Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi PKS, Tifatul Sembiring, melayangkan kritik terkait minimnya kehadiran film Indonesia dalam layanan hiburan di armada pesawat terbang, baik maskapai nasional maupun internasional.
Tifatul Sembiring menyampaikan hal itu dalam rapat Panitia Kerja (Panja) Kreativitas dan Distribusi Film Indonesia di Gedung Parlemen, Selasa (27/1).
Tifatul heran, meski industri film Indonesia sedang dalam tren positif, gaungnya tidak terlihat di moda transportasi udara. Ia mencontohkan beberapa film yang sukses besar di pasaran.
"Ya, film Agak Laen penontonnya 10,9 juta, Vina 5,8 juta. Ini sebetulnya kalau jumlah segini cukup besar ya, tapi maaf ya kalau ini memang dia viral, di itu (pesawat) enggak ada di pesawat itu, Bu," kata Tifatul.
Tifatul Sembiring soal Akses Distribusi Film Indonesia ke Maskapai Penerbangan InternasionalMantan Menteri Komunikasi dan Informatika ini spesifik menyebut maskapai pelat merah hingga maskapai ternama dunia.
Menurut Tifatul, akses distribusi film Indonesia ke maskapai penerbangan internasional seharusnya menjadi prioritas promosi budaya.
"Garuda saja enggak ada, apalagi di Turkish Airline, apalagi di Qatar Airline, enggak ada. Dari seratus berapa tadi yang tayang di layar lebar internasional, lah kok enggak muncul dia?" tutur Tifatul.
Tifatul membandingkan negara-negara lain yang berhasil menembus pasar distribusi maskapai internasional. Tifatul mempertanyakan kenapa film dari negara dengan industri yang mungkin tak sebesar Indonesia justru bisa tampil di sana.
"Kenapa muncul film dari Maroko? Kenapa muncul dari film Prancis itu? Padahal kita itu bisa (mengangkat tema) sejarah Majapahit, masa penjajahan Jepang, cari yang unik-unik kan banyak itu," ucap Tifatul.
Lebih lanjut, Tifatul mendorong sineas Indonesia berani keluar dari zona nyaman genre komedi atau horor saja. Ia menilai kekayaan sejarah dan budaya Indonesia adalah modal kuat untuk membuat film yang edukatif sekaligus laku di kancah internasional.
"Belum lagi soal makanan, soal kuliner, soal budaya, dokumentari. Itu kan lebih hebat. Daripada kita baca buku setebal-tebal ini, film itu cepat mengedukasi kita, apalagi sejarah ya," kata Tifatul.
Tifatul berharap pemerintah melalui kementerian terkait bisa menjembatani distribusi ini agar film Indonesia tidak hanya populer di bioskop, tetapi juga bisa dinikmati oleh penumpang pesawat di seluruh dunia sebagai bagian dari diplomasi budaya.





