Jakarta: Pakar kesehatan Prof. Tjandra Yoga Aditama memperingatkan masyarakat mengenai dampak serius penggunaan gas dinitrogen oksida N20 atau yang populer disebut "gas tertawa". Jika disalahgunakan untuk kepentingan rekreasi, zat inhalan ini dapat merusak organ vital secara permanen.
“Pada mereka yang berkali-kali menghisap N20 maka dapat menimbulkan gangguan neurologik dan bahkan gangguan otak,” ujar Prof. Tjandra Yoga Aditama saat dihubungi Antara dari Jakarta, Rabu, 28 Januari 2026.
Baca Juga :
GERD Jadi Sorotan Usai Kematian Lula LahfahMantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara ini menjelaskan bahwa organ utama yang menjadi sasaran kerusakan akibat N20 meliputi sistem pernapasan, saraf, hingga reproduksi. Dampak fisiknya sangat beragam, mulai dari sesak napas, palpitasi jantung, hingga kelumpuhan pada tungkai kaki yang membuat korban sulit berjalan.
“Data lain juga menunjukkan penggunaan N20 berkepanjangan dapat menurunkan kesuburan atau fertilitas dan pada keadaan tertentu menimbulkan keguguran,” kata Tjandra.
Penyalahgunaan gas ini sering kali dipicu oleh efek euforia singkat, relaksasi, atau halusinasi ringan yang ditimbulkannya. Namun, di balik tawa sesaat itu, tersimpan risiko gangguan kejiwaan serius seperti paranoid, halusinasi akut, hingga depresi berat.
Baca Juga :
Dokter Spesialis: GERD Tidak Menyebabkan Serangan Jantung“Dengan berbagai bahaya yang ada maka jangan menggunakan N20 untuk alasan sensasi sesaat,” tegas Direktur Pascasarjana Universitas YARSI itu.
Senada dengan peringatan medis tersebut, Badan Narkotika Nasional (BNN) RI melalui Kepala BNN RI Komisaris Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto menegaskan bahwa N20 tidak diperuntukkan bagi konsumsi luar medis. Masyarakat diminta tidak mencoba-coba menghirup zat yang sering ditemukan dalam kemasan "Whip Pink" ini karena risikonya bersifat fatal.
"N20 bukan untuk konsumsi rekreasi. Efek euforianya singkat, tetapi risikonya fatal dan permanen," kata Komjen Suyudi Ario Seto.


