Bisnis.com, BATAM — Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepulauan Riau mencatat kinerja perekonomian daerah yang terus menguat dan melampaui rata-rata nasional sepanjang 2025.
Deputi Kepala Perwakilan BI Kepri, Ardhienus, menyampaikan bahwa pada triwulan III 2025, ekonomi Kepulauan Riau tumbuh sebesar 7,44 persen secara kuartalan (q-to-q). Secara kumulatif (c-to-c), pertumbuhan ekonomi Kepri mencapai 6,60 persen, tertinggi di wilayah Sumatera.
“Struktur pertumbuhan ekonomi Kepri berbeda dengan nasional. Jika nasional lebih didorong konsumsi rumah tangga, maka Kepri ditopang kuat oleh investasi, kemudian diikuti konsumsi,” ujar Ardhienus.
Dia menjelaskan, sektor utama penopang ekonomi Kepri masih berasal dari industri pengolahan, pertambangan, konstruksi, dan perdagangan. Namun demikian, BI mendorong diversifikasi ekonomi guna mengurangi ketergantungan terhadap sektor ekstraktif.
Untuk prospek 2026, BI menyiapkan tiga sektor baru sebagai penopang pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan, yakni pariwisata, industri kreatif, dan ekonomi digital.
Di sektor pariwisata, Kepulauan Riau telah ditetapkan sebagai destinasi pariwisata regeneratif oleh Kementerian Pariwisata. Konsep ini tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pemulihan lingkungan dan pelestarian budaya lokal.
Sementara itu, industri kreatif menjadi salah satu prioritas nasional dalam peta jalan Indonesia Emas 2045. Adapun sektor ekonomi digital diproyeksikan tumbuh pesat seiring meningkatnya kebutuhan infrastruktur data center dan layanan digital di wilayah Kepri.
Ardhienus juga menyoroti peran strategis UMKM sebagai penggerak ekonomi daerah, khususnya di sektor kriya, fesyen, dan kuliner. BI terus mendorong penguatan UMKM melalui pelatihan, fasilitasi pembiayaan, business matching, serta promosi perdagangan hingga ke pasar ekspor.
Namun, ia mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu diatasi, antara lain keterbatasan akses pembiayaan formal, kapasitas sumber daya manusia, serta rendahnya literasi digital dan akses pasar.
Di tengah pertumbuhan ekonomi yang tinggi, Kepri juga berhasil menjaga stabilitas harga. Inflasi tercatat sebesar 3,47 persen (year-on-year), masih berada dalam kisaran sasaran nasional 2,5 persen ± 1 persen.
“Stabilitas inflasi ini ditopang oleh penguatan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan melalui strategi keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, ketersediaan pasokan, dan komunikasi yang efektif,” kata Ardhienus.
Dia menegaskan, sinergi kebijakan moneter, fiskal, dan pengendalian inflasi daerah menjadi kunci dalam menjaga daya beli masyarakat sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi Kepri yang berkelanjutan menuju 2026.




