JAKARTA, KOMPAS – Ratusan siswa di Tomohon, Sulawesi Utara, mengalami keracunan yang diduga disebabkan oleh menu program Makan Bergizi Gratis atau MBG. Sementara para korban mendapatkan perawatan, pelaksana MBG di kota itu berkonsolidasi.
Dihubungi pada Rabu (28/1/2026), Koordinator MBG Wilayah Tomohon, Stevania Runtuwene, mengatakan dirinya menghadiri pertemuan dengan Kejaksaan Negeri Tomohon seusai musibah yang terjadi pada Senin (26/1/2026) itu. Kemudian, dilaksanakan pertemuan daring dengan Badan Gizi Nasional secara daring.
“Ini kami sedang Zoom dengan pimpinan BGN,” ujarnya singkat. Kendati begitu, Stevania menolak memberikan penjelasan lebih lanjut.
Sebelumnya, Stevania mengatakan menu MBG yang diduga menyebabkan keracunan itu disiapkan dan didistribusikan oleh salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kelurahan Kolongan Satu, Tomohon Tengah. Dari 12 sekolah yang dilayani, keracunan terjadi di SMK Negeri 1 Tomohon, SMA Katolik Karitas, dan SMK Katolik St Familia.
Menurut data Dinas Kesehatan Tomohon, ada 180 siswa yang mengalami keracunan di ketiga sekolah, sebagaimana dilaporkan Kompas TV. Mereka dilarikan ke tiga rumah sakit berbeda, yaitu RS Gunung Maria, RSUD Anugerah, dan RS Umum GMIM Bethesda, setelah mengalami sakit perut, mual, pusing, dan muntah-muntah.
Hari itu, siswa dilaporkan mendapatkan menu berupa nasi kuning, abon cakalang, bihun, sayur timun, dan buah melon. Antara 15.00-16.00 Wita, para siswa yang sudah sampai di rumah mengeluhkan gejala umum keracunan makanan, seperti sakit perut dan mual.
Mereka pun dibawa ke instalasi gawat darurat (IGD) tiga rumah sakit. Menurut video kunjungan Wakil Wali Kota Tomohon Sendy Rumajar di Facebook, para siswa terbaring dengan selang infus yang tersambung di tangan mereka, sementara para orangtua berjaga di samping mereka. Ada pula korban yang duduk di kursi roda karena kurangnya kapasitas IGD.
Hingga Rabu siang, menurut laporan Kompas TV, sebanyak 56 siswa masih dirawat inap di ketiga rumah sakit, sementara sisanya sudah diperbolehkan pulang. Namun, di SMKN 1 Tomohon, para siswa yang menjadi korban masih mengeluh sakit perut sehingga kepala sekolah Bastian Turambi menetapkan siswa belajar daring pada Rabu.
Sendy, wakil wali kota Tomohon, menyatakan dinas kesehatan menginspeksi dapur SPPG terkait untuk mencari tahu penyebab musibah ini. Ia mengatakan, ada setidaknya empat faktor yang menjadi fokus, yaitu kualitas bahan baku, cara pengolahan, cara penyajian, dan distribusi.
“Sudah sedikit bercakap-cakap dengan (perwakilan) yang dari SPPG, katanya sebelum distribusi mereka cicipin dulu. Ada penjamah kalau di SPPG istilahnya,” kata Sendy.
Ia menambahkan, sampel makanan sudah diambil untuk diperiksa di laboratorium Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BTKLPP) Manado. Hasil pemeriksaan akan membutuhkan waktu antara lima sampai tujuh hari.
Sembari menunggu, kata Sendy, pemerintah kota akan menyelidiki proses pengendalian kualitas di SPPG penyedia makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan. “Sudah tanya-tanya dari owner SPPG, apakah ada petugas quality control. Katanya ada, menurut pengakuan, tapi kan kita harus turunkan tim untuk investigasi terlebih dahulu,” ujarnya.
Hal serupa dinyatakan Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Tomohon Inspektur Satu Royke Mantiri. Bersama Dinas Kesehatan Tomohon dan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Manado, pihaknya telah mengambil sampel makanan dari SPPG dan sampel muntahan dari korban.
“Sudah dibawa ke labfor (laboratorium forensik) untuk diuji,” katanya sembari menambahkan bahwa pengelola SPPG sudah dipanggil untuk diperiksa.
Adapun para korban diimbau oleh pemerintah kota untuk membiayai perawatannya dengan menggunakan keanggotaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Menurut Sendy, pihaknya akan mendata pasien yang tak punya BPJS Kesehatan sehingga perawatannya dapat ditanggung pemerintah kota.


