Iran mengklaim pihaknya mengendalikan penuh atas wilayah darat, bawah laut, dan udara Selat Hormuz di tengah ancaman serangan Amerika Serikat (AS) terhadap Teheran. Iran tidak menghendaki perang, namun siap jika hal itu terjadi.
Dilansir kantor berita Anadolu Agency, Rabu (28/1/2026), pernyataan tersebut disampaikan komandan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Mohammad Akbarzadeh, sebagaimana dikutip kantor berita Fars. Ia menegaskan bahwa Iran tidak menginginkan perang, namun berada dalam kondisi siap sepenuhnya.
"Iran tidak mencari perang, tetapi sepenuhnya siap. Jika perang pecah, tidak akan ada mundur, bahkan satu milimeter pun, dan Iran akan terus melangkah maju," ujar Akbarzadeh.
Menurutnya, pengelolaan jalur strategis Selat Hormuz kini telah melampaui metode konvensional dan sepenuhnya berbasis sistem cerdas. Sehingga, katanya, memungkinkan Iran melakukan pengawasan berkelanjutan terhadap seluruh pergerakan laut, permukaan, dan bawah laut.
Akbarzadeh juga mengatakan Iran memiliki kendali dalam menentukan apakah kapal-kapal dengan berbagai bendera diizinkan melintas di selat tersebut. Meski demikian, ia menegaskan Teheran tidak menginginkan terganggunya perekonomian global.
"Iran tidak ingin ekonomi dunia menderita," katanya, seraya memperingatkan bahwa Amerika Serikat dan sekutunya "tidak akan dibiarkan mengambil keuntungan dari perang yang mereka mulai".
Ia menambahkan bahwa jika wilayah darat, udara, atau perairan negara-negara tetangga digunakan untuk menyerang Iran, maka wilayah tersebut akan diperlakukan sebagai sasaran "musuh". Menurutnya, pesan itu telah disampaikan kepada para pihak regional.
Komandan IRGC tersebut juga menegaskan Iran memiliki kemampuan tambahan yang akan diungkap "pada waktu yang tepat".
Selat Hormuz merupakan jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman, serta menjadi rute vital bagi perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. Jalur ini dilalui sekitar sepertiga pengiriman minyak mentah dunia melalui laut dan mencakup sekitar seperlima dari total konsumsi minyak global.
Setiap hari, sekitar 20 juta barel minyak dan produk minyak bumi diangkut melalui Selat Hormuz, sebagian besar menuju pasar Asia, terutama China. Sebagian besar ekspor minyak Iran ke China juga melewati jalur ini.
Sekitar 85 persen ekspor minyak Irak diangkut melalui Selat Hormuz. Arab Saudi menyumbang sekitar 35 persen dari total minyak yang melintas di jalur ini, disusul Uni Emirat Arab sebesar 20 persen dan Irak sekitar 27 persen. Selain itu, sekitar 20 persen perdagangan LNG dunia juga melalui selat tersebut.
Ketegangan antara Teheran dan Washington meningkat dalam beberapa waktu terakhir menyusul aksi protes anti-pemerintah di Iran. Pemerintah Amerika Serikat menyatakan seluruh opsi, termasuk tindakan militer, tetap terbuka dalam menghadapi Iran. Pejabat Iran sebelumnya memperingatkan bahwa setiap serangan AS akan dibalas dengan respons yang "cepat dan menyeluruh".
(whn/eva)




