IDAI: di Indonesia, Virus Nipah Ditemukan di Kelelawar, Belum Ada pada Manusia

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Virus nipah saat ini sedang merebak di India dan ada sekitar 100 orang yang menjalani karantina mandiri di rumah untuk mencegah penyebaran kasus ini. Penemuan kasus ini menghebohkan dunia karena angka kematiannya tinggi, yakni sekitar 40-75%. Sebagai perbandingan, angka kematian akibat COVID-19 hanya sekitar 1%.

Namun kabar baiknya, menurut anggota UKK Infeksi Tropik IDAI, Prof. Dr. dr. Dominicus Husada, Sp.A (Subs IPT), kasus ini belum ditemukan pada manusia di Indonesia.

"Virus nipah di Indonesia belum pernah ditemukan pada orang, tapi pada kelelawar ada," kata Prof Domi dalam webinar IDAI, Kamis (29/1).

Virus nipah ini ditemukan pada kelelawar pemakan buah di Sumatera Utara dalam penelitian tahun 2023 yang telah dipublikasi oleh Kemenkes.

Sayangnya, hingga saat ini belum ada obat maupun vaksin untuk virus yang pertama kali muncul di Malaysia pada 1998 ini. Saat ini, menurut Prof Domi, di Inggris sedang ada uji coba vaksin nipah namun baru memasuki tahap 2 dan pengembangannya masih lama, minimal 3-5 tahun ke depan.

Gejala dan Cara Penularan Virus Nipah

Beberapa gejala yang sering muncul akibat penularan virus nipah seperti:

Kemudian diikuti:

Cara Penularan

- Virus nipah berasal dari kelelawar atau babi dan bisa ditularkan melalui urine, air liur, atau sekresi pernapasan.

- Konsumsi daging mentah dari hewan yang terinfeksi atau makanan mentah yang telah terkontaminasi dengan cairan tubuh hewan terinfeksi (seperti nira sawit atau buah yang terkontaminasi buah yang terinfeksi).

- Kontak dengan orang yang terinfeksi atau cairannya.

Prof Domi menyebut, masa inkubasi (waktu timbul gejala) umumnya 4-14 hari setelah terpapar virus nipah. Tapi ada juga kasus dengan masa inkubasi hingga 45 hari.

"Belum banyak data soal virus nipah karena jumlah kasusnya masih sedikit dan yang tertular juga kebanyakan meninggal," kata profesor dari Universitas Airlangga, Surabaya, ini.

Berdasarkan data yang sudah ada, virus nipah rata-rata menyerang manusia dengan rentang usia 17-27 tahun. Meski demikian, bisa juga menyerang bayi dan anak-anak atau lansia di atas 75 tahun.

Pencegahan yang Bisa Dilakukan

- Tidak mengkonsumsi nira/aren langsung dari pohonnya karena kelelawar dapat mengontaminasi sadapan nira/aren pada malam hari. Pastikan selalu dimasak terlebih dahulu sebelum dikonsumsi.

- Cuci dengan bersih dan kupas buah secara menyeluruh. Bisa juga dicuci dengan sabun khusus buah atau dengan air garam.

- Buang buah yang ada tanda gigitan kelelawar.

- Hindari kontak dengan hewan ternak (seperti babi dan kuda) yang kemungkinan terinfeksi nipah.

- Konsumsi daging ternak secara matang.

- Hewan yang terinfeksi virus nipah tidak boleh dikonsumsi.

- Terapkan pola hidup bersih sehat (PHBS) seperti mencuci tangan secara teratur dan menerapkan etika bersin.

"Kita nggak bisa menganggap remeh kelelawar, karena hewan ini banyak di Indonesia dan kita punya bukti bahwa kelelawar kita membawa penyakit ini. Tapi jangan juga panik berlebihan," tutur Prof Domi.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
NTB-NTT siap jadi ruan rumah PON 2028
• 13 jam laluantaranews.com
thumb
CEK FAKTA: Terpidana Korupsi Rahmat Effendi Bebas Bersyarat
• 17 jam laluidntimes.com
thumb
Agentic AI: Evolusi Kecerdasan Buatan dari sekadar Bicara Menjadi Bekerja
• 23 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Hogi Minaya Dijerat UU Lalu Lintas, Anggota DPR Tegaskan Kasus Penjambretan
• 10 jam lalukompas.com
thumb
Bedong Bisa Luruskan Kaki Bayi? Dokter Ortopedi: Itu Mitos!
• 18 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.