Bagaimana Rencana MRT Jakarta Perluas Jangkauan?

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita
Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel berikut?
  1. Bagaimana ekspansi MRT Jakarta dirancang untuk memperluas akses transportasi publik warga?
  2. Mengapa pengembangan kawasan TOD penting dalam meningkatkan akses MRT bagi warga?
  3. Bagaimana pedestrian deck Dukuh Atas meningkatkan akses antarmoda MRT?
  4. Bagaimana perluasan MRT ke Bekasi berdampak pada akses warga Jabodetabek?
  5. Bagaimana keterbatasan anggaran memengaruhi rencana aksesibilitas MRT Jakarta?
1. Bagaimana ekspansi MRT Jakarta dirancang untuk memperluas akses transportasi publik warga?

Ekspansi MRT Jakarta dirancang melalui dua jalur utama, yakni perluasan rute dan penguatan integrasi antarmoda. Tahun 2026 menjadi titik penting dengan dimulainya proyek lintas timur-barat yang menghubungkan Tomang dengan Medan Satria, Bekasi.

Rute ini memperluas jangkauan MRT ke wilayah penyangga yang selama ini bergantung pada kendaraan pribadi. Dengan panjang sekitar 24,5 kilometer, MRT diharapkan memangkas waktu tempuh komuter dari timur Jakarta dan Bekasi ke pusat kota.

Selain rute baru, MRT juga memperkuat konektivitas melalui pembangunan fasilitas pejalan kaki dan simpul transit. Integrasi fisik menjadi kunci agar warga mudah berpindah moda tanpa hambatan jarak ataupun waktu.

Pendekatan ini menempatkan MRT bukan sekadar sarana angkut, melainkan tulang punggung mobilitas harian yang inklusif dan mudah diakses oleh lebih banyak lapisan warga.

Baca JugaEkspansi MRT Jakarta, Tata Lima Kawasan hingga Siapkan Rute Baru
2. Mengapa pengembangan kawasan TOD penting dalam meningkatkan akses MRT bagi warga?

Transit oriented development (TOD) menjadi strategi utama MRT Jakarta untuk mendekatkan transportasi publik dengan aktivitas warga. Pembangunan berorientasi transit dirancang dalam radius 800 meter dari stasiun agar perjalanan bisa dilanjutkan dengan berjalan kaki.

Di kawasan seperti Dukuh Atas, Blok M, dan Kota Tua, TOD diarahkan untuk membuka konektivitas timur-barat, mengurangi kebutuhan memutar, dan memangkas ketergantungan pada kendaraan pribadi.

Fasilitas seperti pedestrian deck, concourse tambahan, dan jalur ramah pejalan kaki memungkinkan warga lansia, anak-anak, dan penyandang disabilitas mengakses MRT dengan lebih aman dan nyaman.

Dengan TOD, aksesibilitas tidak hanya soal jarak, tetapi juga kualitas ruang kota yang mendukung pergerakan manusia, bukan kendaraan semata.

Baca JugaWajah Stasiun MRT Harmoni Terinspirasi Desain Gedung Harmonie di Masa Lalu
3. Bagaimana ”pedestrian deck” Dukuh Atas meningkatkan akses antarmoda MRT?

Pedestrian deck Dukuh Atas dirancang sebagai penghubung fisik antarmoda yang selama ini terpisah. Struktur melingkar ini menghubungkan MRT, KRL, LRT Jabodebek, kereta bandara, dan Transjakarta dalam satu lintasan pejalan kaki.

Selama ini, pergantian moda di Dukuh Atas memerlukan berjalan memutar dan menyeberang jalan padat. Jembatan ini memangkas jarak tempuh pejalan kaki sekaligus meningkatkan keselamatan.

Desainnya menitikberatkan mobilitas orang, bukan kendaraan. Akses eskalator dan jalur lebar membuatnya inklusif bagi semua kelompok pengguna.

Dengan integrasi ini, Dukuh Atas diproyeksikan menjadi simpul transit paling efisien di Jakarta, mendorong warga beralih ke transportasi publik.

Baca JugaSubsidi Transjakarta, MRT, dan LRT Jakarta Turun, Tarif Belum Akan Dinaikkan
4. Bagaimana perluasan MRT ke Bekasi berdampak pada akses warga Jabodetabek?

Rencana MRT lintas timur-barat hingga Medan Satria, Bekasi, membuka akses langsung transportasi rel bagi warga Jabodetabek. Wilayah yang selama ini padat kendaraan pribadi mendapat alternatif mobilitas massal.

Akses ini mengurangi beban perjalanan harian menuju pusat Jakarta yang selama ini bergantung pada jalan tol. MRT menawarkan kepastian waktu tempuh dan kapasitas angkut lebih besar.

Ketersediaan depo dan pengadaan trainset disiapkan bersamaan agar layanan tetap optimal sejak awal operasi. Hal ini penting untuk menjaga keandalan layanan.

Dengan masuknya Bekasi ke jaringan MRT, aksesibilitas transportasi publik tidak lagi terpusat di Jakarta, tetapi menyebar lebih merata secara regional.

Baca JugaJembatan ”Donat” Dukuh Atas Dibangun Pertengahan 2026
5. Bagaimana keterbatasan anggaran memengaruhi rencana aksesibilitas MRT Jakarta?

Meski subsidi MRT Jakarta menurun pada 2026, pemerintah menegaskan tidak ada pengurangan standar layanan. Fokus diarahkan pada efisiensi operasional dan optimalisasi pendapatan nontiket.

Ekspansi MRT tetap berjalan karena dianggap bagian dari solusi kemacetan dan ketimpangan akses. Infrastruktur yang sudah dibangun dinilai memberi manfaat jangka panjang bagi warga.

Kebijakan tarif juga dipertahankan agar akses tetap terjangkau, terutama bagi kelompok rentan yang mengandalkan transportasi publik untuk aktivitas harian.

Dengan strategi ini, keterbatasan anggaran tidak menghentikan ekspansi akses MRT, tetapi mendorong pengelolaan yang lebih cermat dan berorientasi manfaat publik.

Baca JugaSambut 2026, Jakarta ”Bergelut” dengan Susutnya Anggaran dan Masalah Lama

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Lawan Persis Solo, Persib Bandung Tidak Akan Mainkan Layvin Kurzawa
• 9 jam lalugenpi.co
thumb
Bansos PKH-BPNT 2026 Tahap 1 Cair Februari untuk 18 Juta Penerima, Ini Cara Cek Apakah Kamu Termasuk
• 8 jam lalukompas.tv
thumb
KPK Geledah Kantor Dinas Pendidikan Madiun, Sita Uang hingga Dokumen
• 1 jam lalukompas.com
thumb
Women Go To Community: One Skate Asia Rayakan 2 Tahun Komunitas Roller Skate
• 3 jam lalugrid.id
thumb
Menguak Fenomena Poligami Kerja: Ketika Karyawan Punya Lebih dari Satu Pekerjaan, Lagi Marak di Inggris!
• 22 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.