Kisah Pertama
Suatu hari, di sebuah alun-alun di Kota Taipei, Taiwan, diadakan acara penggalangan dana oleh sebuah organisasi amal. Saya datang menghadirinya, dan setelah acara selesai, saya berjalan-jalan di sekitar lokasi.
“Bapak Liu, ya?” sapa seorang pegawai toko kerajinan tangan yang mengenali saya. Dia memiringkan kepalanya sambil menunjuk saya. “Saya tahu! Bapak datang untuk menghadiri acara penggalangan dana itu.”
“Kamu juga tahu ada acara penggalangan dana di alun-alun?” tanya saya heran.
“Tentu saja! Saya juga sempat ke sana dan ikut menyumbang,” katanya sambil mengeluarkan bukti donasi. Dia lalu mengajak saya melihat-lihat barang dagangannya. “Pak Liu, beli satu ya. Saya beri harga khusus.”
Saya pun membeli satu tanpa menawar, dengan keyakinan bahwa harganya pasti wajar.
Namun baru beberapa langkah pergi, saya melihat toko kerajinan lain. Di etalasenya terpajang barang yang persis sama, tetapi harganya hanya tiga perempat dari harga yang baru saja saya bayar.
Kisah Kedua
Suatu kali, saya membeli buah di sebuah kios. Pemiliknya tidak ada, hanya ada seorang anak berusia sekitar sepuluh tahun yang menjaga kios.
“Dik, dari dua jenis pir ini, yang mana lebih bagus?” tanya saya.
“Yang kanan!” jawabnya spontan sambil menunjuk, tanpa ragu.
Tak lama kemudian, sang pemilik kios datang dan menyapa saya.
Saya pun bertanya lagi: “Pak, menurut Anda saya sebaiknya membeli pir yang mana?”
“Yang kiri, tentu saja!” jawabnya cepat sambil menunjuk.
Saya tertawa kecil: “Tapi tadi adik ini bilang yang kanan lebih bagus.”
“Ting! Ini Pak Liu, teman baik! Kalau bicara harus jujur!” Tanpa peringatan, sang ayah menampar anak itu.
Baik. Cerita sudah selesai.
Sekarang kamu katakan:
Siapa yang baik?
Siapa yang jahat?
Siapa yang benar?
Siapa yang salah?
Begitulah watak manusia—sering kali tidak ada benar dan salah yang mutlak.
Seperti kata komposer besar Wang Luobin: “Ketika seseorang memotretmu dengan kamera yang sedikit miring ke kanan, di foto itu kamu menjadi ‘kiri’. Ketika kameranya sedikit miring ke kiri, di foto itu kamu menjadi ‘kanan’.”
Kita menonton tayangan korban bencana di televisi, lalu menitikkan air mata. Ketika nomor rekening donasi muncul di layar, kita buru-buru mencatatnya dan menelepon untuk menyumbang. Kita ikut retret, pengajian, kebaktian, meditasi, atau pengakuan dosa.
Namun keesokan paginya, saat kita masuk kantor—yang harus diperebutkan tetap diperebutkan, yang harus dipertengkarkan tetap dipertengkarkan; iri hati, keserakahan, dan ego kembali muncul.
Seberapa banyak sebenarnya kita berubah? Bukankah pegawai toko kerajinan dalam kisah pertama juga demikian?
Lalu kisah kedua. Jika kamu berada di posisi saya—kamu akan percaya anak itu, atau percaya ayahnya?
Apa pun pilihanmu, tetap menyedihkan.
Jika kamu percaya anak itu, kamu bersedih karena dia berkata jujur tetapi justru dipukul, dan ayahnya berbohong di hadapannya. Jika kamu percaya ayahnya, kamu tetap bersedih—karena anak itu belajar kebohongan sejak kecil.
Mengapa anak sekecil itu sudah belajar berbohong? Siapa yang mengajarinya?
Pertanyaannya adalah: saat kita mendidik anak-anak, bukankah kita sering melakukan kesalahan yang sama?
Sesungguhnya, kita semua berada dalam siklus yang terus berulang. Tidak seorang pun tahu berapa kali dalam hidupnya ia akan melewati surga dan berapa kali ia akan jatuh ke neraka.
Bukankah demikian? Mengapa harus menunggu mati untuk masuk surga atau neraka?
Jika surga dan neraka memang ada, seharusnya kita berkata: “Orang yang selama hidupnya hatinya sering berada di surga, setelah mati mungkin juga akan menuju surga; orang yang selama hidupnya hatinya dipenuhi ‘setan’, setelah mati mungkin akan menuju neraka.”
Sesungguhnya, sepanjang hidup ini kita terus bergulat di dalam hati.
Kita hidup di neraka sambil memimpikan surga; kita hidup di surga sambil membayangkan neraka; dan lebih jauh lagi— kita hidup di surga, tetapi mendorong orang lain jatuh ke neraka.
Renungan / Hikmah Cerita
“Keras kepada orang lain, lunak kepada diri sendiri”—itulah wajah manusia.
Beberapa kisah di atas menggambarkan kesalahan yang paling sering terjadi dalam watak manusia. Dari kedua cerita, yang paling menggetarkan hati adalah kisah kedua: penjual buah.
Anak-anak adalah harapan masa depan. Sejak kecil, mereka meniru cara berpikir dan bertindak generasi sebelumnya.
Berkata jujur—dipukul.
Berbohong—justru dipuji.
Nilai-nilai pun terdistorsi sejak dini. Dan ketika mereka dewasa, cara mereka menghadapi masalah pun akan berangkat dari kepentingan dan keuntungan, bukan kebenaran.(jhn/yn)



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5483029/original/002234700_1769319494-WhatsApp_Image_2026-01-25_at_12.34.15.jpeg)
