Saham tersebut sebelumnya akan diambil alih dari Rizet Ramawi, pemegang saham pengendali perseroan.
IDXChannel - Perusahaan asal Singapura, Saiko Consultancy Pte Ltd membatalkan rencana akuisisi 27,83 persen saham PT Soraya Berjaya Indonesia Tbk (SPRE).
Saham tersebut sebelumnya akan diambil alih dari Rizet Ramawi, pemegang saham pengendali perseroan.
Pembatalan ini dilakukan seiring dengan komitmen Rizet Ramawi untuk tetap mempertahankan statusnya sebagai pengendali sekaligus pemilik manfaat (beneficial owner) SPRE, sebagaimana tertuang dalam surat komitmen yang telah disampaikan sebelumnya.
Seiring perkembangan negosiasi yang berlangsung, Saiko Consultancy selaku calon pengendali baru masih melakukan diskusi terkait kemungkinan struktur transaksi alternatif yang dapat ditempuh ke depan.
“Rencana pengambilalihan atas Perseroan oleh Saiko Consultancy Pte Ltd menjadi batal. Kami akan menginformasikan apabila terdapat perkembangan lebih lanjut terkait rencana pengambilalihan atas Perseroan,” tulis manajemen Saiko Consultancy dalam keterbukaan informasi, Kamis (29/1/2026).
Sebelumnya, Direktur Saiko Consultancy Mark Leong Kei Wei menjelaskan rencana akuisisi SPRE ditujukan untuk mendukung strategi pengembangan usaha dan memperluas kegiatan bisnis perseroan, sekaligus menjadi bagian dari rencana ekspansi Saiko Consultancy ke depan.
“Tujuan dilaksanakannya rencana pengambilalihan ini adalah untuk menunjang strategi pengembangan usaha serta memperluas kegiatan bisnis pembeli,” ujar Mark dalam keterbukaan informasi, Senin (19/1/2026).
Berdasarkan data kepemilikan saham per 30 September 2025, struktur pemegang saham SPRE terdiri atas Rizet Ramawi sebesar 27,83 persen, PT Galaksi Investama Corpora 17,50 persen, Ridho Ferman Shatrio 14,18 persen, Dwi Ristra Utami 7,18 persen, serta kepemilikan publik sekitar 30 persen.
Di sisi lain, saham SPRE saat ini tengah dibekukan sementara sejak 20 Januari 2026 menyusul lonjakan harga yang signifikan dalam waktu singkat.
Saham produsen sprei merek Soraya tersebut mencatatkan auto reject atas (ARA) selama lima hari beruntun, dengan akumulasi kenaikan mencapai 67,92 persen dalam satu bulan terakhir.
(DESI ANGRIANI)


