PT Bank Central Asia Tbk atau BCA (BBCA) berencana melakukan pembelian saham kembali atau buyback. Emiten perbankan swasta ini akan mengeluarkan dana maksimal Rp 5 triliun untuk mengeksekusi aksi korporasi itu.
Manajemen BBCA menjelaskan, jumlah saham yang dibeli kembali oleh perseroan tidak akan melebihi 10% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan. Selain itu, jumlah porsi saham publik atau free float BBCA setelah buyback, tidak akan kurang dari 7,5% dari modal ditempatkan dan disetor penuh.
“Perseroan bermaksud melaksanakan buyback dalam rangka mendukung stabilitas pasar modal Indonesia pada 2026, meningkatkan kepercayaan investor, serta memberikan tingkat pengembalian yang lebih optimal bagi para pemegang saham,” kata manajemen BBCA dalam keterbukaan informasi BEI, dikutip Kamis (29/1).
Aksi korporasi itu akan dibahas oleh para pemegang saham BBCA dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada 12 Maret. Langkah ini akan dilaksanakan setelah memperoleh restu dari RUPST hingga 12 bulan setelah rencana disetujui, kecuali diakhiri lebih cepat oleh perseroan dengan memperhatikan ketentuan.
Buyback akan dilakukan di BEI melalui pasar reguler dan hanya digelar melalui PT BCA Sekuritas.
Dalam pelaksanaan buyback, BBCA akan menggunakan dana internal dan bukan berasal dari pinjaman atau dana hasil penawaran umum. Hasil pembelian kembali saham ini akan dicatat sebagai saham tresuri yang menjadi pengurang ekuitas perseroan.
"Kegiatan usaha perseroan dalam bidang perbankan menghasilkan laba dan arus kas yang baik," kata manajemen.
Perseroan yakin bahwa pelaksanaan buyback tidak memiliki dampak material terhadap kegiatan usaha perseroan, kinerja keuangan, posisi permodalan dan likuiditas. Perseroan memiliki posisi likuiditas dan arus kas yang memadai untuk menjalankan kegiatan operasional perseroan.
Mengacu pada laporan keuangan Desember 2025, BBCA mencatatkan laba bersih tahun berjalan yang diatribusikan untuk pemilik Rp 57,5 triliun. Hal ini ditopang oleh pendapatan bunga bersih yang masih naik.
Bank dengan nilai kapitalisasi pasar terbesar di BEI itu mencatatkan pendapatan bunga bersih Rp 85,8 triliun atau naik 4,0% secara tahunan alias yoy. Selain itu, beban operasional turun 7,7% menjadi Rp 14,3 triliun.



