Living Sufisme dan Sakralisasi Kearifan Lokal

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Tasawuf sering dipahami sebagai laku sunyi berupa zikir, wirid, dan disiplin batin yang berjarak dari hiruk-pikuk dunia. Padahal, sejarah dan denyut kehidupan Nusantara menunjukkan hal sebaliknya. Tasawuf justru menemukan maknanya ketika turun ke bumi, hadir di ruang-ruang hidup, berjumpa dengan budaya, dan menyapa realitas sosial. Inilah yang bisa kita sebut sebagai living sufisme yakni tasawuf yang hidup, membumi, dan relevan.

Penting ditegaskan sejak awal, living sufisme tidak dimaksudkan untuk menggantikan tasawuf klasik. Ia melengkapinya. Doktrin teologis memberi arah dan fondasi, sementara pengalaman empiris-kultural memberi napas dan wujud.

Teks suci dan karya para sufi besar tetap menjadi rujukan, tetapi maknanya dihidupi melalui praktik keseharian yang konkret di rumah, di kampung, di pasar, dan di ruang publik. Peralihan dari teks menuju realitas bukanlah pengingkaran, melainkan penjelmaan.

Nilai-nilai tasawuf seperti ikhlas, zuhud, sabar, mahabbah, dan ihsan tidak berhenti sebagai konsep, tetapi menjelma sebagai etika hidup. Ikhlas tampak dalam gotong royong tanpa pamrih. Zuhud hadir sebagai kesederhanaan di tengah konsumsi berlebih. Ihsan terwujud dalam kerja yang rapi, jujur, dan penuh tanggung jawab.

Di titik inilah kearifan lokal Indonesia menjadi medium spiritual yang kaya. Seni tradisi musik, tari, sastra lisan bukan sekadar hiburan, melainkan sarana penghalusan rasa dan zikir kolektif. Adat istiadat mengajarkan etika relasi, cara menghormati yang tua, merawat yang lemah, dan menyelesaikan konflik dengan musyawarah. Budaya kuliner menyimpan pelajaran syukur, kebersamaan, dan kesadaran atas anugerah alam. Kerajinan tangan mengajarkan ketekunan, kesabaran, dan cinta pada proses nilai-nilai inti tasawuf yang sering terlupakan.

Indonesia, dengan keragaman tradisinya, sejatinya adalah laboratorium tasawuf yang hidup. Di sini, spiritualitas tidak terasing dari budaya, dan agama tidak berhadap-hadapan dengan kearifan lokal. Justru melalui perjumpaan keduanya, lahir praktik keagamaan yang ramah, inklusif, dan berdaya. Tasawuf menjadi energi sosial, bukan pelarian dari kenyataan.

Pendekatan ini juga membantu kita keluar dari dikotomi palsu antara “agama murni” dan “budaya”. Yang terjadi bukan pencampuradukan tanpa batas, melainkan nilai ilahiah yang berinkarnasi dalam konteks lokal.

Ortodoksi bertemu kreativitas; kedalaman iman bertemu keindahan ekspresi. Dari sini lahir apa yang bisa disebut sebagai etika keindahan bahwa yang indah mendorong yang baik, dan yang baik layak dirayakan.

Lebih jauh, tasawuf yang hidup mendorong transformasi dari kesalehan individual menuju kesalehan komunal. Spirit fana’ pada ego dan baqa’ pada kemaslahatan menumbuhkan solidaritas sosial, ekonomi lokal yang berkeadilan, serta kepedulian pada lingkungan. Spiritualitas tidak lagi eksklusif, tetapi membebaskan dan memanusiakan.

Ke depan, pengembangan tasawuf yang hidup menuntut keberanian untuk berdialog lintas disiplin dan tradisi. Pendidikan keagamaan perlu lebih kontekstual dan partisipatif. Riset harus membuka ruang bagi suara budaya dan pengalaman umat. Kebijakan publik semestinya memandang kearifan lokal sebagai aset spiritual bangsa, bukan sekadar ornamen.

Pada akhirnya, living sufisme adalah ikhtiar menghidupkan kembali ruh tasawuf di tengah kehidupan modern. Ia mengingatkan kita bahwa jalan menuju Tuhan tidak selalu sunyi dan jauh; sering kali ia dekat, hangat, dan hadir dalam tradisi yang kita hidupi sehari-hari.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
PM Korasia Tegaskan Tak Akan Gabung Dewan Perdamaian Trump, Tunggu Uni Eropa
• 15 jam laludetik.com
thumb
Fakta Kasus Bela Istri Dari Jambret Jadi Tersangka, Kini Kapolres-Kajari Sleman Kompak Minta Maaf di DPR
• 18 jam lalunarasi.tv
thumb
Bareskrim Blokir 63 Rekening dan Sita Rp 4 Miliar di Kasus PT DSI
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Saham Intel Melonjak Jelang Rilis Laporan Keuangan, Sektor Semikonduktor Menguat
• 22 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Pembangunan Huntara di Aceh Dikebut, Targetnya Rampung Sebelum Ramadhan
• 22 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.