Bisnis.com, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan segera memberlakukan ketentuan kepemilikan saham di publik atau free float sebesar 15%. Untuk emiten yang tidak dapat memenuhinya, akan diberikan exit policy berupa pengawasan.
Berdasarkan data BEI, IHSG anjlok 8% menjadi 7.654,66 pada pukul 09.30 WIB hari ini, Kamis (29/1/2026). Kapitalisasi di BEI kini tercatat Rp13,846,41 triliun.
Adapun, trading halt akibat koreksi harga besar-besaran di lantai bursa ini kelanjutan dari sentimen negatif usai penyedia indeks global MSCI mengumumkan pembekukuan rebalancing untuk saham asal Indonesia.
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengatakan pembuat kebijakan pasar modal akan segera memenuhi kriteria yang diminta oleh MSCI terkait dengan transparansi kepemilikan dan free float saham publik.
Salah satu kebijakan yang akan diberlakukan adalah menaikkan batas free float emiten menjadi 15%. Adapun, saat ini ketentuan free float untuk emiten di IHSG berada di level 7,5%.
"Bagi emiten yg tdk dapat memenuhinya, maka akan diberikan exit policy melalui pengawasan yang baik," kata Mahendra, Kamis (29/1/2026).
Adapun, langkah penangguhan oleh MSCI ini menjadi kemunduran terbaru bagi pasar saham Indonesia setelah penyusun indeks MSCI tersebut mengidentifikasi adanya masalah mendasar terkait kelayakan investasi.
MSCI juga menyebut masih ada kekhawatiran terhadap upaya terkoordinasi untuk mendistorsi harga untuk saham-saham asal Indonesia.
Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas menjelaskan IHSG melemah selama dua hari berturut-turut terseret sentimen dari panic selling, setelah MSCI Global Standard Indexes mengumumkan melakukan pembekuan sementara kenaikan bobot dan penambahan saham Indonesia dalam indeks global.
Apabila perbaikan transparansi tidak terealisasi hingga Mei 2026, Indonesia menghadapi dua risiko utama, yaitu pemangkasan bobot (weighting reduction) Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets, yang berpotensi memicu arus keluar dana asing lebih lanjut dan risiko yang lebih ekstrem berupa penurunan klasifikasi dari pasar berkembang (emerging market) menjadi frontier market.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.




