Armada AS Siap Serang Iran, Trump Beri Ultimatum Keras-Teriak Nuklir

cnbcindonesia.com
4 jam lalu
Cover Berita
Foto: Kapal induk kelas Nimitz USS Abraham Lincoln (CVN 72) saat awaknya melakukan operasi penerbangan rutin di Timur Tengah karena meningkatnya ketegangan menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya perang di seluruh wilayah. (Tangkapan Layar Video AFP)

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat dan Iran benar-benar di ambang perang setelah Presiden AS Donald Trump secara terbuka memperingatkan bahwa waktu bagi Teheran untuk bernegosiasi hampir habis, sembari mengumumkan pengerahan armada militer besar menuju kawasan tersebut.

Melalui unggahan di media sosial pada Rabu (28/1/2026), sebagaimana dilansir The Guardian, Trump menyatakan bahwa armada yang dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln bergerak cepat menuju Iran "dengan kekuatan, antusiasme, dan tujuan besar".

Ia menegaskan armada itu bahkan lebih besar dibandingkan kekuatan militer yang sebelumnya dikerahkan ke Venezuela sebelum jatuhnya Nicolás Maduro awal bulan ini, serta siap "melaksanakan misinya dengan kecepatan dan kekerasan jika diperlukan".


Baca: Selat Hormuz Panas! Iran Terjunkan Militer, Warning Tembakan Langsung

"Semoga Iran segera 'Duduk di Meja Perundingan' dan menegosiasikan kesepakatan yang adil dan merata - TANPA SENJATA NUKLIR - kesepakatan yang menguntungkan semua pihak. Waktu hampir habis, ini benar-benar sangat penting!

Seperti yang pernah saya katakan kepada Iran sebelumnya, BUAT KESEPAKATAN! Mereka tidak melakukannya, dan terjadilah 'Operasi Midnight Hammer,' sebuah penghancuran besar-besaran di Iran. Serangan berikutnya akan jauh lebih buruk! Jangan sampai itu terjadi lagi," tulisnya.

Pernyataan tersebut menjadi sinyal paling keras sejauh ini bahwa Trump mempertimbangkan serangan militer dalam waktu dekat jika Iran menolak bernegosiasi terkait masa depan program nuklirnya. Unggahan itu juga menunjukkan perubahan signifikan dalam alasan resmi Gedung Putih atas pengerahan armada, dari sebelumnya menyoroti kematian para demonstran di Iran, kini bergeser fokus ke isu nuklir Teheran.

Awal bulan ini, Trump sempat mendorong warga Iran untuk terus melakukan protes, dengan mengatakan kepada mereka bahwa "bantuan sedang dalam perjalanan". Namun ia kemudian menarik kembali pernyataan itu dengan alasan bahwa "pembunuhan telah berhenti".

Di balik layar, muncul spekulasi bahwa Trump menahan diri karena keterbatasan aset militer di kawasan, tekanan dari negara-negara Teluk agar menahan eskalasi, serta saran dari Israel yang menginginkan lebih banyak waktu untuk bersiap menghadapi kemungkinan serangan balasan Iran.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan kepada Senat pada Rabu bahwa ribuan orang telah terbunuh dan menilai pemerintah Iran "mungkin berada dalam posisi terlemah sejak Revolusi 1979".

Baca: Timur Tengah Memanas, AS Sengaja Pamer Kekuatan Militer di "Muka" Iran

Namun Rubio juga memperingatkan bahwa Iran masih memiliki kemampuan militer signifikan. Menurutnya, sekitar 30.000 personel militer AS berada "dalam jangkauan ribuan UAV satu arah Iran dan rudal balistik jarak pendek yang mengancam kehadiran pasukan kami".

"Kita harus memiliki cukup personel di wilayah tersebut... untuk berjaga-jaga terhadap kemungkinan itu," kata Rubio.

Ia menambahkan bahwa Trump tetap mempertahankan opsi "pertahanan preemtif" untuk menyerang Iran jika ada indikasi Teheran merencanakan serangan terhadap pasukan AS.

"Mereka jelas memiliki kemampuan itu karena mereka telah mengumpulkan ribuan rudal balistik yang telah mereka buat," ujarnya.

Diplomat Eropa mengaku telah memperkirakan krisis akan berkembang pada akhir pekan dan mendeteksi tanda-tanda kegelisahan Israel atas skala potensi serangan balasan Iran.

Dalam unggahan media sosial berbahasa Ibrani, penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, Ali Shamkani, memperingatkan, "Setiap tindakan militer oleh Amerika, dari sumber manapun dan di tingkat manapun, akan dianggap sebagai awal dari perang, dan tanggapannya akan segera, komprehensif, dan belum pernah terjadi sebelumnya, diarahkan kepada agresor, ke jantung Tel Aviv dan kepada semua pendukungnya."

Negara-negara Teluk dan Turki disebut aktif melakukan komunikasi dengan kedua pihak untuk mencari titik temu, namun Iran menegaskan tidak akan bernegosiasi di bawah tekanan atau prasyarat.

Utusan khusus Trump, Steve Witkoff, mengatakan di World Economic Forum di Davos bahwa kesepakatan dengan Iran seharusnya dapat tercapai.

"Jelas, kesepakatan ini ada hubungannya dengan rudal. Ini ada hubungannya dengan pengayaan uranium. Ini ada hubungannya dengan aktor proksi non-negara. Ini ada hubungannya dengan [persediaan] material nuklir Iran," katanya kepada CNBC.

Baca: Terancam Dibombardir Armada Perang AS, Iran Ngadu ke Arab Saudi

Dalam beberapa hari terakhir, Trump tidak hanya ingin membatasi sisa-sisa program nuklir Iran, tetapi juga kemampuan rudal jarak jauhnya, yang selama ini dianggap sebagai inti proyeksi kekuatan militer Teheran. Trump bahkan sempat menyarankan agar Khamenei "mundur dari panggung dunia", tuntutan yang dipastikan akan ditolak Iran.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan ia tidak siap bernegosiasi di bawah ancaman, namun bersedia berdialog tanpa prasyarat. "Angkatan Bersenjata kita yang gagah berani siap - dengan jari-jari mereka di pelatuk - untuk segera dan dengan kuat menanggapi SETIAP agresi terhadap tanah, udara, dan laut kita tercinta," tulisnya di X pada Rabu malam.

"Pada saat yang sama, Iran selalu menyambut baik KESEPAKATAN NUKLIR yang saling menguntungkan, adil, dan merata - atas dasar kesetaraan, dan bebas dari paksaan, ancaman, dan intimidasi - yang menjamin hak Iran atas teknologi nuklir DAMAI, dan menjamin TIDAK ADA SENJATA NUKLIR."

Dalam 24 jam terakhir, Araghchi dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah berbicara dengan diplomat dari Arab Saudi, Qatar, dan Mesir. Ketiga negara Arab tersebut berupaya keras membuka kembali jalur diplomasi tanpa Iran harus menerima hasil yang telah ditentukan sebelumnya.

Mereka sebelumnya berperan penting dalam meyakinkan Trump untuk menahan diri tiga pekan lalu. Namun kini Trump memiliki fleksibilitas militer lebih besar dan terlihat lebih fokus pada isu nuklir dibandingkan hukuman atas penindasan berdarah terhadap demonstran.

 


(luc/luc)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Trump Mau di Makzulkan? hingga Zona Megathrust RI Berubah

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Waduh! Dapur MBG di Ponorogo di Bawah Kandang Burung, Dinkes Lakukan Sidak 
• 22 jam lalurealita.co
thumb
Ivan Perisic Tak CUkup, Inter Milan Juga Incar Mantan Pemain Aston Villa di Akhir Bursa Transfer Januari
• 37 menit lalutvonenews.com
thumb
Cuaca Tak Stabil, KM Sabuk Nusantara 43 Kembali Gagal Berlayar
• 23 jam lalutvrinews.com
thumb
Prajurit TNI yang Tuduh Penjual Es Gabus Dapat “Jam Komandan”, Apa Itu?
• 4 jam lalukompas.com
thumb
PBNU Gelar Harlah ke-100 di Istora Senayan pada 31 Januari 2026, Prabowo Bakal Hadir
• 13 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.