Beberapa minggu terakhir di awal tahun 2026, timeline media sosial diramaikan dengan foto-foto dan video lama, diiringi lagu yang sesuai seolah membersamai cerita dalam foto tersebut. Caption tersebut menyatakan kilas balik ke tahun 2016, tepat satu dekade. Frasa “2026 is the new 2016” jadi semacam payung besar untuk itu semua, banyak warganet menuliskan throwback sambil menyisipkan kalimat syukur atau sekadar mengakui cerita dulu yang mungkin tidak lebih baik dari hari ini atau mungkin sebaliknya.
Tren ini menarik karena throwback seakan menjadi bahasa sosial, bisa menyampaikan emosi besar (rasa syukur, pencapaian, rasa rindu) dengan cara yang ringan dan diterima audiens. Seperti fenomena digital lainnya, ekspresi ini tidak berhenti begitu saja malah berlanjut menjadi arus kolektif karena ada mesin distribusi bernama algoritma yang ikut mendorongnya.
Nostalgia sebagai Emosi Sosial yang BersambungAda satu konsep yang membantu kita memahami mengapa throwback terasa pas di hati kita, yaitu adanya self-continuity, rasa bahwa diri kita yang sekarang tetap tersambung dengan diri kita yang dulu. Dalam riset Sedikides dkk, nostalgia (kerinduan sentimental pada masa lalu) terbukti mendorong self-continuity lewat meningkatnya social connectedness (perasaan diterima, punya tempat, dan terhubung dengan orang lain).
Sederhananya, ketika orang mengunggah momen masa-masa nostalgia, sering kali yang sedang mereka cari adalah memori, tetapi muncul juga rasa terhubung dengan diri sendiri. Terhubung dengan melihat perkembangan diri, melihat orang-orang sekitar dan makna hidup yang dilewati.
Temuan-temuan tentang nostalgia sebagai pengalaman yang menambah makna hidup juga bisa kita lihat dalam karya van Tilburg dkk. yang merangkum bagaimana nostalgia berhubungan dengan kebermaknaan (meaning in life) melalui mekanisme sosial dan identitas.
Kita tahu media sosial menjadi tempat untuk menyampaikan simbol-simbol pesan, maka bahwa cukup jarang kita lihat seseorang mengunggah sesuatu tanpa adanya pesan, se-sedikit apapun itu. Bahkan ketika itu disampaikan 'hanya iseng', tetap ada pilihan foto mana yang dipakai, momen mana yang dipilih, dan kalimat mana yang ditulis. Di sini, nostalgia menjadi format komunikasi yang efektif karena ia bisa memuat emosi besar tanpa terasa berlebihan.
Throwback sering dipakai sebagai narasi perkembangan seperti menyatakan dulu aku begini, sekarang aku begini. Konsep impression management ala Erving Goffman yang membungkus ini menyampaikan bahwa bahwa dalam interaksi sosial kita cenderung mengelola kesan, menampilkan ‘front stage’ yang ingin dilihat orang, dan menyimpan 'back stage' untuk ruang yang lebih privat. Bedanya, throwback memberi jalan tengah bagi orang yang ingin menyampaikan pencapaiannya karena terkesan lebih menunjukan refleksi diri.
Begitupun dengan throwback yang mengandung pesan syukur, meski tidak diucapkan secara gamblang. Ada kalimat-kalimat seperti “ternyata sudah sejauh ini”, “ternyata aku bisa melewatinya”, “ternyata hidup berubah banyak.” Nostalgia memang terkait dengan penguatan makna hidup dan perasaan positif terhadap diri kita sendiri. Ada pesan kerinduan yang juga hadir dalam tren ini. Kerinduan pada suasananya, bahkan banyak warganet yang menyampaikan tentang kerinduan pada dunia digital yang lebih sederhana dan ‘cukup’ di satu dekade lalu.
Tren Bersama namun Pesan PersonalMedia sosial memiliki kemampuan mengumpulkan orang lewat emosi yang sama. Konsep affective publics dari Papacharissi menyampaikan bahwa publik yang terbentuk dan bergerak melalui sirkulasi afek/emosi di jaringan digital. Throwback adalah format pesan yang mudah dipahami dan mudah ditiru bahkan dapat memicu respons cepat. Respons dan berbagai komentar pun membentuk perkembangan emosi yang membuat tren semakin kuat.
Dalam platform society seperti media sosial, aktivitas sosial kita semakin dimediasi oleh platform yang punya mekanisme seleksi, kemudian mengukurnya untuk nantinya didistribusikan sehingga membentuk pesan yang ramai. Pesan nostalgia bisa unggul, mungkin karena memenuhi beberapa kriteria konten yang disukai ekosistem platform, misalnya familiar, aman dan bisa menghadirkan interaksi yang banyak dengan audiens. Meskipun kita menyadari bahwa algoritma ini adalah sebuah sistem yang dapat menyortir dan membentuk pola perhatian bagi warganet.
Tren throwback menunjukkan satu hal yang mungkin sering kita lupakan yaitu bagi sebagian orang, media sosial ternyata menjadi tempat orang untuk menyusun makna hidupnya secara publik. Ketika emosi setelah melihat pesan throwback itu beresonansi, platform membesarkannya dan membuatnya terlihat seperti gelombang besar milik bersama.
Bisa jadi ada sesuatu dari tahun 2016 yang masih kita cari atau justru pencarian tersebut sudah didapat di tahun 2026 ini.





:strip_icc()/kly-media-production/medias/5478865/original/037928200_1768955017-PHOTO-2026-01-20-18-28-26.jpg)