JAKARTA, DISWAY.ID - Fenomena kerja lembur tengah menjadi sorotan tajam setelah Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data mengejutkan yang menyebutkan sekitar 40,43 persen pekerja di Indonesia terjebak dalam waktu kerja berlebihan.
Menanggapi situasi tersebut, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin angkat bicara dengan perspektif yang menitikberatkan pada manajemen kesehatan individu.
BACA JUGA:Onad Ingin Sambangi Habib Jafar Usai 3 Bulan Rehab: Sudah Pasti Itu!
BACA JUGA:Le Eminence Jadi Andalan, Eminence Global Siap Perluas Jaringan Properti
Bagi Menkes, beban kerja yang tinggi sebenarnya bisa ditoleransi oleh tubuh, asalkan para pekerja tidak mengabaikan hak dasar biologis mereka, yakni istirahat.
Menurutnya, kunci utama agar stamina tidak ambruk di tengah tekanan pekerjaan adalah durasi tidur yang berkualitas.
“Harus tidur cukup. Lembur itu tidak apa-apa, yang penting tidurnya tetap dijaga 7 sampai 8 jam sehari,” ujar Budi Gunadi saat memberikan keterangan di kawasan Jakarta Pusat, Rabu 28 Januari 2026.
Mantan Direktur Utama Bank Mandiri ini menjelaskan bahwa kurang tidur bukan sekadar masalah kantuk biasa. Hal tersebut merupakan ancaman serius bagi sistem imun dan kebugaran fisik jangka panjang.
BACA JUGA:Satpol PP DKI Sita Hampir 40 Ribu Butir Tramadol Sepanjang 2025
BACA JUGA:Update Longsor Pasirlangu, 35 Korban Berhasil Teridentifikasi
Bagi pekerja yang sering pulang larut malam, memprioritaskan waktu tidur menjadi harga mati agar daya tahan tubuh tidak jeblok.
Budi menekankan bahwa tanpa istirahat yang cukup, produktivitas yang dikejar melalui lembur justru akan menjadi bumerang bagi kesehatan pekerja itu sendiri.
Kondisi fisik yang kelelahan akibat kurang tidur akan membuat seseorang lebih rentan terserang berbagai penyakit kronis.
Selain urusan fisik, Menkes juga menyoroti beban psikologis yang membayangi 40 persen pekerja tersebut. Ia mengingatkan bahwa kerja lembur seringkali diikuti oleh stres berlebihan yang jika dibiarkan, dapat bermuara pada gangguan kesehatan mental.
“Jangan sampai stres berlebihan karena beban kerja. Itu bisa memicu gangguan kesehatan, termasuk masalah mental,” tuturnya.
- 1
- 2
- »




