Kehidupan Bergerak di Antara Dua Kutub

erabaru.net
4 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Ada seorang petani yang memiliki sebidang lahan pertanian yang tandus.

Dia sering mengeluh: “Andai Tuhan membiarkanku mengatur cuaca sendiri, semuanya pasti akan menjadi lebih baik. Jelas sekali Dia tidak begitu memahami cuaca seperti apa yang dibutuhkan tanaman.”

Tuhan pun berkata kepadanya: “Aku akan memberimu waktu satu tahun untuk mengendalikan cuaca. Cuaca apa pun yang kamu inginkan, akan terjadi.”

Petani malang itu sangat gembira. 

Dia segera berkata: “Aku ingin cuaca cerah.”

Maka Matahari pun bersinar terang.

Tak lama kemudian dia berkata lagi: “Sekarang turunkan hujan.”

Dan hujan pun turun.

Sepanjang tahun itu, dia terus mengatur cuaca seperti ini—bergantian antara sinar matahari dan hujan.

Benih-benih tumbuh semakin besar, dan menyaksikan tanaman berkembang menjadi sumber kebahagiaan tersendiri baginya.

Dengan penuh kebanggaan dia berkata: “Sekarang Tuhan pasti mengerti bagaimana seharusnya mengatur cuaca!”

Tanaman-tanamannya belum pernah tumbuh sebesar ini, belum pernah sehijau ini—warna hijaunya begitu pekat dan menyejukkan mata.

Akhirnya, musim panen pun tiba.

Petani itu membawa sabitnya ke ladang untuk memanen gandum. Namun seketika hatinya terjun bebas ke dasar jurang—karena pada batang-batang tanaman itu tidak ada satu pun bulir gandum.

Tuhan datang menemuinya dan bertanya: “Bagaimana hasil panenmu?”

Petani itu mulai mengeluh: “Sangat buruk, Tuhanku. Benar-benar buruk!”

“Bukankah kamu sudah mengendalikan cuaca sesuai keinginanmu? Bukankah semua berjalan seperti yang kamu harapkan?”

“Tentu saja!” jawab petani itu bingung. “Itulah yang membuatku heran. Aku mendapatkan hujan dan matahari sesuai keinginanku, tetapi tetap tidak ada hasil panen.”

Lalu Tuhan berkata kepadanya: “Tetapi kamu tidak pernah meminta angin, badai, hujan deras, salju, atau hal-hal lain yang membersihkan udara dan membuat akar tanaman menjadi lebih kuat serta lebih tahan. Itulah sebabnya tanamanmu tidak menghasilkan apa pun.”

Hanya dengan tantangan, kehidupan bisa tumbuh.

Hanya ketika seseorang mengalami:cuaca baik dan cuaca buruk, kegembiraan dan penderitaan, musim dingin dan musim panas, kekecewaan dan kebahagiaan, ketidaknyamanan dan kenyamanan— barulah kehidupan benar-benar terbentuk.

Kehidupan selalu bergerak di antara dua kutub ini. Di antara dua kutub itulah, kita belajar menjaga keseimbangan.

Dengan dua “sayap” itulah, kita belajar bagaimana cara menjalani hidup.

Bukan hanya dalam satu hal keseimbangan itu diperlukan—dalam banyak aspek kehidupan pun demikian. Mencari titik seimbang di antara dua ekstrem sejatinya adalah salah satu ujian terbesar dalam hidup.

Renungan / Hikmah Cerita

Setelah membaca kisah ini, staf redaksi justru teringat pada jamur shiitake. Mengapa sebuah cerita kehidupan bisa mengingatkan pada jamur? Mari kami ceritakan perlahan.

Di Kabupaten Taichung, tepatnya di Kecamatan Xinshe, yang dahulu dikenal sebagai daerah penghasil buah-buahan, banyak petani kini beralih menanam jamur shiitake. “Desa buah” pun berubah menjadi “kampung jamur”.

Dalam proses budidaya jamur, ada satu tahap penting: kantong media jamur harus dibalik selama dua hingga tiga hari, lalu dibalik kembali. Hanya dengan cara itulah jamur bisa mulai tumbuh.

Pernah ditanyakan kepada seorang petani jamur, mengapa kantong jamur harus dibolak-balik seperti itu?

Dia menjawab:“Jamur adalah makhluk yang sangat unik. Hampir semua makhluk hidup, ketika lingkungannya semakin sulit, akan tumbuh lebih lambat atau mengurangi keturunannya. Namun jamur justru sebaliknya—dia tumbuh subur dan menyebarkan keturunannya dalam jumlah besar ketika berada dalam kondisi sulit. Jika kantong jamur tidak dibalik sehingga jamur ‘merasakan ancaman’, maka jamur itu tidak akan pernah tumbuh.”

Manusia pun sama.

Jika sepanjang hidup seseorang selalu berada dalam kenyamanan, nyaris tanpa hambatan, maka hampir pasti tidak akan tumbuh daya juang.

Justru karena menghadapi rintangan demi rintangan, manusia berkembang dan berevolusi.

Karena kehidupan selalu menemukan arah baru ketika melewati cobaan.(jhn/yn)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Alasan Dicopot dari Petugas Haji Gak Jelas, Chiki Fawzi: Arahan dari Atasan
• 17 jam laluviva.co.id
thumb
Kasus Suami Jadi Tersangka Usai Kejar Jambret Bukan Restorative Justice dan Harus Dihentikan!
• 3 jam laluokezone.com
thumb
Bukan Burden Sharing, Ini Strategi Fiskal-Moneter Thomas Djiwandono
• 1 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Harga Cabai Rawit Merah hingga Daging Ayam Turun Hari Ini
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Respons Berkelas Shayne Pattynama usai Ramai Dikritik Gara-Gara Gabung Persija Jakarta
• 10 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.