EtIndonesia. Tak seorang pun bisa mengendalikan peluang keberuntungan semu—paling tinggi hanya 50%. Namun 50% sisanya adalah wilayah yang bisa kita kendalikan sepenuhnya.
Seorang direktur utama sebuah perusahaan agen mobil mewah mengalami masalah kesehatan. Dia memutuskan untuk memilih satu dari dua manajer penjualan sebagai penerusnya. Keduanya dipanggil untuk mengikuti sebuah penilaian.
Setelah menjelaskan maksudnya, sang direktur memberi tugas sederhana untuk menentukan siapa yang paling layak menjadi penggantinya.
Dia berkata bahwa 50 unit mobil terbaru dari pabrik Jerman akan segera tiba di Taiwan. Kedua kandidat diberi waktu tiga bulan. Siapa yang menjual paling banyak, dialah direktur utama yang baru.
Namun ada satu catatan penting. Pabrik memberi tahu bahwa model ini memiliki satu komponen elektronik yang berpotensi cacat, dengan peluang terjadinya 50%. Cacat ini tidak memengaruhi keselamatan berkendara, sehingga pabrik tidak berencana melakukan penarikan (recall). Masalahnya, jika cacat itu benar-benar terjadi, suku cadang pengganti baru akan tiba tiga bulan kemudian.
Kedua kandidat sangat percaya diri. Berdasarkan catatan penjualan, masing-masing mampu menjual 30 unit dalam tiga bulan.
Hasil akhirnya sungguh mencolok. Saat periode tiga bulan berakhir, satu manajer berhasil menjual 49 unit, sementara yang satunya tidak menjual satu unit pun.
Direktur utama merasa heran. Dia meneliti laporan harian penjualan tiga bulan terakhir dan mendapati bahwa jumlah pengunjung dan test drive keduanya hampir sama, tetapi hasil penjualannya bertolak belakang.
Penasaran, sang direktur meminta seorang temannya menyamar sebagai pembeli dan mendatangi kedua kandidat.
Setelah mendapatkan penjelasan lengkap dan melakukan test drive, teman itu bertanya kepada manajer yang telah menjual 49 unit: “Kalau saya beli sekarang, kapan mobil bisa diserahkan?”
“Bisa langsung,” jawab manajer itu.
Teman sang direktur mengatakan akan memutuskan dalam dua hari.
Keesokan harinya, setelah test drive di tempat kandidat yang tidak menjual satu unit pun, dia bertanya pertanyaan yang sama.
“Kapan mobil bisa diserahkan?”
“Tiga bulan lagi,” jawab manajer itu.
“Mengapa selama itu?”
“Karena kuota saya sudah habis. Jika Bapak butuh cepat, saya bisa mengenalkan Bapak kepada rekan saya—dia masih punya satu unit terakhir.”
Mendengar laporan ini, direktur utama memanggil kandidat yang tidak menjual mobil itu dan bertanya mengapa dia mengalihkan pelanggan ke orang lain.
Direktur berkata: “Saya dengar, dari 49 unit yang terjual itu, 30 unit adalah pelanggan yang kamu rujuk. Mengapa kamu melakukannya?”
Manajer itu menjawab dengan tenang: “Sebagai karyawan, saya punya tanggung jawab untuk mendukung penjualan, jadi saya tidak bisa menghentikan penjualan 50 unit ini. Namun sebagai pribadi, saya tidak sanggup menjual mobil yang saya tahu berpotensi cacat, sementara suku cadangnya belum tersedia. Itu bertentangan dengan prinsip saya.
Karena itu, setiap kali merujuk pelanggan, saya menjelaskan potensi cacat tersebut secara jujur. Akibatnya, orang lain memang menjual lebih banyak dari saya.
Namun jika Bapak memilih dia sebagai direktur utama, itu berarti Bapak lebih mementingkan angka penjualan daripada integritas. Dari sudut pandang karier, saya pun merasa tidak cocok dengan budaya perusahaan seperti itu.”
Saat itu juga, manajer yang menjual 49 unit masuk ke ruangan dengan wajah cemas, membawa sebuah dokumen.
Itu adalah email dari pabrik Jerman: “25 unit suku cadang akan tertunda 30 hari lagi.
Dengan gelisah dia berkata : “Ditunda lagi 30 hari… banyak pelanggan saya minta pembatalan.”
“Berapa orang?” tanya direktur.
“25 orang,” jawabnya.
Dua puluh lima. Tepat setengah dari 50 unit—persis 50%. Keberuntungan semu yang tak bisa dihindari itu akhirnya datang juga: seluruh peluang 50% cacat benar-benar terjadi.
Kita semua tahu, jika sebuah koin dilempar seratus kali, peluang muncul angka atau gambar masing-masing 50%. Artinya, tak seorang pun bisa mengendalikan peluang keberuntungan semu, karena batasnya hanya 50%. Namun 50% sisanya adalah pilihan yang sepenuhnya berada di tangan kita.
Dalam kisah ini, manajer yang menjual mobil memilih berjudi pada 50% keberuntungan semu. Manajer yang tidak menjual mobil menolak berjudi pada peluang itu.
Jika kamu adalah pembeli mobil, kamu akan membeli dari siapa? Dan jika kamu adalah pemilik perusahaan, siapa yang akan kamu pilih menjadi direktur utama?
Satu hal pasti: tak seorang pun ingin menjadi korban dari 50% keberuntungan semu.
Demikian pula dalam hidup. Berapa banyak tindakan kita selama ini yang dilakukan dengan bertaruh pada peluang 50%? Di masa depan, setengah dari tindakan itu pasti akan menimbulkan masalah.
Renungan / Hikmah Cerita
Artikel ini menulis tentang kehidupan—dan kehidupan pun menulis artikel ini. Kisah ini membuat banyak dari kami merenung, bahkan sulit merangkai kata untuk mengungkapkannya.
Namun satu hal sangat jelas: Apa yang tidak kita inginkan terjadi pada diri kita, janganlah kita lakukan kepada orang lain.
Tak seorang pun ingin mengeluarkan uang besar untuk membeli barang cacat. Ingatlah: siapa yang memperlakukan orang lain dengan sikap “coba-coba beruntung”, akan diperlakukan orang lain dengan sikap yang sama. (jhn/yn)





