FAJAR, TEHERAN- Di tengah ancaman serangan Amerika Serikat, Pemerintah Iran tak tinggal diam. Saat ini, mereka menggelar latihan militer aksi tembak langsung di sepanjang Selat Hormuz
Aktivitas militer dilaksanakan 27-29 Januari 2026 di dalam area melingkar dengan radius lima mil laut. Ruang udara dengan ketinggian 25 ribu kaki dari permukaan tanah akan dibatasi dan berbahaya bagi penerbangan.
Latihan militer Iran ini digelar di hari yang sama saat komponen Angkatan Udara Komando Pusat (CENTCOM) Amerika Serikat mengumumkan rencana latihan tempur di Timur Tengah.
AS berencana menggelar latihan Angkatan Udara besar-besaran selama beberapa hari mendatang.
“(Latihan ini) untuk mendemonstrasikan kemampuan untuk mengerahkan, menyebar, dan mempertahankan kekuatan udara tempur di seluruh wilayah tanggung jawab CENTCOM,” demikian pernyataan Angkatan Udara CENTCOM, seperti dikutip AFP.
Angkatan Udara AS menambahkan latihan ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan penyebaran aset dan personel, memperkuat kemitraan global, serta mempersiapkan pelaksanaan respons yang fleksibel.
Rencana latihan militer ini diumumkan setelah armada perang AS tiba di Timur Tengah pada Senin 26 Januari 2026, bersamaan dengan merapatnya Kapal induk USS Abraham Lincoln kini beroperasi di perairan Timur Tengah dengan didampingi beberapa kapal perusak berpeluru kendali.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian melakukan mengadu ke Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) atas sikap Amerika Serikat terhadap Iran.
Percakapan kedua pemimpin itu berlangsung setelah Amerika Serikat
mengirimkan kapal induk USS Abraham Lincoln ke wilayah tersebut.
Dalam beberapa pekan terakhir, Washington mengisyaratkan sedang mempertimbangkan opsi serangan terhadap Iran menyusul tindakan keras Teheran terhadap demonstran antipemerintah, yang dilaporkan menewaskan ribuan orang.
Dalam komunikasi via telepon, Selasa 27 Januari 2026, Pezeshkian mengkritik ancaman dari Amerika Serikat.
Menurut pernyataan resmi dari kantor kepresidenan Iran, Pezeshkian menegaskan jika tekanan tersebut mengganggu keamanan kawasan dan tidak akan menghasilkan apapun selain ketidakstabilan.
“Presiden menunjuk pada tekanan dan permusuhan baru-baru ini terhadap Iran, termasuk tekanan ekonomi dan campur tangan eksternal, dengan menyatakan tindakan-tindakan tersebut gagal merusak ketahanan dan kesadaran rakyat Iran,” demikian pernyataan kantor Pezeshkian, dilansir Al Jazeera
Sementara Putra Mahkota Mohammed bin Salman menyambut baik dialog tersebut dan menegaskan kembali komitmen Arab Saudi terhadap stabilitas, keamanan, dan pembangunan kawasan.
Ia juga menekankan pentingnya solidaritas di antara negara-negara Islam dan menyatakan bahwa Riyadh menolak segala bentuk agresi atau eskalasi terhadap Iran, serta menyampaikan kesiapan Arab Saudi untuk membangun perdamaian dan keamanan di seluruh kawasan.
Sekadar diketahui, AS sejak beberapa waktu terakhir mengindikasikan bahwa mereka mempertimbangkan serangan terhadap Iran sebagai respons atas tindakan keras Teheran terhadap pedemo.
Iran diguncang demo besar sejak 28 Desember buntut krisis ekonomi. Demo yang berubah jadi tuntutan perubahan rezim itu telah menewaskan lebih dari 3.000 orang, menurut perhitungan pemerintah.
(*)




