Menguak Fenomena Poligami Kerja: Ketika Karyawan Punya Lebih dari Satu Pekerjaan, Lagi Marak di Inggris!

viva.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Adanya era kerja jarak jauh memunculkan fenomena baru di dunia profesional, yakni karyawan yang diam-diam memegang lebih dari satu pekerjaan penuh waktu. Praktik ini dijuluki “poligami kerja” dan kini marak di Inggris. 

Satu dari lima pekerja di Inggris, mengaku pernah bekerja diam-diam untuk lebih dari satu perusahaan sekaligus atau mengenal seseorang yang melakukannya. Temuan ini berasal dari laporan yang dipesan oleh layanan pencegahan penipuan Cifas. 

Baca Juga :
Cari Kerja Makin Susah, Job Seeker Ini Nekat Gugat Perusahaan AI
FBS UNJ Pastikan Lulusannya Diburu Pasar Kerja

Praktik tersebut ditemukan di berbagai sektor, mulai dari bagian SDM, teknik, keuangan hingga teknologi informasi. Mike Haley dari Cifas menyatakan angka ini menimbulkan pertanyaan mendesak tentang budaya perusahaan, manajemen risiko, dan akuntabilitas.

“Perusahaan harus segera mengambil langkah untuk membangun budaya anti-penipuan yang efektif di tempat kerja, memperkuat pencegahan, dan memberdayakan karyawan untuk melakukan hal yang benar,” ungkap Haley, sebagaimana dikutip dari The Telegraph, Rabu, 28 Januari 2026.

Meski poligami kerja tidak secara langsung ilegal, memegang beberapa pekerjaan penuh waktu bisa melanggar kode etik perusahaan. Keith Rosser dari The Better Hiring Institute menyebut praktik ini sebagai salah satu isu terbesar yang kini memengaruhi bisnis Inggris, bersama pekerja IT palsu dan penipuan berbasis AI. 

Kekhawatiran meningkat karena sistem kerja jarak jauh memudahkan karyawan membagi waktu ke beberapa pekerjaan. Permintaan informasi publik (FOI) sebelumnya mengungkap 37 pegawai dewan lokal menerima bayaran dari beberapa otoritas sekaligus. 

Bahkan, satu pegawai dewan London diketahui memegang empat pekerjaan pemerintah daerah dalam waktu bersamaan. Investigasi terpisah oleh National Fraud Initiative juga menemukan seorang pegawai negeri memegang tiga pekerjaan di tiga departemen pemerintah berbeda, yang berujung pemecatan.

Kasus ekstrem lainnya melibatkan seorang petugas kebersihan di Parlemen Inggris yang bekerja 17 jam sehari di dua pekerjaan berbeda selama 16 tahun. Ia akhirnya diberhentikan karena melanggar aturan batas waktu kerja.

Sekitar seperempat responden survei menyatakan praktik ini bisa dibenarkan, terutama di kalangan pekerja IT dan telekomunikasi. Laporan yang sama juga menemukan meningkatnya toleransi terhadap penipuan klaim biaya serta penggunaan perusahaan referensi palsu untuk menutup celah riwayat kerja.

Baca Juga :
China Masuk Era Robot, Permintaan Profesi Ini Melonjak Tajam
Mengejutkan! Kapolri Sebut 5,4 Juta Pekerja Migran Indonesia Berangkat Lewat Jalur Ilegal
BUMN Sektor Energi Dituntut Terapkan Standar Kerja Ketat Targetkan Zero Fatality

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pembangunan Huntara di Aceh Dikebut, Targetnya Rampung Sebelum Ramadan
• 1 jam lalukompas.id
thumb
Atalia Soroti Angka Pernikahan di Indonesia Turun: Saya Tentu Bukan Contoh Ya…
• 7 jam lalukompas.com
thumb
Satpol PP DKI Sita Hampir 40 Ribu Butir Tramadol Sepanjang 2025
• 3 jam laludisway.id
thumb
Prabowo Kumpulkan Menteri di Hambalang, Bahas Rencana Bangun 10 Kampus Kolaborasi RI dan Inggris
• 21 jam laluliputan6.com
thumb
Proyek Pipa Gas Bumi Penghubung Jabar-Jatim Masuk Tahap Akhir!
• 6 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.