Drama China Menunjukkan Realita Kehidupan

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Di balik kemilau visual dan narasi romansa yang ditawarkan drama China (C-Drama), kini terselip potret realitas yang kelam. Layar kaca tidak lagi sekadar menjadi ruang eskapisme, melainkan cermin retak yang merekam keresahan generasi muda Tiongkok di tengah impian besar negaranya.

Fenomena ini menandai pergeseran narasi C-Drama yang kian vokal memotret tekanan ekonomi dan standar sosial yang menyesakkan.

Selama dekade terakhir, publik terbiasa melihat C-Drama yang memuja kesuksesan material dan kemewahan urban. Namun, belakangan muncul tren drama "realisme sosial" yang menangkap fenomena neijuan atau involusi sebuah kondisi di mana individu terjebak dalam kompetisi yang sangat melelahkan namun tidak menghasilkan kemajuan berarti.

Sebut saja drama seperti Remembrance of Things Past atau Will Love in Spring. Alih-alih menampilkan kehidupan perkantoran yang glamor, drama-drama ini justru menyoroti wajah lelah para pekerja muda di kota besar seperti Beijing atau Shanghai. Mereka digambarkan sebagai sekrup-sekrup kecil dalam mesin ekonomi raksasa yang harus berhadapan dengan budaya kerja "996" (bekerja dari jam 9 pagi hingga 9 malam, 6 hari seminggu).

Gugatan Terhadap Standar Sosial

Keresahan ini bukan tanpa dasar statistik. Dengan angka pengangguran kaum muda yang sempat mencapai rekor tertinggi di China, C-Drama mulai berani mempertanyakan narasi lama tentang "bekerja keras pasti sukses". Munculnya fenomena tang ping (berbaring datar) atau menolak kompetisi berlebihan, kini menjadi tema sentral. Karakter dalam drama tidak lagi ambisius mengejar posisi direktur, melainkan mereka yang memilih pulang ke kampung halaman atau sekadar mencari ketenangan mental.

Selain tekanan ekonomi, C-Drama juga merekam gugatan terhadap standar sosial yang kaku, terutama bagi perempuan. Tekanan untuk menikah sebelum usia 30 tahun dan tuntutan menjadi "perempuan sempurna" dalam karier sekaligus rumah tangga menjadi konflik utama. Melalui dialog-dialognya, para penulis skenario seolah sedang melakukan terapi massal bagi penontonnya yang merasakan beban serupa.

Relevansi dan Refleksi Global

Bagi penonton di Indonesia, fenomena dalam C-Drama ini terasa sangat relevan. Terdapat refleksi yang sama mengenai:

Pada akhirnya, popularitas C-Drama yang lebih realistis ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi dan ekonomi suatu bangsa menyisakan residu psikologis pada manusianya. Lewat layar, generasi muda China sedang berteriak bahwa mereka lelah, dan dunia lewat konten digital yang melintasi batas negara mulai mendengarkan kegelisahan tersebut.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Ahok Klaim Tak Ada Temuan BPK di Pertamina, Singgung Intervensi Menteri BUMN
• 16 jam lalugenpi.co
thumb
Dengan AS Masih Tegang, Perdana Menteri Inggris Bertolak Ke China Cairkan Hubungan Kenegaraan
• 14 jam lalukompas.tv
thumb
ITSEC Asia: HP Kini Jadi Pintu Masuk Utama Hacker Bobol Rekening Korban
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
Thailand Masters 2026: Persiapan Matang, Ana/Trias Lalui Babak Pertama
• 19 jam lalumedcom.id
thumb
Ada Masalah Rel, KRL Greenline Alami Gangguan Pagi Ini
• 18 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.