Dosen UGM Kembangkan Kandungan dari Panas Bumi untuk Penyubur Tanaman

liputan6.com
2 jam lalu
Cover Berita

Liputan6.com, Jakarta - Dosen Fakultas Teknik, Departemen Teknik Kimia, Universitas Gadjah Mada (UGM) Himawan Tri Bayu Murti Petrus berhasil menciptakan inovasi nanosilika dari panas bumi (geothermal) sebagai penyubur dan penguat tanaman.

Ia mengatakan, pembaruan ini dirancang untuk membuka peluang menuju hilirisasi dan penerapan industri di masa mendatang.

Advertisement

BACA JUGA: Program TFCCA Resmi Diluncurkan, Jaga Terumbu Karang di 3 Bentang Laut Indonesia

“Proses ini juga dirancang agar memiliki potensi replikasi dan peningkatan skala, sehingga membuka peluang menuju tahap hilirisasi dan penerapan industri di masa depan,” ujar Himawan, dilansir Liputan6.com dari laman resmi Universitas Gadjah Mada (UGM), Selasa (27/1/2026).

Indonesia memiliki potensi kekayaan panas bumi mencapai 40 persen dari potensi dunia, yaitu 23.965,5 Megawatt (MW). 

Potensi geothermal ini tersebar di Pulau Sumatera, Jawa, Bali, dan Sulawesi, sehingga dapat dikatakan berpeluang untuk mencukupi kebutuhan energi nasional sekaligus menurunkan produksi emisi karbon. 

Oleh karena itu, pemanfaatan kandungan nanosilika ini mampu menjadi terobosan baru dalam penggunaan sumber daya alam menjadi sesuatu yang berdaya guna untuk lingkungan.

Nanosilika sendiri berasal dari pengolahan melalui rekayasa material dan pengendalian proses yang dikembangkan secara bertahap, kemudian silika geothermal berhasil diolah menjadi nanosilika dengan karakteristik unggul, stabil, dan konsisten.

Di sektor pertanian, kata Himawan, nanosilika berperan dalam memperkuat dinding sel tanaman, meningkatkan ketegakan tanaman, serta memperbaiki efisiensi transportasi nutrisi. 

Nanosilika memiliki keunggulan pada ketersediaan hayatinya yang tinggi, sebab ukuran dan bentuknya mudah diserap tanaman.

“Penggunaannya juga sangat efisien, yakni sekitar 1-2 kilogram per hektare, jauh lebih rendah dibandingkan pupuk makro seperti NPK, sehingga mendukung praktik pertanian yang lebih efisien, adaptif, dan berkelanjutan,” terangnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Bisa Tak Diguyur Hujan Selama Berabad-abad, Ini Tempat Terkering di Bumi
• 19 jam lalukumparan.com
thumb
Rocky Gerung Turun Gunung Bela Roy Suryo dkk di Kasus Ijazah Jokowi
• 20 jam lalukompas.com
thumb
Komisi VIII Ungkap Masih Ada Guru Madrasah Digaji Rp 50 Ribu: Tak Sesuai Asta Cita Presiden
• 13 jam lalukompas.com
thumb
Sunghoon ENHYPEN Jadi Pembawa Obor Olimpiade 2026, Impian Lama Akhirnya Terwujud
• 18 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Kemitraan Strategis Diperkuat, Indonesia dan Prancis Luncurkan Tahun Inovasi untuk Pendidikan Tinggi dan Riset
• 3 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.