Bagaimana Imlek di Indonesia Hidup Lewat Masakan Peranakan?

kumparan.com
9 jam lalu
Cover Berita

Setiap Imlek, saya selalu merasa bahwa perayaan ini tidak pernah benar-benar soal satu hari tertentu. Ia hadir jauh sebelum tanggalnya tiba dan tetap terasa setelahnya berlalu. Imlek hidup dalam aroma masakan, dalam kebiasaan duduk bersama, dan dalam cerita-cerita keluarga yang sering kali baru muncul ketika orang-orang berkumpul di meja makan.

Di Indonesia, Imlek tidak tumbuh sebagai tradisi yang terpisah. Sejak awal kehadiran komunitas Tionghoa di Nusantara, perayaan ini berkembang melalui proses perjumpaan panjang dengan budaya lokal. Ia beradaptasi, berubah bentuk, dan menemukan caranya sendiri untuk bertahan. Nilai-nilai seperti penghormatan kepada leluhur, kebersamaan keluarga, dan harapan akan kehidupan yang lebih baik tidak hilang, tetapi diterjemahkan sesuai konteks sosial dan budaya Indonesia.

Jejak perjumpaan itu paling mudah dirasakan melalui makanan. Masakan sering kali menjadi saksi paling jujur dari sebuah sejarah, karena ia lahir dari kebutuhan sehari-hari dan diwariskan tanpa banyak narasi besar. Dari dapur-dapur rumahan, teknik memasak Tionghoa bertemu dengan bahan-bahan lokal Nusantara, melahirkan masakan peranakan yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas kuliner Indonesia.

Dalam tradisi Imlek, makanan tidak pernah sekadar untuk dimakan. Setiap hidangan membawa harapan dan simbol; panjang umur, kemakmuran, kesehatan, dan keharmonisan. Namun di Indonesia, simbol-simbol itu tidak selalu hadir dalam bentuk yang kaku. Ia menyesuaikan diri dengan rasa, kebiasaan, dan bahan yang tersedia. Bumbu lokal, teknik memasak rumahan, hingga cara penyajian yang bersahaja membuat masakan peranakan terasa dekat dan personal.

Yang menarik, banyak resep peranakan tidak pernah ditulis secara resmi. Ia hidup melalui ingatan dan kebiasaan. Dari satu generasi ke generasi berikutnya, rasa dijaga bukan lewat takaran yang presisi, melainkan lewat pengalaman. “Secukupnya” dan “kira-kira” menjadi bahasa dapur yang umum. Dalam konteks ini, masakan peranakan bukan hanya kuliner, melainkan arsip budaya yang hidup dan terus bergerak.

Pengalaman tentang bagaimana makanan menyimpan ingatan itu kembali saya rasakan ketika berkunjung ke sebuah restoran peranakan di Jakarta Pusat, Dapur Babah Elite. Bukan semata karena hidangan yang disajikan, melainkan karena ruang dan suasana yang diciptakan. Bangunan lama, interior bernuansa tempo dulu, serta detail-detail visual membawa pengunjung masuk ke narasi kehidupan keluarga peranakan pada masa lalu.

Di tempat seperti ini, makan tidak diposisikan sebagai aktivitas cepat. Ia menjadi pengalaman yang mengajak orang untuk memperlambat waktu. Setiap hidangan terasa seperti pengingat bahwa masakan peranakan lahir dari dapur rumah tangga, dari kehidupan keluarga Babah yang tumbuh di tengah pertemuan budaya Tionghoa, Jawa, dan Eropa. Tanpa harus dijelaskan panjang lebar, ruang makan itu sendiri sudah bercerita.

Dalam konteks Imlek, pengalaman seperti ini terasa relevan. Perayaan ini pada dasarnya adalah tentang kebersamaan dan ingatan. Duduk bersama, berbagi hidangan, dan mengulang ritual yang sama dari tahun ke tahun menjadi cara sederhana untuk menjaga kesinambungan tradisi. Makan bersama bukan lagi sekadar rutinitas, melainkan peristiwa sosial yang sarat makna.

Masakan peranakan, dengan segala kesederhanaannya, menunjukkan bahwa identitas budaya tidak pernah benar-benar statis. Ia terus menyesuaikan diri dengan zaman, tanpa kehilangan akarnya. Di tengah perubahan gaya hidup modern ketika waktu semakin terasa sempit dan makan sering kali menjadi aktivitas individual tradisi makan bersama saat Imlek menjadi pengingat akan nilai yang lebih dalam.

Imlek di Indonesia pada akhirnya mencerminkan wajah bangsa ini sendiri; beragam, tidak selalu seragam, namun saling mengisi. Dari dapur-dapur rumah hingga ruang makan bernuansa heritage, tradisi ini terus hidup dalam bentuk yang berbeda-beda. Sejarah tidak hanya tersimpan dalam buku atau arsip, tetapi juga dalam rasa, aroma, dan kebiasaan yang diulang dari generasi ke generasi.

Mungkin itulah sebabnya Imlek selalu terasa dekat. Karena ia tidak hanya dirayakan sebagai peristiwa tahunan, tetapi dialami sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Selama masih ada meja makan yang mempertemukan orang-orang dan masakan yang menyimpan cerita, Imlek akan terus hidup tidak hanya sebagai tradisi, tetapi sebagai ingatan kolektif yang terus bergerak bersama waktu.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Cuaca Buruk, Operasional Kapal Cepat ke Kepulauan Seribu Masih Dihentikan
• 11 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Gugatan Wanprestasi Rp1 Miliar, Kuasa Hukum PT SLS Minta Sidang Bebas dari Intervensi
• 9 jam lalueranasional.com
thumb
Presiden Meksiko Pusing, Tiket Konser BTS 150 Ribu, Calon Penonton 1 Juta
• 3 jam lalugenpi.co
thumb
10 Saksi Sudah Diperiksa, Polisi Masih Irit Bicara soal Penyebab Kematian Selebgram Lula Lahfah
• 17 jam laluliputan6.com
thumb
SE Kepala BKN Terbaru soal Seragam Korpri: PNS, PPPK dan Paruh Waktu Setara!
• 21 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.