Mengenal Es Gabus, Jajanan Jadul Bertekstur seperti Spons yang Kembali Viral

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Jajanan es gabus mendadak viral di media sosial usai insiden penjual keliling bernama Suderajat (50) dituding menjual es berbahan spons. Belakangan sudah terkonfirmasi bahwa tuduhan tersebut tak berdasar, es yang dijual Suderajat 100 persen berbahan aman dan layak dikonsumsi.

Ya, Moms, es gabus sebetulnya bukan jajanan asing di Indonesia. Es potong warna-warni berbahan dasar tepung hunkwe ini merupakan dessert jadul yang sudah eksis selama puluhan tahun dan lekat dengan kenangan masa kecil banyak orang Indonesia.

Kesalahpahaman ini muncul karena tekstur es gabus yang lembut, kenyal, dan sedikit berpori, sehingga sekilas memang terlihat seperti spons. Namun, jajanan ini sama sekali tidak terbuat dari bahan berbahaya.

Sejarah Es Gabus: Jajanan Jadul Penuh Nostalgia

Es gabus dikenal luas sejak era 1980–1990-an sebagai jajanan rumahan yang sering dijual di depan sekolah atau dibuat sendiri di rumah. Nama “gabus” merujuk pada teksturnya yang empuk dan ringan, bukan karena bahan dasarnya berasal dari gabus atau spons.

Di masa lalu, es gabus identik dengan warna-warna cerah—merah muda, hijau, kuning—yang disusun berlapis atau dipotong memanjang, lalu dibekukan. Jajanan ini kerap hadir di acara keluarga, hajatan, hingga jualan kaki lima dengan harga terjangkau.

Bahan Dasar Es Gabus

Bahan utama es gabus sebenarnya sangat sederhana dan mudah ditemukan, antara lain:

Tepung hunkwe inilah yang memberikan tekstur khas: lembut, kenyal, dan sedikit padat ketika dibekukan.

Cara Pembuatan Es Gabus

Proses pembuatan es gabus terbilang mudah dan bisa dilakukan di rumah:

Harga dan Popularitas di Masa Kini

Dulu, es gabus dijual dengan harga sangat murah, mulai dari Rp 100-Rp 500. Kini, harga es gabus bervariasi mulai dari Rp 1.000-Rp 2.000 per potong di penjual keliling. Namun untuk di marketplace harganya berkisar dari Rp 10.000-Rp 30.000 tergantung bentuk, ukuran, dan kemasan.

Beberapa UMKM bahkan mengemas es gabus dalam bentuk premium dengan varian rasa baru seperti cokelat, matcha, atau taro, tanpa meninggalkan resep dasarnya.

Viral Tapi Perlu Diluruskan

Kasus viral yang menyebut es gabus berbahan spons menjadi pengingat pentingnya literasi pangan di masyarakat. Tekstur unik bukan berarti berbahaya. Selama dibuat dari bahan pangan yang aman dan sesuai standar, es gabus tetap menjadi jajanan yang layak dikonsumsi.

Alih-alih dicurigai, es gabus justru menjadi bukti bahwa jajanan tradisional Indonesia masih punya tempat di hati masyarakat—bahkan di era media sosial seperti sekarang.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Waspada Pandemi Baru, Tetangga Indonesia Minta Pelancong Waspada Virus Nipah
• 15 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Berawal dari Teguran, Warga Cengkareng Justru Jadi Korban Keganasan Pencuri Kabel
• 1 jam lalusuara.com
thumb
Pedagang Es Gabus Dipukul hingga Trauma, Hotman Paris Turun Tangan: Siap Kirim 10 Pengacara
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Rencana Pemutihan BPJS Kesehatan Mandek, Cak Imin Ungkap Penyebabnya
• 20 jam laludisway.id
thumb
Bekerja Hanya Miliki Visa Wisata, 8 WNA asal China Ditangkap Imigrasi Cirebon
• 16 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.