Pantau - Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional menegaskan bahwa pemulihan pascabencana banjir di wilayah Sumatera harus memperhatikan aspek ketenagakerjaan agar tidak menimbulkan pemulihan semu.
Banjir yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga memutus mata pencaharian masyarakat terdampak.
Kelompok yang paling terdampak akibat banjir tersebut adalah pekerja informal, petani kecil, buruh harian, serta pekerja perempuan.
Dampak ekonomi banjir dinilai bersifat jangka panjang karena kerusakan lahan, terhentinya aktivitas perdagangan, dan hilangnya aset produktif masyarakat.
Kehilangan pekerjaan akibat bencana tidak hanya berdampak pada ekonomi rumah tangga, tetapi juga memengaruhi ketahanan keluarga, pendidikan, kesehatan, hingga meningkatkan risiko migrasi terpaksa.
Peneliti BRIN menilai pemulihan pascabencana yang tidak menyentuh aspek ketenagakerjaan hanya akan menghasilkan pemulihan yang bersifat semu.
Pembangunan kembali infrastruktur dinilai perlu dibarengi dengan upaya pemulihan lapangan kerja agar roda ekonomi masyarakat dapat kembali bergerak.
Bantuan berupa barang dan tunai dianggap penting pada fase awal tanggap darurat, namun dinilai tidak cukup untuk menjamin pemulihan berkelanjutan.
Skema pemulihan pascabencana dinilai harus mampu mengembalikan produktivitas penduduk terdampak secara nyata.
Pendekatan karya tunai atau cash for work dinilai efektif untuk menjaga konsumsi dasar rumah tangga masyarakat pascabencana.
Program karya tunai juga dinilai mampu membantu pemulihan aset publik, meningkatkan produktivitas, serta mencegah ketergantungan pada bantuan jangka panjang.
Pendekatan tersebut dianggap penting untuk memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat sekaligus menekan risiko sosial yang muncul setelah bencana.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5484508/original/089372800_1769436147-Wamenhaj_Dahnil_Anzar_Simanjuntak_di_Asrama_Haji_Pondok_Gede__Jakarta__26_Januari_2026.__dok_Media_Center_Haji_2026__2.jpg)
