Bisnis.com, JAKARTA - Keputusan bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve (The Fed) untuk menahan suku bunga acuan pada Kamis (29/1/2026) waktu Indonesia, memicu pergerakan beragam di pasar keuangan global. Saham dan obligasi bergejolak, sementara dolar AS menguat setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan dukungan pemerintah terhadap mata uang yang kuat.
Di pasar saham, reli yang sebelumnya mendorong indeks S&P 500 menembus level 7.000 mereda pada akhir perdagangan setelah pengumuman waktu setempat. Dikutip dari Bloomberg, saham-saham teknologi bergerak bervariasi. tercatat Meta Platforms Inc. menguat didorong prospek yang dinilai positif, Tesla Inc. naik setelah laba melampaui perkiraan, sementara Microsoft Corp. melemah karena kekhawatiran tingginya belanja investasi kecerdasan buatan. Secara keseluruhan, S&P 500 bergerak relatif datar.
Di pasar obligasi, imbal hasil surat utang pemerintah AS tenor 10 tahun hampir tidak berubah di kisaran 4,25%. Sementara itu, dolar AS menguat sekitar 0,4%, mencatatkan kenaikan harian terbesar sejak November. Penguatan ini terjadi setelah Menteri Keuangan Bessent menegaskan AS tetap menganut kebijakan dolar kuat dan menepis spekulasi intervensi terhadap yen Jepang, yang justru melemah hampir 1%. Dalam fluktuasi pasar itu, harga emas terus menguat dan menembus level 5.300 dolar AS per troy ons.
Sikap The Fed dan Prospek Kebijakan
Dalam rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) dini hari tadi waktu Indonesia, Dewan Gubernur The Fed memutuskan menahan suku bunga dana federal di kisaran 3,5–3,75% dengan hasil pemungutan suara 10 banding 2. Dua gubernur, Christopher Waller dan Stephen Miran, menyatakan perbedaan pendapat dengan mendukung pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Baca Juga
- Jadwal Rapat FOMC The Fed 2026, Acuan Pasar Keuangan dan Arah Dolar AS
- Louis James dan Marc Sumerlin Masuk Kandidat Ketua The Fed Pengganti Powell
- Jadwal dan Peran Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia 2026
Ketua The Fed Jerome Powell menilai terdapat “perbaikan yang jelas” dalam prospek perekonomian ke depan dan menegaskan pasar tenaga kerja menunjukkan tanda-tanda stabilisasi, meski masih terdapat indikasi pendinginan. Powell juga menolak memberikan sinyal waktu kapan pemangkasan suku bunga berikutnya dapat dilakukan.
Sejumlah pelaku pasar menilai sikap The Fed mencerminkan pendekatan “tunggu dan lihat” di tengah data ekonomi yang masih solid dan inflasi yang dinilai belum sepenuhnya jinak. Dengan kondisi tersebut, ekspektasi pemangkasan suku bunga dinilai bergeser ke paruh akhir tahun, sementara kebijakan moneter jangka pendek diperkirakan tetap ketat.
“Pesan dari The Fed tetap sama, suku bunga yang lebih rendah mungkin akan segera datang [setelah Powell lengser], tetapi investor harus tetap bersabar,” kata Ellen Zentner dari Morgan Stanley Wealth Management.
Dia mengungkap, dengan tanda-tanda stabilisasi di pasar tenaga kerja dan inflasi yang tetap stabil, The Fed berada dalam posisi untuk memainkan strategi tunggu dan lihat.
Di sisi lain, pernyataan pemerintah AS mengenai dukungan terhadap dolar kuat turut meredakan kekhawatiran pasar valuta asing setelah sebelumnya muncul volatilitas akibat komentar Presiden AS Donald Trump terkait pelemahan dolar. Meski menguat pada perdagangan terakhir, dolar AS masih tercatat melemah sekitar 1 persen secara mingguan.
Ke depan, perhatian investor diperkirakan akan beralih pada kinerja laba perusahaan, khususnya sektor teknologi, serta perkembangan data ekonomi lanjutan yang akan menjadi penentu arah kebijakan moneter The Fed berikutnya.





