Pendidikan Indonesia dan Pelajaran Sunyi dari Lena Pillars

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Di sore hari yang lalu, saya menonton acara layar TV, mengenai menjelajah Sungai Lena. Momen menariknya—dalam acara TV itu—saat secara dekat diperlihatkan pilar-pilar di tepi sungai. Pillars of the Lena River di Siberia Timur—setelah menggali berbagai sumber bacaan—bukanlah keajaiban yang lahir secara instan.

Pilar Lena yang terbentuk melalui proses geologis yang amat panjang—yaitu sekitar 500-560 juta tahun—melibatkan pengendapan, pengangkatan tektonik, pelapukan, dan erosi yang berlangsung berlapis-lapis. Keindahan dan kekokohannya justru lahir dari kesabaran waktu dan konsistensi proses alam yang bekerja tanpa henti.

Proses panjang inilah yang menjadikan Lena Pillars relevan sebagai metafora bagi pendidikan. Pilar-pilar batu itu tidak dibentuk oleh kejutan sesaat, tetapi oleh mekanisme alam yang berjalan teratur dan berkesinambungan. Demikian pula pendidikan bermutu tidak pernah lahir dari kebijakan instan, tetapi dari proses panjang yang dirancang, dijalankan, dan dievaluasi secara konsisten.

Pada tahap awal, Lena Pillars terbentuk dari endapan sedimen di laut dangkal purba. Endapan ini tampak rapuh dan tidak mengesankan, tetapi justru menjadi fondasi bagi struktur megah yang muncul jauh di kemudian hari. Tanpa fondasi ini, tidak akan pernah ada pilar-pilar batu yang menjulang.

Dalam pendidikan Indonesia, fondasi ini setara dengan pendidikan dasar. Literasi, numerasi, karakter, dan kebiasaan belajar sering kali tidak langsung menghasilkan prestasi yang kasat mata. Namun, di sanalah kualitas jangka panjang peserta didik ditentukan. Fondasi yang kuat akan menopang seluruh proses pendidikan berikutnya.

Setelah fase pengendapan, terjadi pengangkatan tektonik yang mengubah dasar laut menjadi daratan. Proses ini pelan, nyaris tak terlihat dalam rentang waktu singkat, tetapi menentukan arah pembentukan lanskap. Tanpa pengangkatan ini, sedimen akan tetap terbenam dan tidak pernah terwujud sebagai pilar.

Dalam konteks pendidikan, pengangkatan tektonik dapat dianalogikan sebagai kebijakan dan tata kelola pendidikan. Kurikulum, pelatihan guru, sistem asesmen, serta kepemimpinan sekolah berperan mengangkat potensi dasar peserta didik agar berkembang secara nyata. Namun, perubahan kebijakan yang efektif menuntut kesinambungan, bukan pergantian arah yang terlalu sering.

Lena Pillars kemudian dibentuk oleh pelapukan dan erosi selama ratusan juta tahun, terutama melalui siklus beku-cair yang ekstrem. Proses ini tampak merusak, tetapi justru menjadi mekanisme seleksi alam yang menentukan bentuk akhir pilar-pilar tersebut.

Dalam pendidikan Indonesia, fase ini tecermin dalam berbagai tantangan nyata: keterbatasan sarana, ketimpangan akses, perubahan sosial, hingga tekanan teknologi dan kecerdasan buatan. Tidak semua kebijakan dan praktik pendidikan mampu bertahan menghadapi tantangan tersebut. Yang rapuh akan terkikis, sementara yang kokoh akan tetap berdiri.

Menariknya, tidak semua batuan mengalami erosi dengan kecepatan yang sama. Dalam proses alam yang panjang dan nyaris tak kasatmata ini, bagian-bagian batuan yang lebih keras, lebih padat, dan memiliki struktur internal yang kuat justru mampu bertahan dari gempuran angin, air, dan waktu. Bagian inilah yang kemudian tersisa, menonjol, dan membentuk pilar-pilar megah yang kini dikagumi manusia sebagai karya agung alam.

Fenomena erosi diferensial ini memperlihatkan bahwa daya tahan tidak ditentukan oleh seberapa cepat sesuatu terbentuk atau seberapa besar tekanan yang dihadapi, tetapi oleh kualitas material yang menyusunnya. Ketahanan lahir dari kekokohan struktur, bukan dari percepatan proses, dan alam dengan jujur menunjukkan bahwa yang bertahan adalah yang sungguh-sungguh dipersiapkan untuk bertahan.

Pesan reflektif ini memiliki relevansi kuat bagi pendidikan Indonesia. Peserta didik, guru, dan sekolah tumbuh dengan ritme, latar belakang, kapasitas, serta karakter yang berbeda-beda, sebagaimana batuan yang tersusun dari material yang tidak seragam. Oleh karena itu, sistem pendidikan yang adil bukanlah sistem yang memaksakan keseragaman capaian dalam waktu singkat atau menuntut hasil instan yang serba sama.

Pendidikan yang adil justru menjamin bahwa setiap proses pembelajaran berlangsung dengan standar mutu yang jelas, terukur, dan berkeadilan, sambil memberi ruang bagi perbedaan kecepatan dan cara bertumbuh.

Dengan pendekatan semacam ini, pendidikan tidak hanya mengejar hasil cepat, tetapi juga membangun ketahanan intelektual, moral, dan karakter yang memungkinkan peserta didik bertahan dan berkembang dalam jangka panjang.

Pada akhirnya, Lena Pillars diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO bukan semata karena keindahan, melainkan karena nilai ilmiah dan sejarah panjang yang dikandungnya. Pendidikan Indonesia pun idealnya menghasilkan output yang terukur—kompetensi, keterampilan, dan capaian akademik—serta outcome yang bermakna, seperti kemandirian berpikir, integritas moral, dan daya adaptasi.

Seperti Lena Pillars, pendidikan menuntut kesabaran, konsistensi, dan keberanian untuk setia pada proses. Pilar pendidikan yang kokoh tidak dibangun dalam satu rezim atau satu kurikulum, tetapi dibangun melalui dialog panjang antara kebijakan, praktik, budaya, dan waktu. Di sanalah letak kemuliaan pendidikan: bekerja pelan, tetapi meninggalkan jejak yang bertahan lama.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Foto: Melihat Penyu Hijau Bersirip Tiga di Kolam Rehabilitasi California
• 40 menit lalukumparan.com
thumb
Sungai Ciliwung Meluap, Banjir Rendam Jaktim Hingga 1,5 Meter
• 8 jam laluidntimes.com
thumb
Kepala BGN Bicara soal Pegawai SPPG dapat THR: Kalau ASN Sesuai Aturan Berlaku
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
PSI Dukung Polri Tetap Berada di Bawah Presiden, Bukan Jadi Kementerian
• 19 jam lalujpnn.com
thumb
Bantah Isu BUMN Rugi, Danantara Bidik Keuntungan Hingga Rp350 Triliun
• 22 jam lalumatamata.com
Berhasil disimpan.