EtIndonesia. Di tengah upaya sebagian negara untuk mempererat hubungan dengan Partai Komunis Tiongkok (PKT), justru muncul fenomena yang berlawanan di dalam tubuh rezim itu sendiri. Semakin banyak pejabat tinggi PKT dilaporkan berusaha melarikan diri ke luar negeri, menyusul gelombang pembersihan internal yang disebut-sebut sebagai yang paling luas dan paling keras dalam beberapa dekade terakhir.
Pelarian Pejabat Tinggi: Sinyal Kepanikan di Puncak Kekuasaan
Pada 28 Januari 2026, pengusaha Tiongkok yang bermukim di Amerika Serikat, Hu Linrun, mengungkapkan informasi mengejutkan terkait situasi elite politik Beijing. Dalam pernyataannya, Hu menyebut bahwa seorang pejabat setingkat wakil menteri PKT telah berhasil melarikan diri ke luar negeri, meskipun identitas dan lokasi detailnya belum dapat dipublikasikan demi alasan keamanan.
Hu Linrun menegaskan bahwa kasus tersebut bukan peristiwa tunggal. Menurutnya, dalam beberapa waktu terakhir semakin banyak pejabat PKT yang memilih kabur, mengundurkan diri secara diam-diam, atau menarik diri dari sistem, karena menyadari besarnya risiko yang kini mengintai siapa pun yang masih berada di lingkaran kekuasaan.
Dia menilai bahwa pembersihan internal yang sedang berlangsung tidak lagi terbatas pada militer, melainkan telah menyasar seluruh sistem kekuasaan PKT, termasuk birokrasi partai, aparat keamanan, dan struktur organisasi inti.
“Ini bukan sekadar penindakan biasa. Ini adalah pembersihan menyeluruh, dan prosesnya akan sangat berdarah,” ujar Hu.
Lebih jauh, Hu juga mengungkap bahwa mantan Wakil Menteri Departemen Organisasi PKT—lembaga yang berperan penting dalam penunjukan dan promosi kader—dilaporkan telah berhasil melarikan diri ke luar negeri. Namun, hingga kini detail terkait jalur pelarian dan negara tujuan masih dirahasiakan.
Dampak Penangkapan Zhang Youxia: Efek Domino di Dalam Sistem
Fenomena ini muncul tak lama setelah penangkapan Zhang Youxia, Wakil Ketua Komisi Militer Pusat PKT, yang secara resmi diumumkan pada 24 Januari 2026. Penangkapan tokoh militer paling senior tersebut diyakini telah memicu efek domino, membuat para pejabat lain menyadari bahwa tak ada lagi zona aman di dalam sistem.
Sejumlah analis menilai, sejak saat itu, suasana internal PKT berubah drastis—dipenuhi ketakutan, kecurigaan, dan saling waspada.
Bocoran Terbaru: Penangkapan Massal dan Eksekusi Diam-diam
Pada 29 Januari 2026, aktivis dan pengamat Tiongkok Sheng Xue kembali mempublikasikan serangkaian bocoran yang diklaim berasal dari mantan perwira PKT. Informasi tersebut, jika benar, menggambarkan skala pembersihan yang jauh lebih ekstrem dari yang selama ini diketahui publik.
Beberapa poin utama bocoran tersebut antara lain:
- Seluruh ajudan dan pengasuh pribadi Zhang Youxia dan Liu Zhengli dilaporkan telah dibunuh, dengan jumlah korban lebih dari 50 orang. Tindakan ini disebut dilakukan untuk “membersihkan jejak” dan mencegah kebocoran informasi.
- Sekitar 200 orang ditangkap di Komando Wilayah Selatan, sementara Komando Wilayah Timur juga mengalami penangkapan besar-besaran terhadap perwira dan pejabat terkait.
- Aparat keamanan pribadi Xi Jinping meningkat drastis, dari sekitar 1.000 orang menjadi sekitar 12.500 orang, atau naik lebih dari empat kali lipat dalam waktu singkat.
- Xi Jinping disebut membentuk lembaga pengawasan silang yang menyerupai Dongchang dan Xichang—lembaga intelijen rahasia era kekaisaran Tiongkok—dengan jumlah anggota diperkirakan 200.000 hingga 350.000 orang.
- Struktur pengawasan baru ini berada langsung di bawah kendali Cai Qi, orang kepercayaan Xi sekaligus anggota lingkaran inti kekuasaan.
Dinamika Kekuasaan yang Kian Ekstrem
Jika informasi tersebut terbukti akurat, banyak pengamat menilai bahwa Xi Jinping telah memasuki fase kekuasaan yang semakin ekstrem dan tertutup, dengan tingkat paranoia politik yang sangat tinggi. Penguatan aparat keamanan, perluasan pengawasan internal, serta pembersihan tanpa pandang bulu menunjukkan bahwa rezim sedang menghadapi krisis kepercayaan dari dalam.
Dalam situasi ini, bukan hanya pejabat tinggi yang berada dalam bahaya, tetapi juga rakyat biasa, karena sistem pengawasan dan represi berpotensi diperluas ke seluruh lapisan masyarakat.
Kesimpulan: Harapan pada PKT dan Risiko yang Tak Pernah Hilang
Kesimpulan yang disampaikan oleh sejumlah pengamat sangat tegas:
Selama rakyat Tiongkok masih menggantungkan harapan pada PKT, keselamatan—baik politik maupun pribadi—tidak akan pernah benar-benar terjamin.
Gelombang pelarian pejabat, penangkapan massal, serta penguatan aparat keamanan menunjukkan bahwa krisis internal PKT kini telah memasuki fase yang lebih dalam dan berbahaya, dengan dampak jangka panjang yang masih sulit diprediksi—baik bagi stabilitas Tiongkok maupun kawasan internasional.





