Liputan6.com, Jakarta - Penyintas banjir di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, kini mulai menempati hunian sementara (huntara) berbahan kayu meski fasilitas penting seperti listrik dan kamar mandi belum tersedia.
Abdulah (58) salah satu warga setempat, bersama istri dan dua anaknya telah tinggal di huntara kayu berukuran 6x6 meteri dengan dua kamar selama sepekan setelah sebelumnya mengungsi di tenda pengungsian sekitar satu bulan lebih.
Advertisement
"Sebelum masuk di huntara sini, saya bersama keluarga tinggal di tenda pengungsi," kata Abdullah, melansir Antara, Rabu (28/01/2026).
Bantuan huntara kayu tersebut dari Kementerian Kehutanan (Kemenhut) yang bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BnpB), Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Rumah Zakat, termasuk dengan terlibatnya prajurit TNI AD dari Batalyon Zeni Tempur 5/Arati Bhaya Wighina. Sementara untuk proses pembangunannya dilakukan secara mandiri bersama keluarga dan kerabatnya.
Hunian tersebut berdiri di atas tanah miliknya sendiri, dan materialnya berasal dari kayu gelondongan yang hanyut terbawa banjir yang melanda kawasan itu. Meski belum memiliki listrik dan hanya beratapkan seng, Abdullah menyebut huntara tersebut jauh lebih layak dibandingkan dengan tenda pengungsian yang sebelumnya mereka tinggali, yang terasa panas di siang hari dan dingin di malam hari.
Abdullah mengaku memilih lokasi huntara di lahannya sendiri agar dekat dengan kebun, meski saat ini ia belum bisa kembali bekerja karena lingkungan rumahnya yang belum bersih dan belum tersedia fasilitas untuk mandi.
Untuk kebutuhan pengerangan malam hari, Abdullah memanfaatkan aki motornya yang rusak akibat banjir, yang ddihubungkan dengan kabel sederhana sebagai sumber listrik sementara di huntara kayu tempat keluarganya berteduh selama pemulihan pascabencana berlangsung.



