MAROS, FAJAR — Penyakit hewan yang menular masih ditemukan. Terutama Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan rabies.
Balai Besar Veteriner (BBVet) Maros menemukan sejumlah penyakit hewan itu sepanjang 2025. Mereka menguji sejumlah sampel di seluruh wilayah tugas BBVet Maros. Wilayah kerja mereka sendiri meliputi delapan provinsi dan 102 kabupaten/kota.
“Penyakit-penyakit yang kami temukan di sini kami kategorikan penyakit yang keekonomian dan yang mengancam kesehatan manusia (zoonosis),” ungkap BBVet Maros, drh Agustia saat ditemui Rabu, 28 Januari 2026.
Untuk PMK sepanjang 2025, BBVet menemukan 697 kasus positif. Angka itu meningkat jika dibanding 2024 yang tercatat 55 kasus positif.
Penyakit hewan lainnya yang juga ditemukan, yakni jembrana dan rabies. Kasus penyakit jembrana menurun jika dibanding 2024 yang saat itu mencapai 25 enam kasus.
Rabies juga masih ditemukan di beberapa daerah. Meski begitu, jika dibandingkan 2024 yang angkanya mencapai 121 kasus, pada 2025 menjadi 69 kasus. Dominan di Toraja Utara dan Tana Toraja.
“Mungkin karena populasinya masih banyak di sana,” jelas Agustia.
Baik PMK, maupun Rabies, dinas setempat sudah melakukan tindakan lanjutan dari hasil pengujian BBVet Maros. Baik melalui vaksinasi maupun pemberian obat-obatan. Tren penurunan ini terjadi karena tim kesehatan hewan kabupaten/kota cepat menindaklanjuti rekomendasi teknis daru BBVet.
“Contohnya pada PMK, kami merekomendasikan penyuntikan obat pada sapi yang sakit dan vaksinasi pada sapi yang sehat. Jadi langkah tersebut terbukti menurunkan kasus, “ungkapnya.
Untuk sebaran wilayah ternak sapi, dominannya masih di Sulawesi Selatan, khususnya di Bone. “Untuk avian influenza, sebarannya merata di Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara,” sebutnya.
?
Sepanjang 2025, BBVet Maros mencatat telah melakukan pengujian terhadap 101.834 sampel hewan. Pengujian untuk memperkuat pengendalian penyakit hewan serta menjamin keamanan produk hewan di wilayah Indonesia timur.
Mereka didukung 107 personel, termasuk 26 dokter hewan, yang bekerja melalui fungsi pengujian laboratorium, surveilans, investigasi, serta pendampingan teknis di daerah.
Dari jumlah tersebut, 48.834 sampel merupakan sampel aktif dan 53.000 sampel pasif. “Sampel aktif ini berupa kita yang mengunjungi hewannya. Kalau yang pasif pemilik hewan yang membawa hewannya ke tempat kami,” pungkasnya. (rin/zuk)





