PT Darma Henwa Tbk (DEWA) membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk Rp 239,14 miliar per 30 September 2025. Angkanya naik 519,28% year on year (yoy) dibandingkan periode yang sama pada 2024 senilai Rp 38,61 miliar.
Merujuk laporan keuangan hingga kuartal ketiga 2025, DEWA mencatatkan kenaikan pendapatan 2,80% menjadi Rp 4,65 triliun. Penghasilan dari bisnis usaha yang berelasi dengan PT Kaltim Prima Coal dan PT Arutmin Indonesia mencapai Rp 4,44 triliun.
Sementara itu, perseroan tidak mendapatkan penghasilan dalam kontrak bersama PT Batuta Chemical Industrial Park untuk periode tersebut. Sedangkan pendapatan dari pihak ketiga Rp 204,44 miliar.
Meski mengalami pertumbuhan pendapatan, beban pokok pendapatan perseroan justru turun dari Rp 4,19 triliun menjadi Rp 3,97 triliun. Laba bruto perseroan naik dari Rp 325,75 miliar menjadi Rp 673,15 miliar.
Laba bersih DEWA melejit signifikan karena adanya pengurangan dari pos beban pajak, dari Rp 16,26 miliar menjadi Rp 2,95 miliar dan pos kerugian selisih kurs dari Rp 25,96 miliar menjadi Rp 2,96 miliar.
Setelah dikurangi dengan beban-beban yang ada, maka laba bersih perseroan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk menjadi Rp 239,14 miliar.
DEWA Perpanjang Kontrak Jumbo Rp 10,5 Triliun dengan ArutminDEWA telah mengamankan kontrak jumbo usai memperpanjang kerja sama jasa pertambangan dengan anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Arutmin Indonesia (Arutmin) senilai Rp 10,5 triliun.
Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan Darma Henwa Mukson Arif Rosvid mengatakan, perpanjangan kontrak ini dilakukan untuk Proyek Pertambangan Asam Asam dan Kintap yang berlokasi di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Penandatanganan perjanjian diteken pada 19 Januari.
Mukson mengatakan, perpanjangan kontrak juga mencakup estimasi volume overburden 252 juta bcm dan produksi batu bara sekitar 50 juta ton. Jangka waktu kerja sama berlaku sepanjang umur tambang (life of mine).
Sebelumnya, rata-rata volume produksi per tahun di Proyek Asam Asam tercatat 17,3 juta bank cubic meter (bcm) untuk overburden dan 3,8 juta ton batu bara. Sementara itu, pada Proyek Kintap, rata-rata volume produksi per tahun mencapai 25,3 juta bcm untuk overburden dan 3,8 juta ton batu bara.
“Penandatanganan perjanjian perpanjangan Kontrak life of mine memberikan kepastian jangka panjang atas kegiatan operasional perseroan serta berdampak positif terhadap kinerja dan kondisi keuangan perusahaan,” ujar Mukson dalam keterbukaan informasi BEI, Senin (19/1).




