Saat Media Sosial Jadi Alarm Bahaya Abrasi di Pulau Terluar Pangkep

harianfajar
3 jam lalu
Cover Berita

Laporan: Sakinah Fitrianti

HARIAN FAJAR, PANGKEP – Di tengah abrasi dan banjir rob yang kian menggerus pulau-pulau terluar Kabupaten Pangkep, media sosial menjelma menjadi sirene bahaya bagi warga.

Setiap air laut pasang masuk ke rumah dan jalan, warga Pulau Kalukuang, Lamputang hingga Pulau Sapuka mengunggah kondisi tersebut ke Facebook dan grup WhatsApp.

Berharap suara mereka terdengar lebih cepat oleh pemerintah sebelum daratan benar-benar hilang.

Warga Pulau Sapuka, Kecamatan Liukang Tangaya, M. Ramlan, mengatakan, banjir rob yang disertai angin kencang kembali mengancam keselamatan warganya. Air laut bahkan masuk hingga ke bagian tengah daratan pulau dan menggenangi area permukiman.

“Ketinggian air saat banjir rob bisa mencapai sekitar 15 sentimeter. Setiap tahun memang selalu diterjang banjir rob, tetapi tahun ini areanya semakin meluas sampai ke tengah daratan pulau,” ujarnya.

Menurut Ramlan, kondisi tersebut diperparah oleh belum maksimalnya pembangunan tanggul penahan ombak. Hingga kini, tanggul belum mengelilingi seluruh Pulau Sapuka, sehingga air laut dengan mudah menerjang permukiman, terutama saat pasang tinggi disertai angin kencang.

“Perlu ada pembangunan tanggul yang lebih baik dan penanganan lanjutan dari pemerintah, karena area banjir rob tiap tahun terus meluas,” katanya.

Selain banjir rob, cuaca ekstrem berupa angin kencang dan hujan juga memperburuk situasi. Kondisi ini tidak hanya mengganggu aktivitas harian warga, tetapi juga berpotensi memutus jalur transportasi laut satu-satunya akses keluar masuk pulau.

Ia juga mengungkapkan bahwa setiap kali banjir rob terjadi, warga hampir selalu memposting kondisi tersebut di media sosial, khususnya Facebook, sebagai upaya agar pemerintah segera merespons.

“Setiap kejadian banjir rob, kami posting di Facebook dan juga di grup WhatsApp kecamatan. Pemerintah sebenarnya tahu kondisi ini, tapi tidak memprioritaskan. Buktinya, tahun ini justru fokus ke jalan. Padahal, tanggul ini mendesak,” jelasnya.

Menurutnya, media sosial menjadi saluran utama warga untuk menyuarakan keluhan karena dinilai lebih cepat menarik perhatian. Bahkan, ia menilai penanganan baru dilakukan setelah persoalan tersebut viral atau diberitakan oleh media.

“Kalau sudah ada di media sosial, barulah ada tindak lanjut. Padahal kejadian seperti ini bukan sekali dua kali,” paparnya.

Ramlan menambahkan, banjir rob yang dipicu abrasi pantai semakin parah karena minimnya tanggul penahan ombak yang masih layak. Meski sempat ada pembangunan tanggul sebelumnya, ia menilai upaya tersebut belum berkelanjutan.

“Alhamdulillah kemarin sempat ada pembangunan tanggul, tapi belakangan ini fokusnya lagi ke pembangunan jalan paving blok. Sementara abrasi dan banjir rob terus terjadi,” ungkapnya.

Warga berharap pemerintah tidak lagi menunggu persoalan menjadi viral sebelum bertindak. Mereka meminta penanganan banjir rob dan pembangunan tanggul dijadikan prioritas, mengingat dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat pesisir.

“Kami ingin pemerintah hadir sebelum kondisi makin parah, bukan setelah ramai di media sosial,” tegasnya.

Di wilayah lain pun terjadi hal serupa. Dalam setahun terakhir, abrasi di Pulau Kalukuang, Kecamatan Liukang Kalmas mencapai sekitar empat meter. Air laut tak lagi berhenti di garis pantai.

“Parahnya lagi, air sudah masuk. Kalau pasang, naik sampai ke rumah dan ke jalan,” ujar Nurdalia.

Ia masih mengingat jelas, bagaimana dulu laut terasa jauh dari rumah. Kini, setiap pasang air membawa ketakutan baru, bahwa pulau ini perlahan sedang tenggelam. Jejak abrasi tampak jelas di sepanjang pesisir.

“Pepohonan kelapa yang dulu berdiri kokoh di tepi pantai kini satu per satu tumbang. Sekitar empat meter tanah yang terkikis setiap tahunnya karena abrasi,” tuturnya.

Akar-akarnya pun terlihat menjuntai, kehilangan tanah tempat berpijak. Sebagian pohon rebah ke laut. Sebagian lainnya justru jatuh ke arah permukiman warga. Batang-batang kelapa yang tumbang itu tak hanya menjadi simbol daratan yang hilang, tetapi juga ancaman baru bagi keselamatan warga.

Terutama saat ombak besar datang tanpa adanya tanggul penahan. Kekhawatiran itu semakin terasa karena Pulau Kalukuang berada di wilayah yang terisolasi. Pulau ini terletak sekitar 36 jam perjalanan laut dari Ibu Kota Kabupaten Pangkep. Berbatasan langsung dengan perairan Kalimantan. Jarak dan keterbatasan akses membuat warga merasa berjuang sendiri menghadapi abrasi dan gelombang pasang yang kian ekstrem.

“Tanggul sangat mendesak. Kita juga sudah video kondisi di sini, agar ada tindak lanjut dari pemerintah,” harap Nurdalia.

“Dahulu jarak pantai dari rumah, jauh. Sekarang tersisa hanya lima meter saja,” curhatnya.

Situasi tak jauh berbeda terjadi di Pulau Lamputang, Kecamatan Liukang Tupabiring. Seorang warga yang enggan disebutkan namanya, HI, mengungkapkan bahwa pulaunya kerap dilanda banjir rob. Ironisnya, hingga kini belum memiliki tanggul penahan ombak.

“Di Pulau kami sering air laut naik ke daratan. Tidak ada tanggul. Sehingga, kalau banjir rob datang, air naik sampai ke tengah permukiman,” ungkap HI yang enggan dipublikasi nama jelasnya.

Dia beralasan, pihak berwenang di Lamputang dan kecamatan, enggan dikritik. Sehingga, warga yang mengadu atau bersuara ke media, kerap mendapat intimidasi.

Ia berharap pemerintah segera membangun tanggul secara merata untuk melindungi keselamatan warga dan mencegah kerusakan yang lebih luas.

Respons Pemkab
Kepala BPBD Kabupaten Pangkep, Akbar Yunus, mengakui masih banyak pulau di wilayah Pangkep yang belum memiliki tanggul atau pemecah gelombang.

“Iya, kita lihat di lapangan masih banyak yang belum memiliki break water. Ini sangat rawan karena air pasang bisa naik. Kita akan koordinasi dengan instansi terkait untuk pengusulan penahan ombak,” pungkasnya.

Di pulau-pulau terluar Pangkep, abrasi dan banjir rob bukan lagi sekadar ancaman musiman. Ia telah menjadi krisis yang menggerus daratan, menggoyahkan ekonomi warga, dan menanamkan ketakutan akan masa depan.

Ketika jarak rumah ke laut tinggal lima meter, pepohonan tumbang, dan air pasang terus naik tanpa perlindungan, warga hanya bisa berharap satu hal. Pulau mereka tidak benar-benar hilang sebelum bantuan datang.

“Yang kami harapkan pembangunan tanggul agar ada penahan dari air laut. Sehingga, ketika pasang, tidak langsung banjir ke permukiman,” harapnya. (*)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
BMKG Tegaskan Operasi Modifikasi Cuaca Bukan Pemicu Cuaca tak Stabil
• 8 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Arab Saudi Tak Izinkan Wilayah Udara dan Teritorialnya Digunakan untuk Serang Iran
• 17 menit laluokezone.com
thumb
Murka PDIP di Kasus Hogi Minaya Bikin Kapolres Sleman Minta Maaf Akui Salah Terapkan Pasal
• 1 jam lalusuara.com
thumb
Drama China Menunjukkan Realita Kehidupan
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
The Fed Tahan Suku Bunga, Pasar Global Bergejolak dan Dolar Menguat
• 10 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.