tonasa yang tergabung langsung dalam tim inti bersama Basarnas dan unsur TNI. Sejak awal pendakian, Agus berada di barisan depan, menyusuri jalur yang belum tentu dilalui manusia sebelumnya.

Pendakian dilakukan dari lembah menuju punggungan, lalu turun dan naik kembali mengikuti kontur gunung yang tidak beraturan. Banyak jalur yang baru dibuka. Batu kapur yang licin dan mudah runtuh memaksa tim menguji setiap pijakan sebelum melangkah. Kabut yang datang dan pergi membuat jarak pandang hanya beberapa meter.

Di antara puncak-puncak Bulusaraung, Agus menemukan tanda pertama yang menguatkan dugaan lokasi jatuhnya pesawat. Sebuah batu karst terlihat terpotong dan pecah tidak wajar, dengan bekas benturan yang jelas.

“Saya menyaksikan bekas di mana ada batu yang terpotong itu bekas pesawat tertabrak di situ, karena ada bekasnya, batunya pecah,” pungkasnya.

Temuan itu menjadi petunjuk awal bahwa pesawat menghantam kawasan puncak Bulusaraung. Dari titik tersebut, pencarian difokuskan. Tim kemudian dibagi, salah satunya adalah tim ekor yang bertugas menyisir kemungkinan lokasi bagian belakang pesawat, area yang sangat penting untuk menemukan black box.

Agus kembali terlibat langsung. Bersama tim ekor, ia menyusuri jalur yang lebih sunyi dan berbahaya. Pada hari Selasa, ia hanya berdua dalam satu tim kecil. Mereka mencoba membuka jalur baru, namun jalur tersebut berakhir di jurang curam. Tidak ada akses lanjutan. Dengan pertimbangan keselamatan, mereka terpaksa putar balik.

Malam itu dihabiskan di camp Pos 9 bersama tim dari Rider 700. Di tengah dingin pegunungan, Agus dan tim mempersiapkan ulang rencana. Peralatan evakuasi dan kantong jenazah tetap dibawa, menyadari bahwa setiap kemungkinan bisa terjadi.

Rabu pagi, jalur pencarian diubah. Dari Pos 9, tim menyisir punggungan dengan membuka jalur baru. Sekitar pukul 10.30 WITA, Agus melihat ada benda berukuran besar di sela pepohonan. Ekor pesawat ATR 42-500 akhirnya ditemukan.

Namun posisinya sangat menyulitkan. Ekor pesawat menghadap ke bawah dan tersangkut kuat di antara pepohonan besar di lereng karst. Aparat TNI berkali-kali mencoba menggoyangkannya dengan batang kayu dan tarikan cabang pohon agar ekor pesawat jatuh. Upaya itu dilakukan berulang kali, tetapi tidak berhasil, ekor pesawat tetap tertahan kuat.

Masalah lain muncul. Tidak seorang pun di lokasi benar-benar yakin bagaimana bentuk black box pesawat tersebut. Agus menyadari bahwa menemukan ekor pesawat saja belum cukup jika tidak bisa memastikan keberadaan kotak hitam.

Di tengah keterbatasan medan, ia mencoba mencari jaringan. Sinyal muncul sesaat. Kesempatan itu tidak disia-siakan. Agus menghubungi pimpinan TRC dan menanyakan bentuk black box pesawat. Beberapa saat kemudian, gambar black box dikirimkan ke ponselnya.

Dengan referensi itu, Agus mengambil keputusan berisiko. Ia harus melihat langsung ke dalam bagian ekor pesawat.

Tanpa alat pengaman standar dan tanpa tangga, Agus mulai memanjat di antara batang-batang pohon dan kayu karst yang rapuh. Ia menguji setiap pegangan sebelum mengalihkan berat badannya. Daun dan batang yang basah membuat pijakan licin. Di bawahnya jurang menganga, sementara di atasnya ekor pesawat menggantung tidak stabil.

Saat beberapa personel kembali mencoba menggoyangkan ekor pesawat dari bawah, Agus memberi isyarat agar dihentikan karena getaran justru membahayakan posisinya. Dengan tubuh setengah menggantung, ia memiringkan badan dan mengintip ke bagian dalam ekor pesawat.

Pandangan menyapu ruang sempit dan gelap itu, penuh serpihan logam. Lalu matanya menangkap benda yang bentuknya sama persis dengan gambar di layar ponselnya.

“Alhamdulillah, black box kelihatan,” serunya dari atas.

Kotak hitam itu tidak langsung dievakuasi. Diperlukan peralatan khusus agar proses berjalan aman dan tidak merusak barang bukti. Agus turun kembali dan menjelaskan posisi serta kondisi ekor pesawat kepada tim gabungan.

Tim lain kemudian naik untuk membuka dan menurunkan bagian ekor agar black box dapat dijangkau dengan aman. Sebanyak 12 orang berada di titik penemuan, sementara delapan personel TRC lainnya bersiap membantu proses penjemputan dan evakuasi bersama Basarnas dan TNI.

Saat Agus akhirnya turun gunung bersama tim ekor, jalur yang sama kembali dilalui lembah, punggungan, dan karst Bulusaraung. Langkahnya masih berat, tetapi bebannya berkurang.

Saat proses evakuasi dinyatakan aman, tanggung jawab besar itu akhirnya dipercayakan kepada Agus. Kotak hitam pesawat dibungkus rapi dan dimasukkan ke dalam ransel merah yang sejak awal ia kenakan selama pendakian.

Dengan ransel itu di punggungnya, Agus turun meninggalkan lereng Bulusaraung, menapaki kembali jalur karst yang sama lembah, punggungan, dan batuan tajam kali ini membawa bukti terpenting dari tragedi tersebut. Satu perangkat lain dengan warna serupa, Cockpit Voice Recorder (CVR), dibawa oleh komandan timnya. Dua ransel itu turun bersamaan dari gunung, masing-masing memuat rekaman terakhir yang akan mengungkap apa yang terjadi di dalam pesawat sebelum akhirnya menabrak Gunung Bulusaraung.

Peran krusial Agus dalam dua fase penting pencarian itu juga dibenarkan oleh Jufri, personel Tim Reaksi Cepat (TRC) PT Semen Tonasa lainnya. Jufri mengaku turut terlibat dalam pendakian dan bergabung dengan tim penyisiran lain sejak awal operasi.

Menurut Jufri, penyisiran dimulai dari jalur bawah. Ia tergabung dalam tim SAR 4 yang bertugas menyisir titik pertama. Jalur pencarian diarahkan sekitar 100 meter sebelum lokasi hantaman awal pesawat, tepat sebelum punggungan menuju puncak tempat pesawat diduga jatuh.

Medan yang dihadapi tidak kalah berat. Tim harus berhadapan dengan tebing-tebing curam dan jalur sempit yang belum pernah dilalui.

“Untuk memastikan akses bagi tim lanjutan dan evakuasi, mereka membuka jalur baru secara manual di tengah lereng karst,” katanya.

Proses itu sudah dilakukan sejak hari Minggu, jauh sebelum bagian ekor pesawat dan kotak hitam akhirnya ditemukan.

Kesaksian Jufri menguatkan bahwa pencarian di Gunung Bulusaraung bukan kerja satu tim atau satu hari. Ia adalah rangkaian panjang penyisiran berlapis, dari jalur bawah hingga puncak, dari titik hantaman awal hingga penemuan black box.

“Dalam rangkaian itulah, Agus berada di dua simpul terpenting pencarian, memastikan titik jatuh pesawat dan menemukan bukti utama penyelidikan kecelakaan,” imbuhnya.

Bahkan keberhasilan TRC Semen Tonasa itu juga diapresiasi langsung Asisten Operasi Kodam XIV/Hasanuddin, Kolonel Inf Dody Triyo Hadi, ia menyampaikan bahwa black box ditemukan masih menyatu di dalam struktur ekor pesawat. Temuan tersebut diperoleh setelah tim gabungan yang telah melakukan penyisiran intensif di medan pegunungan yang terjal dan sulit dijangkau.

“Setelah dianalisis, kami bentuk tim khusus termasuk melibatkan TRC Semen Tonasa yang menemukan dan mengecek langsung di ekor pesawat. Kondisinya utuh dan tidak terlepas dari struktur ekor, nanti tim yang menemukan baru melepas,” jelasnya. (*/)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Bau Semakin Menyengat, Aktivitas Truk RDF Rorotan Diblokade Warga
• 23 jam lalukompas.com
thumb
Tak Diakui Denada sebagai Anak, Ini Alasan Ressa Rizky Ajukan Gugatan Rp13 Miliar
• 18 detik lalutabloidbintang.com
thumb
Jadwal Pemeriksaan Hanif Dhakiri oleh KPK Diulang Seusai Mangkir Dipanggil
• 15 jam lalujpnn.com
thumb
Pesawat Smart Air Gagal Take Off di Nabire, 13 Penumpang dan Kru Selamat
• 8 jam lalupantau.com
thumb
RS/Klinik NU se-Jatim siapkan 100 titik layanan kesehatan gratis
• 7 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.